Puncta 20.03.21 / Yohanes 7: 40-53 / Konspirasi Kaum Sakit Hati
KETIKA Semar ingin membangun Kahyangan, terjadi pro dan kontra. Awalnya hanya sedikit yang mendukung. Banyak pihak menentang keinginan Semar. Kresna, Baladewa dan pihak Kurawa yang disetir oleh Pandita Durna memprovokasi untuk tidak setuju.
Mereka melawan Semar dan anak-anaknya. Bahkan genderang perang ditabuh, supaya anak-anak Pandawa dan Kurawa menangkap Semar biang keroknya.
Hanya Ontosena yang mampu melihat kebenaran. Dengan hati bening dan pikiran jernih dia mengakui bahwa Semar benar. Ontosena tahu bahwa yang dibangun Semar bukan soal tempat, tetapi moral manusia agar hidup damai aman tentram.
Ontosena tidak mau terprovokasi. Ia justru berjuang di belakang Semar dan anak-anaknya. Ontosena berprinsip, benar adalah benar dan salah adalah salah. Tidak bisa yang benar disalahkan atau yang salah dibenarkan.
Kehadiran Yesus menimbulkan pertentangan di tengah masyarakat. Ada yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Ada pula yang percaya bahwa Dia adalah seorang nabi besar.
Tetapi imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tidak mau menerima Dia. Mereka memprovokasi orang banyak dan menyuruh penjaga-penjaga untuk menangkap-Nya.
Tetapi para penjaga itu justru melihat siapa Yesus sesungguhnya. Hati kecil mereka meyakini Yesus utusan Allah. “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu.”
Imam-imam Kepala berusaha menyingkirkan Yesus karena mereka takut kehilangan pengikut. Kedudukan mereka terancam. Mulai banyak yang percaya dan menyeberang. Misalnya Nikodemus.
Keberadaan Yesus adalah ancaman, maka mereka berusaha melenyapkan-Nya. Dicari cara bagaimana menjatuhkan-Nya.
Muncul konspirasi untuk menjatuhkan Yesus. Pebisnis Bait Suci yang ditertibkan pasti tidak suka. Imam-imam kepala dan organisasi kaum saleh di Bait Suci merasa geram karena previlegi dan pundi-pundinya dibongkar.
Para anggota dewan Sanhedrin tidak bisa leluasa bermain kuasa karena pegawai pajaknya ada yang menjadi murid Yesus.
Kelompok sakit hati membuat konspirasi. Begitulah juga yang dialami Yeremia dalam bacaan pertama. Ada pemufakatan jahat menjatuhkan Yesus dan Yeremia.
Berjuang demi kebenaran selalu berhadapan dengan ancaman. Siapkah kita jika harus menghadapinya?
Jika malam tiada nampak bulan,
Pasti sebentar lagi akan muncul bintang.
Bila kita berjuang untuk kebenaran,
Akan banyak kerikil tajam yang menghadang.
Cawas, tetap sabar dan tawakal…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 19.03.21 / HR. St. Yusuf, Suami Maria / Matius 1:16.18-21.24a
“Yusuf Sebagai Role Model”
PADA Tanggal 8 Desember 2020, Paus Fransiskus mengeluarkan Surat Apostolik yang berjudul Patris Corde (Dengan Hati Seorang Bapa) untuk menandai dimulainya Tahun Santo Yusuf pada 2021.
Hari ini kita merayakan SantoYusuf. Pada hari ini kita bisa merenungkan keutamaan-keutamaan Santo Yusuf melalui Surat Apostolik Paus.
Paus menyebut ada 7 keutamaan Santo Yusuf yang pantas kita tiru: Pertama, St. Yusuf adalah bapa yang penuh kasih. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya demi Maria dan Yesus. Kedua, St. Yusuf adalah bapa yang lembut dan penuh cinta. Ia menjaga Yesus yang tumbuh dalam keluarga yang penuh kehangatan dan cinta. Sebagai ayah, ia bersikap lembut dan hangat.
Ketiga, St. Yusuf adalah pribadi yang taat kepada kehendak Allah. Maria punya “fiat voluntas tua.” Demikian juga Yusuf menjalani “fiat” demi kehendak Allah. Yusuf mendidik Yesus dengan ketaatan. Sedemikian sehingga di Taman Getsemani, Yesus pun berani berkata, “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi.”
Keempat, St. Yusuf seorang figur yang siap menerima. Ia menerima Maria apa adanya dan menjaganya dengan setia. Ia menghormati perempuan. Ia bukan tipe orang yang melecehkan dan memandang rendah, apalagi melakukan kekerasan terhadap perempuan.
Kelima, St. Yusuf adalah bapa yang berani dan kreatif. Ia tipe pria bertanggungjawab. Ia tidak lari dari kesulitan, tetapi menjadi pelindung aman bagi keluarga. Saat tidak ada penginapan di Betlehem, ia membuat palungan bagi Yesus. Saat diancam Herodes, ia menjaga dan melindungi keluarga kecilnya.
Keenam, Ia adalah seorang bapa pekerja. Ia seorang tukang kayu, pekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ia diangkat menjadi pelindung para pekerja. Kita harus menghargai para pekerja-pekerja di sekitar kita.
Ketujuh, St. Yusuf adalah bapa yang tersembunyi. Figur Yusuf adalah gambaran Allah yang tersembunyi. Allah Bapa selalu mengasihi anak-Nya. Tidak banyak narasi tentang Yusuf. Ia sebagai figur di balik layar, seperti Allah yang tidak nampak, namun mengasihi kita manusia.
Mari kita menemukan sifat-sifat St. Yusuf itu dalam diri ayah kita, sehingga kita bisa bersyukur telah dibimbing dan dijaganya.
Merawat bunga yang sedang kuncup.
Ditunggu mekarnya di saat senja.
Kita bersyukur punya Bapa Yusup.
Yang melindungi kita dengan cinta mesra.
Cawas, berharap senantiasa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 18.03.21 / Yohanes 5: 31-47 / Kesaksian Palsu
DALAM persidangan khususnya kasus korupsi, banyak saksi berubah jadi tersangka karena kesaksiannya palsu. Menurut hukum, orang tidak boleh memberi kesaksian palsu atau berbohong. Saksi adalah orang yang mengetahui, mengalami atau mengerti tentang suatu perkara hukum.
Sehubungan dengan korupsi, KPK tidak menganggap enteng kesaksian palsu yang diberikan seorang saksi. Hukuman atas kebohongan itu cukup berat. Kita masih ingat kasus Muhtar Ependy, yang menjadi saksi kasus Akil Mohtar dulu. Ia dinilai memberi keterangan palsu kepada hakim. Ia dijatuhi hukuman pidana lima tahun penjara dan denda Rp. 200 juta.
Yesus berpolemik dengan orang-orang Yahudi tentang kesaksian Yohanes. Ia adalah seorang nabi. Ia memberi kesaksian tentang Yesus bahwa Dialah yang datang dari Allah. Kesaksian Yohanes itu benar, tetapi orang-orang Yahudi tidak mau percaya.
Karena kedegilan dan kebencian mereka kepada Yesus, maka kesaksian siapa pun –kendati itu benar – tidak diterima.
“Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.”
Kalau tidak mau percaya kepada kesaksian orang, Yesus menunjukkan tindakan-Nya atau karya-karya-Nya yang juga bisa dilihat, dialami, dirasakan oleh banyak orang.
Karya-Nya itu sudah bisa memberi kesaksian dari manakah Dia datang. Tetapi dasar orang bebal, mereka tidak bisa diberi penjelasan.
Ada istilah WTS, “Waton Sulaya” yang artinya asal melawan. Orang tidak berpikir benar atau salah, yang penting lawan.
Orang sudah tidak memakai akal sehat atau nalar lagi. Dijelaskan dengan cara apapun sudah tidak mempan.
Jangan sampai kita “mbeguguk ngutha waton”. Mbeguguk artinya diam tak bergerak atau tak mau beringsut. “ngutha waton” artinya seperti kota berbenteng batu, tak bergeming sedikit pun. Merasa diri paling benar, tak mau disalahkan, tidak mau berubah. “Pokoke aku sing bener dewe.”
Jalan-jalan pakai topi,
Takut kena sinar matahari.
Jangan mau menangnya sendiri,
Kalau kita ingin dihargai.
Cawas, tetap sehat dan semangat….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 17.03.21 / Yohanes 5:17-30 / Mengikuti Jejak Sang Ayah
BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini mau mengatakan bahwa seorang anak tidak akan jauh-jauh sifat dan karakternya dari sang ayah. Kadang tidak hanya sifat atau karakter, tetapi pilihan profesi kadang juga mengikuti orangtuanya.
Kalau orangtuanya guru, anak-anaknya juga menjadi guru. Orangtuanya dokter, anak-anaknya tidak jauh dari urusan medis, entah jadi perawat atau apoteker atau penjual obat.
Dalam dunia sepakbola, kita bisa menemukan beberapa nama anak pemain bola. Misalnya Zinedine Zidane punya anak, Enzo Fernandes mengikuti jejaknya sebagai pemain bola. George Weah yang dulu berkibar di AC Milan, punya anak Timothy Weah yang bermain di Lille. Kini George Weah menjadi Presiden di Liberia. Entah nanti apakah Timothy juga mau jadi presiden.
Masih ada deretan nama-nama seperti Joe van der Sar mengikuti jejak ayahnya, Edwin van der Sar. Begitu juga Kasper Schmeichel mengikuti karier ayahnya, Peter Schmeichel.
Anehnya mereka mengikuti profesi ayahnya juga sebagai penjaga gawang, bukan striker atau bek tengah. Perilaku, teladan, contoh dari orangtua akan diikuti oleh anak-anaknya.
Yesus berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari Diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”
Yesus mau menegaskan bahwa Dia diutus oleh Bapa. Ia melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Apa yang dikerjakan-Nya adalah sungguh kehendak Bapa. Kuasa-Nya adalah kuasa Bapa. Pekerjaan-pekerjaan Yesus menunjukkan Allah Bapa berkuasa atas-Nya. Di dalam Yesus kita bisa melihat Bapa itu sendiri.
Jika kita percaya pada Yesus, kita percaya pada Bapa-Nya. Jika kita menghormati Yesus, kita juga menghormati Allah Bapa.
Yesus dan Bapa adalah satu. Di poin inilah Yesus dibenci orang-orang Yahudi. Ia dituduh menyamakan Diri dengan Allah. Mereka tidak mengenal istilah “Kacang mangsa ninggala lanjaran.”
Kalau kita ini disebut anak-anak Allah, kita diajak melaksanakan kehendak Allah. Hanya dengan melaksanakan karya Allah, kita akan diangkat menjadi anak-Nya. Kehendak Allah tiada lain adalah saling mengasihi.
Hari Jum’at makanan melimpah.
Perut melilit sedang berpuasa.
Dengan melaksanakan kehendak Allah,
Itulah tanda kita menjadi anak-Nya.
Cawas, jangan lupa bahagia….
Rm.Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 16.03.21 / Yohanes 5:1-16 / Suka Mencari Kambing Hitam
PARA siswa Sokalima diundang untuk ikut pendadaran. Mata lomba yang dipertandingkan adalah memanah. Putra Mahkota Hastina gagal mencapai sasaran. Panahnya menyimpang jauh dari yang diharapkan.. Ia kesal dan marah kepada Durna. Ia merajuk kepada gurunya. Ia malu dilihat seluruh rakyat; seorang Putra Mahkota gagal menjalankan tugas.
“Bapa Durna keliru, menempatkan arca burung di tempat yang salah.” Kata Kurupati menyalahkan gurunya. “Saya harus menang, entah bagaimana caranya. Tidak ada kata kalah bagi Suyudana. Guru goblok, tidak mengerti siapa muridnya.” Katanya dengan ketus sambil meninggalkan gelanggang.
Jika menghadapi kegagalan, orang mudah sekali mencari kambing hitam. Tidak mau mengakui kelemahan tetapi menyalahkan orang lain atau situasi di sekitarnya. Tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh.
Tumbuh iri hati jika orang lain berhasil. Yang dilakukan hanya menyalahkan dan menyalahkan.
Orang lumpuh di kolam Betesda itu sudah tigapuluh delapan tahun berbaring di sana. Ia terus gagal dan putus asa. Ia hanya bisa menyalahkan situasi di sekitarnya.
Ketika Yesus menawarkan kesembuhan, dengan gamang tanpa harapan ia berkata, “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; sementara aku sendiri menuju kolem itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
Melihat kesusahan orang lumpuh itu, Yesus langsung berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Ia mengangkat tilamnya dan sembuh.
Ia disalahkan karena mengangkat tilam pada hari Sabat. Sekali lagi ia tidak mau disalahkan. Kesalahan ditimpakan kepada Yesus. “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku; Angkatlah tilammu dan berjalanlah.”
Kita harus berani ambil tanggungjawab dan tidak menyalahkan orang lain. Yesus mengingatkan, “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”
Berhentilah mencari kambing hitam, atau menyalahkan orang lain. Lebih baik lagi kalau kita mau mengakui kelemahan sendiri dan berjuang untuk terus berbuat baik.
Duduk sendiri di tengah malam.
Melihat bulan yang masih kecil.
Suka mencari kambing hitam,
Adalah tanda kepribadian yang kerdil.
Cawas, ambilkan bulanku….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr