Puncta 12.04.21 / Senin Pekan Paskah II / Yohanes 3: 1-8
“Kebangkitan Nasional; Kesadaran Baru Sebagai Bangsa”
PADA tanggal 20 Mei kita selalu memperingati hari Kebangkitan Nasional. Tanggal itu adalah lahirnya Boedi Oetomo, sebuah organisasi mahasiswa STOVIA pada 1908. Wahidin Soedirohoesodo adalah penggagasnya.
Ada kesadaran baru para pemuda agar rakyat jelata juga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Semboyan mereka adalah Indie Vooruit (Hindia Maju), bukan Java Vooruit. Ini adalah sebuah kesadaran baru. Sukuisme berubah jadi nasionalisme.
Dalam diskusi selanjutnya, muncul Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang pro perjuangan. Ia memberi roh baru dalam perjuangan kaum muda.
Ia mulai memperkenalkan kata “Tanah Air Indonesia” sebagai nafas perjuangan. Gerakan ini tidak hanya aksi kultural memajukan pendidikan, tetapi berkembang menjadi gerakan politik memperjuangkan kemerdekaan. Ini sebuah langkah maju buah nasionalisme.
Maka lahirnya Boedi Oetomo dipandang sebagai lahirnya kesadaran baru tentang Nasionalisme. Dimulainya semangat Kebangkitan Nasional.
Istilah Tanah Air Indonesia menumbuhkan kesadaran untuk merdeka. Perjuangan kemerdekaan itu melahirkan sebuah bangsa baru yakni Bangsa Indonesia, ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Inilah babak baru lahirnya sebuah bangsa.
Nikodemus, seorang Farisi terkemuka, datang waktu malam dan berbicara dengan Yesus. Malam hari adalah waktu yang cocok untuk sharing iman. Tapi bisa jadi ada nuansa takut ketahuan sesama Farisi, karena ia mendatangi Yesus, pihak seberang.
Pembicaraan mereka sangat berbobot dan mendalam. Nikodemus punya kesadaran pribadi yang baru. Ia berbeda dengan orang Farisi lainnya. Ia menerima bahwa Yesus adalah guru utusan Allah.
“Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu jika Allah tidak menyertainya.”
Yesus mengajak Nikodemus melangkah lebih jauh, masuk ke dalam kesadaran baru. Untuk melihat tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah, orang harus dilahirkan kembali.
Nikodemus semakin ingin tahu, penasaran. Bagaimana bisa lahir kembali kalau ia sudah tua? Nikodemus masih berpikir “cethek”, dangkal atau di tataran fisik material semata. Masuk ke dalam rahim seorang ibu dan lahir kembali.
Yesus memasuki tataran lebih dalam yakni lahir bukan secara kedagingan, melainkan dari air dan Roh.
Kelahiran baru itu bukan kelahiran daging, melainkan kelahiran Roh. Roh Kudus menerangi kita dan memberi kesadaran baru dan eksistensial.
Saya membayangkan Nikodemus itu seperti Douwes Dekker. Ia berani melahirkan pemikiran “Tanah Air Indonesia”. Pemikiran itu lalu dilahirkan kembali dalam wujud kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan teman-temannya. Nederland Indie lahir baru menjadi Indonesia.
Kelahiran dari air dan Roh itu adalah kesadaran baru, semangat dan keyakinan baru yang memerdekakan kita menjadi anak-anak Allah.
Jika kita mau menerima Yesus, kita akan punya kelahiran baru, kesadaran baru yang memerdekakan.
Bunga-bunga bermekaran,
Menghiasi taman dengan indah.
Karena rahmat pembaptisan,
Kita lahir baru sebagai anak-anak Allah.
Cawas, selalu bersyukur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 11.04.21 / Minggu Paska II: Minggu Kerahiman Ilahi / Yohanes 20 : 19-31
Dari Ragu Menjadi Percaya; Pelajaran dari Outward Bound.
SAYA termasuk orang yang takut pada ketinggian, walau tidak sampai pada taraf acrophobia. Berada di tempat ketinggian, dalam istilah Jawa “singunen” bikin lutut bergetar.
Tidak percaya diri berada di tempat yang tinggi. Tidak berani melangkah atau ragu-ragu untuk berjalan, kalau tidak dituntun. Ini pun juga pengalaman iman.
Tahun 1990-an kami para romo pernah mengikuti kegiatan Outward Bound di Waduk Jatiluhur.
Aneka kegiatan dilakukan; menyeberang waduk pakai kano, hiking, panjat tebing, rope course; seperti Spider web, Climbing Tower, Rapelling sampai Flying Fox.
Tidak hanya saya yang takut, ragu dan kawatir. Hampir sebagian besar peserta merasa ngeri dengan high risk game seperti ini.
Untunglah waktu itu ada Rm. Suyadi yang dipaksa menjadi kelinci percobaan. Tolok ukurnya adalah Rm. Suyadi yang tubuhnya pendek dan gemuk.
Dia selalu menjadi yang pertama. Kalau dia sudah terbukti mampu melakukan, kami dengan percaya diri bisa melakukannya juga.
Latihan-latihan itu membuat kami yang awalnya ragu, bimbang, takut lalu berubah jadi berani, percaya diri, gembira dan selalu jadi bahan cerita yang menyenangkan.
Jadi penyemangat ketika mengalami tantangan yang sulit.
Tomas adalah murid yang ragu-ragu dan tidak mau percaya bahwa Yesus telah bangkit. Cerita-cerita penampakan Yesus kepada murid-murid yang lain tidak dipercaya.
Ia membutuhkan bukti langsung. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Seminggu kemudian Yesus hadir menjumpai Tomas. Yesus dengan pelan mendatangi Tomas.
“Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku. Ulurkalah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
Dengan tersedu dan bersimpuh di depan Yesus, Tomas mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku.”
Inilah credo otentik dari seorang yang ragu-ragu dan kurang percaya.
Kita sering juga ragu dan tidak percaya seperti Tomas. Di Jatiluhur dulu kami kurang percaya, butuh bukti dulu.
Yesus tetap membimbing dengan sabar dan tekun. Ia hadir memberi peneguhan.
Sabda Yesus meneguhkan kita yang tidak bisa melihat, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Mari kita tetap percaya dengan bahagia, walau tidak melihat Yesus yang bangkit.
Tuhan kuatkanlah imanku agar tidak meragukan-Mu.
Minum sore pacitannya baceman tahu.
Ditemani teh poci gulanya jawa.
Ampunilah aku yang takut dan ragu.
Tuntunlah agar tetap yakin dan percaya.
Cawas, nikmat pocinya….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 10.04.21 / Sabtu Oktaf Paskah / Markus 16:9-15
“Kedegilan Hati”
PADA Hari Minggu Palma, kita dikejutkan dengan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Pelakunya adalah sepasang laki-laki dan perempuan.
Tiga hari kemudian, seorang perempuan nekad masuk di Mabes Polri, melakukan serangan dan akhirnya dilumpuhkan.
Sebelumnya pada Mei 2018 seorang perempuan dengan membawa dua anak melakukan aksi teror di Surabaya.
Pertanyaan saya, kenapa sekarang perempuan dan anak-anak dipakai atau dipercaya untuk menjadi teroris?
Padahal dulu hanya kaum laki-laki yang direkrut jadi teroris karena bisa masuk surga dan akan disambut bidadari molek bestari.
Mengapa sekarang perempuan dipercaya melakukan teror? Apa di surga sana sudah ada bidadara-bidadara yang siap melayani mereka?
Dalam bacaan hari ini, Maria Magdalena diminta mewartakan berita gembira, bahwa Yesus hidup. Tetapi Maria Magdalena tidak dipercaya. Mereka tidak mau mendengarkan omongan perempuan.
Mungkin karena dia seorang perempuan yang tidak punya hak dan kuasa. Namun dua murid yang pulang ke Emaus pun tidak dipercaya. Mereka adalah kaum lelaki, bagian dari kelompok mereka.
Mengapa mereka tidak mau percaya? Yesus menyebutkan karena kedegilan hati. Degil itu berarti tidak mau menuruti nasehat, keras kepala, kepala batu.
Degil berarti tidak mau mendengar nasehat orang lain. Ia merasa paling benar sendiri. Orang lain selalu dianggap salah.
Orang degil adalah orang yang keras hatinya seperti batu. Ia tidak peka terhadap kebenaran, tidak mau membuka hati.
Yesus mencela kedegilan hati dan ketidak-percayaan mereka. Namun Yesus tetap sabar membimbing mereka agar percaya.
Dengan berbagai macam cara Yesus mendidik para murid untuk percaya. Yesus terus mendampingi mereka agar terbuka hati dan budinya.
Memang sangat kontradiktif. Dengan diiming-imingi masuk surga dan disambut bidadari-bidadari molek orang rela mati jadi teroris, namun diajak berbuat baik, mewartakan kabar gembira, keselamatan Tuhan, orang kok tetap degil hatinya?
Mari kita membuka hati akan suara Tuhan. Tuhan bisa berbicara melalui siapa dan apa pun juga.
Jangan degil atau keras kepala. Jika kita mau membuka hati dengan jernih, kita akan melihat kebenaran yang membawa pada keselamatan.
Daripada keras kepala, kena aspal bocor otaknya.
Lebih baik lembut hati, pasti disukai para bidadari.
Cawas, semangat selalu…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 08.04.21 / Kamis Oktaf Paskah / Lukas 24: 35-48
“Lama Sekaligus Baru”
SEBUAH pesan messenger masuk di HP saya, “Happy Easter Romo” Saya jawab singkat, “Happy Easter juga.” Lalu mulai nyambung dialog, “Romo masih ingat saya?” Waduh pertanyaan sulit ini, “Siapa ya?” Jawabnya, “Saya misdinarnya romo dulu?”
Saya pancing-pancing supaya bisa mengingatnya. “Kamu tinggal dimana?” Jawabnya, “Ketapang romo, Paroki Simpang Dua.” Saya masih belum familier dengan foto profilnya. Lalu dia menambahi, “Dulu kita suka merujak sama-sama di pastoran, romo. Latihan misdinar, latihan menari untuk ngisi acara pesta juga”.
Ia menjelaskan panjang lebar untuk meyakinkan. Dia juga menyebut nama teman-temannya. Ada Celsi, Yasna, Deli, Sherly, Villye, Susanti, Stevi, Selvia dan Mesi. Setelah menunjukkan foto-foto zaman dulu saya baru teringat dan mengenalinya.
Ada yang baru tetapi ada juga yang tak berubah, yakni senyum di bibirnya.
Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya setelah bangkit dari mati. Para murid ketakutan. Mereka mengira melihat hantu.
Yesus meyakinkan mereka. “Lihatlah, tangan dan kaki-Ku. Aku sendirilah ini.” Dia menunjukkan bahwa Diri-Nya masih seperti yang dulu.
Bahkan Dia meminta sepotong ikan goreng untuk dimakan di depan mata mereka. Ada yang lama tetapi juga ada hal yang baru.
Yang baru adalah Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti isi Kitab Suci dan percaya. Bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati.
Yang juga baru adalah mereka kini diangkat menjadi saksi atas semua peristiwa hidup Yesus. “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
Saksi untuk apa? Untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
Ya, Yesus itu tetap sama sekaligus baru. Ia wafat tetapi bangkit dari mati. Ia hidup secara baru.
Para murid yang sama tetapi kini punya panggilan hidup yang baru. Mereka yang dulu nelayan, dipanggil menjadi murid-Nya, kemudian sekarang murid yang sama ini diutus secara baru menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya.
Kita juga diutus menjadi pewarta kabar kebangkitan oleh Yesus yang sama. Kita juga diperbaharui oleh pembaptisan untuk menjadi saksi-Nya. Sudah siapkah kita?
Matahari bersinar terang.
Menikmati teh poci di pinggir sawah.
Ikut Yesus pasti hati senang.
Hidup jadi gembira dunia jadi indah.
Cawas, teh poci gula batu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 05.04.21 / Senin Oktaf Paskah / Matius 28: 8-15
“Berita Bohong Atau Hoax”
PADA masa pandemi ini, pemerintah gencar menanggulangi penyebaran virus covid19. Pemberian vaksinasi dikejar agar mencapai target yang diharapkan. Namun di tengah-tengah usaha serius itu, ada saja berita-berita miring, atau berita bohong disebar oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Mereka menyebarkan disinformasi atau informasi yang salah untuk menyesatkan warga. Sebagian lagi membuat misinformasi atau berita yang dipelintir kebenarannya agar masyarakat menjadi bingung dan tidak percaya kepada pemerintah.
Satgas Covid19 mencatat ada 135 berita hoak dibuat, bahkan oleh situs-situs resmi. Tujuannya jelas untuk menggagalkan usaha pemerintah menangani pandemi ini.
Contoh adanya disinformasi misalnya; diberitakan ada jenis minuman atau obat rempah yang bisa mengatasi virus corona.
Berita yang dipelintir misalnya, Presiden Jokowi tidak disuntik vaksin tetapi hanya vitamin, atau vaksin yang disuntikkan berbeda dengan yang diberikan kepada masyarakat.
Berita hoaks seperti itu dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan bertujuan agar masyarakat tidak percaya.
Bacaan hari ini berbicara tentang berita kebangkitan Yesus yang dipelintir oleh para imam kepala.
Perempuan-perempuan pergi dari kubur untuk memberitakan kepada para murid. Di tengah jalan Yesus menjumpai mereka. Mereka mendekati, memeluk kaki-Nya dan menyembah-Nya.
Mereka diberi pesan agar murid-murid-Nya pergi ke Galilea, dan di sana mereka akan berjumpa dengan Yesus.
Tetapi para penjaga makam pergi kepada imam-imam kepala. Sesudah mereka berunding dengan kaum tua-tua, dan menyuap para serdadu, mereka berkata, “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenasah-Nya ketika kamu sedang tidur.”
Cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang.
Ada konspirasi membuat berita bohong. Ada serdadu, para imam kepala, kaum tua-tua bangsa Yahudi. Di dalamnya juga ada modal untuk suap menyuap.
Mereka berusaha menghalangi kebenaran bahwa Yesus bangkit.
Rencana Allah tidak bisa digagalkan oleh usaha manusia, apalagi dengan tindakan unfair atau kebohongan.
Pada akhirnya akan terkuak mereka yang melakukan kebohongan. Satu demi satu kasus kebohongan itu akan terbongkar.
Ya Tuhan, semoga aku tidak membuat berita-berita bohong yang bisa menyusahkan dan menghancurkan orang lain.
Ke pasar membeli bubur.
Lethok pedas nikmat dicampur.
Lebih baik hidup jujur.
Hati tentram damai dan makmur.
Cawas, tetap bahagia…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr