Puncta 09.05.21 / Minggu Paskah VI / Kasih Murni Quasimodo
VIKTOR HUGO adalah penulis dan sastrawan terkenal di Perancis. Namanya tertulis harum sebagai jalan utama di Paris sejajar dengan Champs Elysees yang terkenal. Banyak karya Viktor Hugo yang berpengaruh bagi kehidupan manusia. Misalnya tentang cinta kasih, keadilan sosial, kemiskinan dan derita, penindasan, demokrasi, romantisme.
Dalam novel “Les Miserables” sangat jelas bagaimana Viktor Hugo menggambarkan tentang belas kasih. Kasih tanpa pamrih diberikan Jean Valjean kepada orang miskin, pelacur. Bahkan dia mengampuni orang yang membencinya, Kolonel Javert.
Beda lagi cinta model Quasimodo kepada gadis cantik gipsy nan molek Esmeralda dalam karya “Si Bongkok dari Notre Dame.”
Cinta Si Bongkok ini murni. Kasih yang tanpa pamrih, hanya memberi, tak ingin memiliki. Ia hanya ingin membahagiakan Esmeralda walau tak mungkin memilikinya. Cukup puaslah jika ia bisa melihat senyum gadis yang dipujanya.
Yesus mengajarkan tentang kasih. Dasar kasih itu adalah Bapa yang telah mengasihi Anak-Nya. Begitu pula, Anak-Nya itu mengasihi kita tanpa pamrih. Maka Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Dasar tindakan kasih tidak ada yang lebih tinggi daripada kasih Yesus. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Kasih yang paling besar adalah kasih yang memberi.
Memberi itu ibarat matahari atau rembulan. `Matahari itu hanya memberikan sinar, terang dan panasnya. Begitu pula Bulan hanya memberi terang dan hangatnya bagi malam yang gelap.
Matahari dan Bulan tidak mengharap imbalan atau balasan. Ia mengasihi tanpa imbalan atau pamrih apa pun.
Apakah anda merasa dikasihi oleh Tuhan Yesus? Yesus tidak minta balasan apa-apa. Ia hanya berpesan pada kita, “Kasihilah seorang akan yang lain.”
Sebentar lagi Idul Fitri.
Untuk sementara tetap disini.
Mari kita mulai memberi.
Tanpa berharap kembali.
Cawas, sabar tidak ketemu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 08.05.21 / Sabtu Paskah V / Yohanes 15:18-21
Kebaikan yang Dilawan.
SUMANTRI adalah pemuda tampan, gagah dan ambisius. Ia ingin mengabdi pada Rajanya di Maespati. Segala persyaratan telah dipenuhi. Cuma ada satu syarat yang belum bisa dilakukan yakni memindahkan Taman Maerakaca dari Kahyangan ke Maespati. Ia sedih, bingung, takut gagal.
Adiknya, Sukrasrana berwajah buruk seperti raksasa, tetapi hatinya lembut, baik, lurus dan suka menolong. Ia sering disingkirkan oleh Sumantri karena malu mempunyai adik berwajah buruk.
Sukasrana ingin membantu kakaknya yang sedang bingung. Sukasrana bisa memindahkan Taman milik para dewa itu ke Maespati.
Ketika Dewi Setyawati, istri Raja sedang bercengkerama di taman bersama para dayang, ia kaget dan lari ketakutan melihat raksasa berwajah buruk.
Sumantri malu dan marah kepada adiknya. Ia mengusir Sukasrana dari taman. Tetapi Sukasrana tidak mau, karena ia ingin selalu bersama Sumantri, kakak yang dikasihinya.
Sumantri tak bisa menahan amarahnya. Ia membentangkan anak panah untuk menakut-nakuti adiknya. Amarah yang tak terkontrol membuat anak panah di tangan terlepas dan mengenai dada Sukasrana.
Adik yang welas asih, baik, jujur, lurus dan lembut hati itu mati di pangkuan Sumantri.
Yesus dalam amanat perpisahan-Nya dengan para murid memberi nasehat dan mengingatkan mereka, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu.”
Sumantri adalah lambang sifat dunia yang sombong, sok kuasa, cari menangnya sendiri, ambisus, “adigang adigung adiguna,”
Sukasrana lambang kebaikan, tulus hati dan welas asih. Kebaikan dari surga akan selalu dilawan oleh kesombongan dunia. Orang baik akan selalu dijegal, disingkirkan dan dibenci.
Para murid sudah diingatkan karena Yesus sendiri sudah pernah mengalami ditolak, dibenci bahkan dibunuh.
Yesus menyiapkan murid-Nya akan tantangan yang harus dihadapi. “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.” Kebaikan akan berhadapan dengan kejahatan.
Dalam diri manusia pun akan selalu ada peperangan antara kebaikan dan keburukan. Hati manusia adalah medan pertempuran.
Jika kita memenangkan kebaikan pastilah dunia akan membenci kita. Sukasrana (kebaikan) selalu ingin menyatu dalam diri Sumantri (dunia). Namun dunia membenci dan membunuhnya.
Begitu pun Yesus ingin menyelamatkan dunia tetapi dunia malah menolak dan membunuh-Nya.
Apakah kita berasal dari dunia? Ataukah kita mengikuti Yesus yang dari surga?
Lebaran hampir tiba.
Jangan mudik di rumah aja.
Kita ini bukan dari dunia.
Dunia akan membenci kita.
Cawas, waspada corona….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 07.05.21 / Jum’at Paskah V / Yohanes 15:12-17
“Perintah Baru”
BEBERAPA hari lalu kami mengunjungi dan menyapa orang-orang tua yang sakit di lingkungan. Selama pandemi ini mereka tidak bisa ke gereja. Beberapa sangat memprihatinkan kondisinya. Ada yang lumpuh, stroke, tidak bisa kemana-mana.
Bahkan ada ibu yang stroke, jatuh dari kursi tidak ketahuan. Mungkin mau ambil makanan lalu jatuh. Badan “semampir” di kursi dan makanan berserakan di lantai. Bau tidak sedap menyengat memenuhi ruangan.
Ada ibu yang tidak tahan dan keluar langsung muntah-muntah. Bersama Pak Sugeng dan Pak Muji, kami menolong agar ibu itu berbaring di alas yang bersih.
Pengalaman kunjungan ini menyentakkan rasa kemanusiaan. “Romo, kendati tidak enak, saya senang ikut kunjungan. kita perlu menindaklanjuti untuk menolong yang sakit.”
Mengasihi itu berani melakukan sesuatu kendati tidak menyenangkan diri sendiri. Kasih itu mau berkorban kendati tidak nyaman.
Dalam Injil Yesus bersama kesebelas murid-Nya memberi perintah baru. Mereka adalah komunitas yang masih setia pada-Nya. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Disebut perintah baru karena ada tekanan khusus yang berbeda dengan perintah sebelumnya.
Perintah yang lama dikatakan, “Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” Dasar mengasihi sesama masih egosentris, keuntungan atau kebaikan diri sendiri.
Aku melakukan sesuatu demi diriku sendiri. Kalau baik untuk diriku ya aku lakukan. tetapi kalau baik untuk orang lain kadang tidak aku lakukan. Kalau menguntungkan untuk diri sendiri dilakukan, tetapi kalau untuk orang lain tidak dilakukan. Ini standar kasih yang lama.
Yesus menggunakan diri-Nya untuk standar kasih yang baru. “Seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Kalau standarnya kasih Kristus, dimungkinkan mengasihi musuh atau mereka yang membenci kita. Kalau standarnya kasih Kristus bisa terjadi kita berkorban, menderita, tidak dihargai, mau jadi pelayan, mau merendahkan diri.
Kalau standar kasih itu “seperti engkau mengasihi diri sendiri”, kasih itu masih ada pamrihnya. Ada motif keuntungan pribadi.
Inilah perintah Yesus yang baru tentang kasih. “Seperti Aku telah mengasihi kamu.” Modelnya adalah kasih Kristus. Seperti Kristus harus mati sekalipun demi mengasihi manusia, demikianlah kita juga diajak berani mengasihi seperti Dia.
Mengasihi punya nilai tinggi jika kita meneladan kasih Kristus. kasih tanpa pamrih, bukan demi kepentingan diri sendiri.
Lebaran tidak ada roti.
Gantinya kiriman uang kertas.
Cinta Yesus sampai mati.
Mengasihi kita tanpa batas.
Cawas, menanti fitrah….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 06.05.21 / Kamis Paskah V / Rajah Kalacakra
RAHWANA, raja Alengka yag jahat itu tertarik oleh kecantikan Shinta yang bersama suaminya, Rama dan Laksmana sedang di hutan Dandaka. Ia menyuruh Kala Marica untuk menjadi kijang kencana. Shinta tertarik memiliki kijang kencana itu.
Rama disuruh menangkapnya. Kijang lari ke dalam hutan. Rama mengejarnya. Sebelum pergi Rama berpesan kepada Laksmana agar menjaga kakak iparnya. Rama lalu pergi mencari kijang kencana.
Di kejauhan Rahwana menirukan suara Rama. Ia merintih minta tolong. Mendengar itu Shinta menyuruh Laksmana membantu Rama. Laksmana tidak mau karena harus menjaga Shinta. Namun Shinta justru menuduh Laksmana mau memperkosanya.
Karena tidak enak hati Laksmana pergi. Sebelum masuk ke hutan, Laksmana membuat garis lingkaran dengan pusakanya. Ia berpesan, “Kakanda Shinta harus tetap tinggal di dalam lingkaran ini. Jangan sekali-kali keluar, nanti bisa celaka.”
Sepeninggal Laksmana, Rahwana berubah rupa jadi pengemis. Ia mendekati Shinta. Namun setiap kali masuk ke lingkaran rajah kalacakra, Rahwana terpental. Ada daya yang menghalangi dia mendekati Shinta.
Dengan mengiba-iba, ia minta Shinta mengulurkan tangan memberi sedekah. Shinta jatuh kasihan, ia mengulurkan tangan dan saat itu juga tangan Rahwana, menyambarnya. Shinta diculik ke Alengka.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu. Tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”
Kalau kita tinggal di dalam kasih Yesus, kita akan selamat. Tinggal bersatu dalam Yesus berarti taat setia pada perintah-Nya. Ia menjamin keselamatan kita.
Namun jika kita meninggalkan-Nya, kita pasti akan menderita. Seperti Shinta yang tidak menuruti perintah Laksmana, ia keluar dari batas rajah kalacakra. Ia diculik oleh raja angkara murka dan menderita.
Kita diajak tinggal di dalam kasih-Nya. Kasih Yesus adalah sumber hidup yang memberi keselamatan. Jangan pernah meninggalkan kasih-Nya.
Kita dikasihi-Nya sampai Ia rela mengorbankan nyawa agar kita tetap hidup dalam nama-Nya.
Lebaran jangan mudik ke desa.
Kita selamatkan keluarga dari virus corona.
Kasih Yesus jaminan keselamatan kita.
Jangan pernah kita meninggalkan-Nya.
Cawas, senja merona…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 05.05.21 / Rabu Paskah V / Yohanes 15:1-8
“Anggur Merah Anggur Cinta”
BUAH anggur sangat disukai banyak orang. Dari anak-anak sampai orang dewasa senang makan buah yang manis ini. Kualitas anggur menentukan nilai jualnya. Semakin anggurnya baik, semakin mahal harganya.
Anggur yang baik juga akan menjadi bahan dasar minuman wine atau amer. Wine yang baik dihasilkan dari buah anggur yang bermutu tinggi. Semakin wine itu baik, semakin mahal nilai jualnya.
Proses pemeliharaan pohon anggur pun harus dilakukan dengan cermat. Semua dilakukan dengan teliti dan hati-hati.
Menanam anggur sudah membudaya di Israel. Maka Yesus mengambil pola memelihara anggur ini dalam perumpamaan-Nya. Ia ingin menggambarkan Allah Bapa sebagai pengusaha atau pemilik kebun anggur. Pokok anggur adalah Yesus sendiri. Para murid adalah ranting-ranting-Nya.
Supaya pohon anggur bisa menghasilkan buah yang banyak maka harus dipotong dan dibersihkan. Pembersihan adalah sebuah tahap penting agar ranting berbuah. Kita pun harus dibersihkan, disucikan atau dimurnikan agar berbuah banyak.
Ranting hanya akan berbuah jika dia tinggal kuat erat bersatu dengan pokok anggur yang sesungguhnya, yakni Yesus.
Dia berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Tinggal di dalam Yesus itulah yang akan menghasilkan buah. Jika tidak tinggal, ranting akan mati dan tidak menghasilkan apa-apa. Kalau ranting itu mandul, dia akan dipotong, dibuang dan dibakar.
Buah apa yang diharapkan muncul dari ranting yang bersatu dengan pokok anggur? Apakah sukses, kekuasaan, kekayaan, harta melimpah, popularitas? Ternyata bukan itu.
Buah-buah yang mesti dihasilkan adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan dan kelemah-lembutan.
Apakah kita sudah menghasilkan buah-buah itu? Jika belum berarti kita mesti lebih menyatukan diri kita dengan Sang Pokok Anggur yang sejati.
Bunga putih bunga dahlia.
Semerbak wangi di bukit cinta.
Mari tinggal dalam kasih-Nya.
Hidup damai dengan sesama.
Cawas, selamat jalan teman…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr