Renungan Harian

Puncta 15.03.21 / Yohanes 4: 43-54 / The Power Of Percaya

 

TURNE ke pedalaman biasanya dijemput pakai mobil dari PT. Alas Kusuma. Perjalanan pertama ke Stasi Tigal. Saya melayani misa, pengakuan dosa, kalau hari raya kadang ada baptisan juga.

Setelah stasi ini, hari berikutnya saya diantar menuju Stasi Beginci. Stasi ini adalah kampung Dayak di pedalaman. Semakin jauh masuk ke pelosok. Dari jalan logging masih harus masuk lewat jalan tanah yang buruk. Saya ditinggal karena mobil harus kembali ke camp.

Saya ngajarin menyanyi anak-anak, membaca Kitab Suci, dan diakhiri dengan perayaan ekaristi. Setelah ekaristi, diajak makan siang di rumah ketua umat. Saya kemudian diantar ke jalan besar oleh Pak Ismael dengan sepeda motor.

Saya ditinggal sendirian di pinggir jalan, menunggu jemputan menuju ke Camp Harjon yang jaraknya masih kira-kira 60 km. “Tuhan semoga Engkau utus orang baik menjemput saya.” Kalau tidak, bisa bermalam di tengah hutan.

Menanti dalam ketidak-pastian. Sendirian di pinggir jalan. Di sekitarnya hanya hutan. Kadang muncul dari semak-semak serombongan monyet menyeberang jalan. Kadang juga ada babi hutan. Sesekali ada motor para penambang emas liar lewat. Habis itu sunyi mencekam lagi.

Waktu berjalan sangat lambat. Sungguh saat itu saya hanya menanti mukjijat Tuhan. Semoga datang pertolongan. Rasa sepi, bosan, gundah menyerbu.

Tiga jam kemudian datang mobil dari Camp Tanjungasam. “Maaf Romo, jam 12,00 tadi mobil baru selesai diperbaiki di bengkel. Kami langsung disuruh kesini, antar Romo ke Harjon.”

Ya Tuhan, Engkau mengabulkan doa saya. Pada tengah hari yang terik, dalam kegundahan dan ketakutan tadi saya berdoa, semoga ada mobil jemputan datang.

Yesus mengabulkan permohonan seorang pegawai istana yang anaknya sakit, hampir mati. Orang itu memohon dengan sangat, “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup.”

Orang itu pulang dan di tengah jalan dia diberitahu hamba-hambanya bahwa anaknya sembuh.

Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Yang dibutuhkan adalah percaya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Tuhan akan bertindak pada saatnya.

Beranikah kita mempercayakan diri kepada-Nya?

Jamu pahit daun pepaya.
Perut buncit tanda bahagia.
Asal kita mau yakin dan percaya.
Tuhan akan bertindak pada waktunya.

Cawas, bulan merah jambu…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 14.03.21 / Minggu Prapaskah IV / Yohanes 3: 14-21

 

“Kunjungi Iraq, Paus Membawa Pesan Damai”

SEMINGGU yang lalu, dari tanggal 5-8 Maret 2021, Paus Fransiskus mengadakan lawatan yang penuh resiko ke Iraq, ketika pandemi masih berlangsung.

Bukan hanya bahaya pandemi, tetapi lebih daripada itu, bahaya perang masih berkecamuk di Iraq.

Kita semua tahu, Iraq dibuat porak poranda oleh peperangan. Derita dan kehancuran, kepiluan dan ketakutan, keputusasaan dan kegelapan menghantui masyarakat Iraq.

Banyak orang mengungsi keluar dari Iraq. Sekelompok kecil warga Kristen yang tinggal hidup dalam derita dan keputusasaan.

“Saya ingin melihat wajah-wajah mereka. Saya ingin mengunjungi mereka yang sudah lama mengharapkan kedatangan saya. Saya ingin menguatkan mereka” Demikian Paus menegaskan keinginannya. Paus ingin merajut damai dan harapan bagi seluruh warga Iraq.

Bukan hanya mengunjungi warga Kristen, Paus juga berjumpa dengan pemimpin besar umat Muslim di Iraq, Ayatollah Sayyid Ali al-Sistani, pemimpin Syiah Iraq. Paus membawa pesan damai dan persaudaraan bagi semua insan di bumi.

“Kita semua adalah saudara.” Itulah tema kunjungan Paus ke Iraq. Paus juga berdoa bersama lintas agama bagi perdamaian dan ketentraman rakyat Iraq. Paus datang membawa terang dan harapan.

Yesus bersabda, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia…..Barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan demi Allah.”

Paus datang ke Iraq membawa misi perdamaian. Ia ingin membawa terang, agar bangsa yang tercabik-cabik oleh permusuhan dan peperangan mengalami damai dan pengampunan.

Perang dan permusuhan hanya menghancurkan dan membawa kegelapan. Damai dan kasih pengampunan membawa terang dan menyelamatkan.

Demikian pun Yesus datang ke dunia membawa keselamatan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Kalau pemimpin kita, Paus datang membawa damai, sebagaimana Kristus datang tidak untuk menghakimi, maka kita pun harus mau menjadi duta damai bagi siapa pun juga.

Damai akan membawa kehidupan, tetapi perang akan membawa kematian.

Ke warung beli nasi goreng petai.
Lebih enak daripada mie ayam.
Mari kita menyebarkan damai.
Agar dunia makin aman tentram.

Cawas, hati gembira adalah obat….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 13.03.21 / Lukas 18: 9-14 / Cheng Yang Arogan

 

DRE PARKER bersama ibunya pindah dari Detroit ke Beijing. Tidak mudah menyesuaikan diri di tempat yang baru. Dre sering dibully oleh Cheng dan teman-temannya. Cheng adalah anak yang angkuh dan nakal. Dia pandai bermain kungfu. Ia merasa paling hebat dan jagoan.

Ia menghajar Dre sampai babak belur. Untung Dre ditolong oleh Mr. Han, yang ahli kungfu. Sejak saat itu Dre berlatih kungfu dengan Mr. Han di rumahnya.

Cheng dan gengnya melapor ke Mr. Li pelatihnya. Mr. Li yang kejam tidak terima anak latihnya dikalahkan oleh Mr. Han. Ia menantang untuk bertanding di turnamen tahunan.

Mr. Han mengajak Dre untuk melihat kungfu yang sesungguhnya di biara Shaolin. Dre melihat aneka macam jurus kungfu di sana.

Turnamen dimulai. Dengan brutal Cheng mengalahkan lawan-lawannya. Wajah sombong dan merendahkan nampak dari tatapan matanya. Dengan langkah tegak dan dada membusung, dia meninggalkan lawannya yang terkapar. Akhirnya final terjadi antara Cheng dan Dre.

Mr. Li menasehatkan kepada Cheng untuk tidak memberi ampun lawan. Ketika kedudukan draw, Mr. Li dengan licik dan arogan berkata kepada Cheng, “Tidak ada ampun.”

Dengan tertatih-tatih karena cidera kaki, Dre naik ke panggung. Cheng penuh kesombongan mengincar kelemahan Dre.

Dre teringat jurus ular kobra menari saat berlatih di biara. Ia berkonsentrasi dengan satu kaki dan kepala terfokus mengendalikan perhatian Cheng. Tanpa sadar Cheng terhipnotis oleh gerakan kepala Dre.

Ketika Cheng maju menyerang, Dre membuat loncatan salto backslip menghantam wajah Cheng. Anak yang sombong itu jatuh terjerembab tak bisa berdiri.

Yesus berkata kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Ia memberi contoh dua orang yang berdoa di Bait Allah. Orang Farisi itu menyombongkan dirinya di hadapan Allah. Ia merasa berjasa dengan berpuasa dan memberi persepuluhan. Ia merasa paling suci dibanding orang lain.

Sedang pemungut cukai itu merasa tidak pantas dan menyalahkan dirinya di hadapan Tuhan. Ia merasa berdosa. Ia merendahkan diri dan berdiri jauh-jauh.

Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak menyombongkan diri, melainkan berani merendahkan diri dan menghormati sesama manusia.

Di hadapan Tuhan, kita tidak punya jasa apa-apa. Jika kita mau merendahkan diri, kita justru akan dihargai.

Singgah dulu di kota Gombong.
Naik kereta ke Tasikmalaya.
Jadi orang jangan sombong.
Suatu saat akan kena batunya.

Cawas, kala malam tiada bintang….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.03.21 / Markus 12:28b-34 / Dalang Ki Seno Nugroho

 

SEBELUM Ki Seno dipanggil Tuhan, dia sempat ditanggap memainkan wayang secara live streaming dalam rangka HUT Paroki Pekalongan. Lakon yang disuguhkan adalah “Semar mbangun Jiwa.”

Kisahnya demikian, Sitija, anak Kresna memprovokasi Antareja, anak Werkudara. Menurut Sitija, para Pandawa atau orangtua mereka tidak adil alias pilih kasih. Anak yang diagung-agungkan hanya Gatotkaca. Mereka iri hati dan marah.

Dibantu Sengkuni dan Durna yang punya niat menghancurkan Pandawa, mereka melawan orangtua sendiri. Mereka menyerbu Ngamarta. Perang antar saudara terjadi.

Karena para Pandawa sedang diwejang Semar di Karang Kadempel, mereka mau menghancurkan Padepokan Semar sekaligus. Tetapi Semar seorang yang bijaksana.

Dengan kekuatannya sebagai dewa yang menjelma, Semar membuat mereka lumpuh. Pada saat itulah Semar menjabarkan ajaran cintakasih.

Ki Seno melalui Semar mengupas tentang Sepuluh Perintah Allah. Sepanjang tiga jam pertunjukan itu Ki Seno membius kita dengan ajaran Yesus.

Sepuluh menit terakhir ia menjabarkan tentang ajaran cintakasih. Coba perhatikan jam pertunjukan mulai dari 3.02.00 sampai selesai.

Puncak ajaran kasih itu dijabarkan pada 03.04.05. ia mengutip sabda Yesus “Kasihilah Tuhan Alllahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah kedua ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Kalau Didi Kempot, pada akhir hidupnya menyumbangkan 7 milyar rupiah lebih dari hasil konser amalnya bagi korban pandemi covid19. Tiga hari setelah menjabarkan ajaran cintakasih, Ki Seno menghadap Sang Khalik. Ia mewariskan ajaran Yesus itu kepada kita semua.

Yesus mengajarkan hukum yang terutama yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama itu adalah satu dan sama.

Kasih kepada sesama adalah perwujudan dari kasih kepada Allah. Kasih kepada Allah adalah sumber dalam mengasihi sesama.

Kalau kita tidak bisa mengasihi sesama yang nampak nyata di sekitar kita, bagaimana kita bisa mengasihi Allah yang tidak nampak? Mari kita terus mewujudkan kasih itu dalam hidup sehari-hari.

Pergi ke sendang dan taman doa.
Sujud syukur kepada Bunda.
Mengasihi Tuhan dan sesama,
Adalah spirit hidup iman kita.

Cawas, selalu bahagia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 11.03.21 / Lukas 11: 14-23 / Devide Et Impera

 

AWAL Februari 2021, Junta militer pimpinan Jendral Min Aung Hlaing mengambil alih kekuasaan dari tangan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi. Rakyat menentang dan jatuhlah kurban hingga hampir 50 orang tewas. Sampai sekarang masih terjadi demonstrasi di Myanmar.

Kudeta juga pernah terjadi di Mesir tahun 2013, dan di Pakistan Jendral Perves Musharraf menjatuhkan pemerintahan sipil PM Nawaz Sharif. Sebelumnya Jendral Zia Ul-Haq menjatuhkan PM Zulfikar Ali Butto.

Saling menjatuhkan dalam dunia politik itu hal yang biasa. Ada yang dengan cara demokratis, tetapi ada juga dengan kekerasan kudeta.

Nicollo Machiavelli pernah berkata, bagaimana cara memperoleh kekuasaan, “Lakukan dengan segala cara.” Zaman kolonial Belanda dulu memakai politik Devide et Impera untuk menjajah Nusantara.

Pecah belah dan kuasai, itulah yang dilakukan penjajah. Misalnya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Mataram menjadi dua bagian.

Bagian timur Kali Opak, wilayah Prambanan ke timur dikuasai Sunan Pakubuwana III berkedudukan di Surakarta. Bagian barat Kali Opak diserahkan ke Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I) memerintah di Yogyakarta.

Dengan wilayah yang terpecah-pecah itu VOC semakin diuntungkan karena dapat mengontrol daerah jajahan dan Belanda punya kekuasaan yang semakin kuat mencengkeram Tanah Jawa.

Ada orang yang mengkritik Yesus bahwa Dia menggunakan kuasa Beelzebul, si penghulu setan untuk mengusir setan.

Yesus memberi gambaran, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh. Jikalau iblis itu terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimana kerajaannya dapat bertahan?”

Kuasa Yesus berasal dari Allah, bukan dari setan. Bagaimana setan bisa melawan setan, itu namanya kudeta, atau politik devide et impera.

Yesus datang dari Allah. Ia tidak menghancurkan, tetapi menyelamatkan. Itulah tanda hadirnya Kerajaan Allah.

Mari kita mengikuti Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Tanda kehadiran Allah yakni damai, sukacita, rukun bersatu, saling mengasihi, selamat jadi berkat untuk dunia sampai akherat.

Ke Kaliurang membeli jadah,
Campur tempe bacem enak sekali.
Jangan pernah mau dipecah belah,
Bangunlah kerukunan saling menghargai.

Cawas, pagi yang cerah…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr