Renungan Harian

Puncta 09.06.21 / Rabu Biasa X / Matius 5:17-19

 

Menggenapi, Bukan “Ganep-Ganep”

Ada pepatah mengatakan, “Timun wungkuk jaga imbuh.” Artinya timun yang buruk disiapkan untuk menggenapi timbangan supaya tepat ukuran.

Para pedagang di pasar biasa menyiapkan timun-timun yang bungkuk (buruk) untuk tambah-tambah jika timbangan belum seimbang.

Apakah menggenapi seperti itu yang dimaksud Yesus dalam kutipan Injil ini? Pasti bukan.

Pertama, Yesus tidak bisa disamakan dengan timun bungkuk. Kedatangan Yesus bukan sekedar “tambah-tambah” tetapi kedatangan-Nya untuk menyempurnakan Hukum Taurat.

Yesus berkata, “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Kita bisa bertanya, apa yang belum genap di dalam kitab Taurat? Kitab Taurat adalah kitab yang berisi perintah atau larangan-larangan bagi Bangsa Israel. Karena itu perintah, maka yang belum ada adalah pelaksanaannya. Yesus datang untuk melaksanakan dan mengajarkannya.

Misalnya, kepada pemuda kaya yang berkata, “Semuanya itu (Hukum Taurat) telah kuturuti, apa yang masih kurang?” Yesus menjawab, “Pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.”

Mengikuti Yesus adalah cara bagaimana Dia telah dengan sempurna melaksanakan hukum Taurat.

Dalam kisah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, Yesus bertanya kepada pemimpin Yahudi, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Menggenapi berarti melaksanakan hukum tertulis itu dengan perbuatan kasih. Yesus adalah hukum kasih Allah yang hidup. Dialah penggenapan hukum Taurat. Mari kita mengikuti Dia.

Orang marah matanya merah menyala.
Orang bahagia senyumnya mengembang dimana-mana.
Teladan adalah pelajaran hidup yang nyata.
Mari kita mengasihi dengan tindakan sesungguhnya.

Cawas, sehat dan semangat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 07.06.21 / Senin Biasa X / Matius 5: 1-12

 

“Gadis Kecil Yang Murah Hati”

HAILEY Ford gadis berusia 9 tahun telah membuat gerakan tanam sayur dan buah di kotanya. Ia juga membangun 11 rumah kayu untuk para tunawisma atau gelandangan. Awalnya ketika Hailey berusia 5 tahun diajak ibunya berbelanja. Ia merasa kasihan pada seorang tunawisma, Billy Ray, seorang veteran perang yang kehilangan satu kakinya. Sejak pertemuan itu, Hailey berteman baik dengan tunawisma dan tergerak menolongnya.

Orangtua Hailey tidaklah kaya. Agar bisa terus membantu para tunawisma, Hailey menanam buah dan sayuran di kebunnya. Hal ini diketahui para tetangga. Karena melihat gadis kecil yang tulus dan murah hati itu, mereka ikut mendukung dengan memanfaatkan lahan sempit di rumah mereka. Hasil kebun mereka bisa membantu para tunawisma. Ada kentang, kedelai, wortel, timun, brokoli, tomat dan lainnya.

Tidak itu saja, Hailey prihatin karena para gelandangan tidak punya tempat berteduh. Ia berpikir bagaimana membuat rumah kayu sederhana.

Gadis kecil itu pernah berkata, “Saya tidak bisa membantu semua orang, tetapi dengan cinta, kita bisa menolong sesama.” Gadis kecil yang tulus dan murah hati ini menginspirasi banyak orang untuk berbagi sekecil apa pun akan sangat membantu.

Sabda bahagia Yesus sungguh dihayati oleh orang-orang seperti Hailey Ford, gadis sederhana, tulus dan murah hati.

Hidupnya miskin tetapi hatinya sangat kaya, mau berbagi dengan sesama yang menderita. Kemurahan hatinya seperti mata air yang menyentuh banyak orang untuk ikut berbagi. Kejernihan hatinya memancarkan ketulusan untuk peduli.

“Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

“Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu yang di surga adalah murah hati.” Inilah perintah Yesus kepada kita semua. Mari kita alirkan kemurahan hati itu dengan tindakan-tindakan kecil yang bisa menyentuh banyak orang.

Sungai mengalir tiada hentinya.
Airnya jernih sebening kaca.
Kasih tidak pandang usia.
Kebaikan mengalir dimana saja.

Cawas, menatap hari depan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 06.06.21 / HR. Tubuh dan Darah Kristus / Markus 14: 12-16. 22-26

 

“Ekaristi Sebuah Kebutuhan”

APAKAH ini suatu kebetulan? Saya pikir bukan. Tuhan sudah mengatur semuanya. Minggu lalu, Hari Raya Tritunggal Mahakudus, kami peringati setahun ibu menghadap Bapa. Sehari kemudian, pada pesta Maria mengunjungi Elisabet, Bapak mengunjungi ibu di surga.

Hari ini, Perayaan Tubuh dan Darah Kristus, kami merayakan ekaristi keluarga untuk mendoakan tujuh hari bapak. Kami percaya bapak ikut perjamuan Tuhan di surga. Peringatannya ada di hari-hari istimewa.

Selama masa pandemi, bapak tidak bisa ikut perjamuan ekaristi karena usia lanjut. Bapak merasa sedih dan rindu untuk ikut ekaristi. Satu tahun lebih hanya ikut ibadat di kapel dan dikirim komuni.

“Ada yang kurang kalau tidak ikut ekaristi di gereja.” kata beliau. Ekaristi bagi bapak sudah merupakan kebutuhan.

Waktu mulai diperbolehkan ikut misa harian, bapak senang sekali. Tiap hari pergi ke gereja, walau jarak rumah dengan gereja cukup jauh. Tetapi bapak sangat gembira diperbolehkan aktif menyambut Tubuh Kristus. Sampai akhirnya beliau sakit dan tidak bisa ekaristi lagi. Beliau sudah diperkenankan Yesus ikut perjamuan di surga.

Hari ini adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tuhan sungguh mengasihi kita sampai Dia mengorbankan diri untuk menyelamatkan kita. Dia memberikan Tubuh-Nya menjadi makanan dan Darah-Nya menjadi minuman. Ekaristi adalah pemberian diri Allah kepada manusia.

Ekaristi adalah kesempatan bersyukur dan memuji Tuhan yang maha setia dan penuh kasih. Ekaristi juga pengenangan wafat dan kebangkitan Kristus. Karena wafat-Nya kita diselamatkan dan karena kebangkitan-Nya kita diangkat kembali kepada Bapa.

Kita menghidupkan kembali peristiwa korban Kristus dalam Ekaristi. Dari situ kita hidupkan kembali Yesus yang mengorbankan diri.

Di akhir Ekaristi kita diutus untuk berbagi, mewartakan kasih Tuhan kepada semua orang.

“Ite misa est”, Pergilah, kalian diutus. Karena Kristus telah membagikan hidup-Nya bagi kita, kita pun diutus membagikannya kepada sesama.

Kasih Tuhan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi kasih itu akan hidup kalau dibagikan. Jangan lupa setelah Ekaristi, anda diminta “like and share.”

Jangan hanya berhenti dan diam tak mau berbagi.

Ke warung membeli kopi.
Minum secangkir bikin hepi.
Rajin-rajinlah ikut Ekaristi.
Kasih Tuhan tidak akan berhenti.

Banyuaeng, makasih teladan bapak…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 05.06.21 / PW. St. Bonifacius, Uskup dan Martir / Markus 12: 38-44

 

“Bonum Facere”

HARI ini kita memperingati Santo Bonifacius, uskup dan martir. Orang sering bertanya, apalah artinya sebuah nama. Nama sangat bermakna, karena nama adalah identitas dan karakter diri seseorang.

Bonifacius berasal dari kata Bonum (baik) dan Facere (melakukan, mengerjakan). Bonifacius berarti seorang yang melakukan kebaikan, dermawan, baik hati kepada orang lain.

Sewaktu bertugas di Nanga Tayap, saya kenal dengan seorang bapak. Namanya Ignatius Redes. Walaupun baptisnya Ignatius tetapi kedermawanannya seperti Bonifacius.

Ia sering membawa persembahan ke pastoran berupa aneka hasil ladangnya. Kadang membawa pisang, ubi, rebung, labu, dan sayuran. Kalau pas dapat hasil buruan, dia membawa lauk ke pastoran.

Orangnya sederhana. Ia tidak kaya, dibanding orang-orang sekampungnya. Tetapi ketulusan dan kedermawanannya sungguh luar biasa.

Ia suka menolong tetangga-tetangga di kampungnya, Betenung. Kegiatan menggerejanya juga sangat aktif. Kapan pun diajak romo untuk ikut turne ke kampung-kampung, dengan senang hati di jalani dengan gembira.

Ia pernah berkata, “Saya ini tidak punya apa-apa Romo, hanya tenaga dan waktu yang bisa saya persembahkan kepada Tuhan.”

Dalam bacaan hari ini, Yesus memperingatkan kepada para ahli-ahli Taurat yang menipu umat dengan pameran kemunafikan. Mereka suka berjalan-jalan dengan pakain suci, suka dihormati. Mereka mengelabui orang dengan doa-doa berbuih-buih serta mencaplok kaum lemah seperti janda- dan yatim piatu.

Lalu Yesus menunjukkan contoh keteladanan seorang janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangannya. Orang-orang kaya memberi dari kelimpahannya. Mereka tidak merasa kekurangan.

Tetapi janda miskin itu memberikan segala miliknya. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Semuanya dipersembahkan kepada Tuhan. Seluruh nafkahnya diberikan untuk Tuhan.

Beranikah kita memberikan semuanya untuk Tuhan? Ataukah kita masih berhitung-hitung untung ruginya jika memberi persembahan?

Mari kita meneladan St. Bonifacius, yang senantiasa berbuat baik bagi Tuhan dalam diri sesamanya.

Mawar biru terlihat di taman.
Dipetik untuk hias altar gereja.
Jika kita mau mengasihi Tuhan,
Berbagilah kepada saudara yang menderita.

Banyuaeng, syukur atas cinta…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.06.21 / Jumat Biasa IX / Markus 12: 35-37

 

“Kakang Semar”

SEJAK awal babad pewayangan, Semar dan anak-anaknya yang sering disebut Punakawan selalu muncul. Pada zaman kakek nenek para Pandawa, Semar sudah bertugas mengabdi kepada para ksatria. Mulai zaman Prabu Nahusa, Yayati. Prabu Kuru. Kuru melahirkan Dusanta. Dusanto melahirkan Prabu Barata. Prabu Barata melahirkan Hasti. Hasti melahirkan Prabu Puru. Puru melahirkan Pratipa. Prabu Pratipa melahirkan Santanu dan Parasara. Dari mereka lahirlah Destrarastra dan Pandu. Destrarastra menurunkan Kurawa. Pandu menurunkan Pandawa.

Dari awal mula Semar selalu disebut Kakang Semar. Kakang itu berarti saudara tua. Itu tidak berarti bahwa Semar adalah kakak para ksatria. Tetapi Semar adalah pribadi penolong yang sangat dihormati.

Ia adalah penjelmaan Bathara Ismaya, dewa pamomong bagi umat manusia yang berkelakuan baik. Ia membimbing para ksatria untuk melakukan darma, amal kebaikan membela kebenaran dan keadilan.

Sebutan Kakang Semar adalah sebutan hormat penuh wibawa, bukan karena hubungan darah tetapi karena sejatinya Semar adalah Sang Hyang Ismaya, dewa penguasa bumi.

Maka sepanjang segala waktu dan generasi, Semar selalu disebut dengan istilah Kakang Semar.

Mesias dalam tradisi Yahudi dikaitkan dengan unsur politis. Maka orang Yahudi meyakini bahwa Mesias akan lahir dari keluarga Daud yang adalah raja Israel terbesar.

Maka para ahli Taurat menyebutkan bahwa Mesias adalah anak Daud. Berabad-abad selama masa pembuangan, Israel mengharapkan keturunan Daud sebagai pembebas bangsa yang terjajah.

Yesus mengoreksi paham mesianitas politis ini. Mesias bukan melulu membebaskan bangsa dari penjajahan, tetapi Mesias adalah Putera Allah yang akan membebaskan umat manusia dari penjajahan dosa mereka.

Maka Mesias itu lebih berkuasa daripada Daud, raja Israel. Bahkan Daud sendiri menyebut Mesias itu sebagai Tuanku. “Tuhan bersabda kepada Tuanku; Duduklah disisi kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu kutaruh di bawah kaki-Mu.”

Mesias lahir bukan hanya untuk satu bangsa, tetapi untuk seluruh bangsa manusia yang terbelenggu oleh dosa.

Ia akan datang untuk mengangkat manusia yang menderita karena dosa. Allah yang setia sejak awal mula selalu membimbing manusia yang jatuh dalam dosa.

Kita diselamatkan oleh Kristus Sang Mesias agar selamat kembali kepada Bapa, asal usul hidup kita. Marilah kita mengikuti Sang Mesias Yesus junjungan kita.

Pergi ke sawah memetik tomat.
Dibuat juice menjadi lima gelas.
Jika kita mau selamat dunia akherat,
Mari ikut jalan Yesus Sang Mesias.

Banyuaeng, semoga bahagia…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr