Puncta 10.10.20 / Lukas 11:27-28 / Siapakah Ibu-Ku?
Ibu adalah seorang wanita yang begitu perkasa, tegar, sekaligus mencintai semua anaknya. Karena ibulah kita semua hadir di dunia ini. Tentu saja, hal ini membuat Ibu menjadi pahlawan sejati. Tidak cukup sampai di situ saja, Ibu juga bersedia mengorbankan segala sesuatunya hanya demi kebahagiaan dan keselamatan anak-anaknya. Tidak percaya?
Bulan Oktober 2011 terjadi gempa besar di Jepang. Banyak bangunan luluh lantak. Banyak korban berjatuhan. Setelah reda, regu penyelamat dan pemadam kebakaran menyisir bekas-bekas reruntuhan. Ketika berada di sebuah rumah yang sudah ambruk, regu penyelamat menemukan seorang wanita tertelungkup menunduk. Ia seperti melindungi sesuatu di bawah tubuhnya. Wanita itu telah meninggal. Ketika diangkat, di bawah ibu itu ada seorang bayi berumur 3 bulan, terlindung reruntuhan oleh badan ibunya. Aneh bin ajaib, bayi itu masih hidup. Bayi itu sedang tidur lelap ketika gempa terjadi. Secara reflek dan otomatis, ibu itu melindunginya. Di dalam selimut bayi ada HP yang layarnya masih menyala. Di situ ada pesan, “Jika kamu hidup, kamu harus ingat bahwa ibu sayang kamu.”
Seorang ibu memang luar biasa. Adikku menggambarkan ibuku dalam sebuah tulisan puisi berjudul, “Ibu dan Jubah.”
Dalam jubah itu ada ibu.
Dalam doa, keringat dan air mata dalam jubah itu, ibu memberi persembahan terbaiknya dalam harapan, dalam iman yang tak pernah padam.
Dalam jubah itu perih kaki ibu tergores luka, berjalan menyusuri via Dolorosa, menemani Tuhan dalam doa bagi putranya.
Dalam jubah itu bau keringat ibu menjadi wangi semerbak menguat dalam asa kasat mata.
Dalam jubah yang tersimpan rapi di almari menyimpan hati ibu yang tersembunyi, mendaraskan doa tiada henti.
Ketika jubah itu terasa panas, ibu bilang, “kembalilah kepadaku, aku beri sejuk air hidup milikku yang tiada kering kutimba bersama Maria,Kanjeng Ibu.”
Dalam Injil ada seorang wanita yang berseru kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau.” Tetapi Yesus berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”
Bagi Yesus bukan status seorang ibu yang penting, tetapi mendengar dan mewujudkan sabda Allah itu lebih penting. Yesus memberi ruang selebarnya bagi siapa pun yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan, merekalah ibu dan saudara-saudara Yesus. Saudara bukan berdasarkan pertalian darah, tetapi karena sama-sama melaksanakan kehendak Allah. Siapa pun yang berkehendak baik dan melakukan ajaran kasih dari Allah, merekalah saudara-saudari kita.
Naik ke pohon memetik buah jambu.
Jambunya masak warnanya merah.
Siapakah ibuku? Siapakah saudaraku?
Merekalah yang melakukan kehendak Allah.
Cawas, VVV …..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 09.10.20 / Lukas 11:15-26 / Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah
DENGAN muka merah karena marah, Adipati Karna menjawab kata-kata Prabu Salya yang ingin memberikan Kerajaan Mandaraka kepada para Kurawa sebagai ganti Hastina yang diminta para Pandawa.
“Disini ada mata-mata Pandawa yang berpura-pura jadi pinisepuh yang sangat dihormati. Tak mungkin kerajaan diserahkan begitu saja supaya kita tunduk pada Pandawa.” Kata Adipati Karna.
Dituduh sebagai mata-mata, Prabu Salya marah bukan kepalang. Ia menantang Karna untuk berperang tanding. Kalau tidak diredakan oleh Duryudana, Prabu Salya sudah menghajar menantunya sendiri yang angkuh itu. Kecurigaan dan persaingan membuat rapuh kekuatan Kurawa.
Kecurigaan itu juga menghantui Dursasana. Ia ingin maju ke medan perang. Tetapi dia malah disuruh menjaga Banowati, permaisuri Hastina. Ia kecewa dan sakit hati. Makin panas hati Dursasana, ketika Banowati menuduhnya sebagai laki-laki yang takut maju perang. Makanya dia disuruh menjaga perempuan.
Dursasana ganti menuduh Banowati sebagai orang yang dipasang Pandawa. Karena Banowati sangat mencintai Arjuna. “Kamu ini mata-matanya Arjuna. Kelihatan dari tingkah lakunya, kalau ada prajurit Kurawa gugur, kamu tersenyum puas. Kamu dipasang di Astina, supaya bisa mencari kelemahan Kurawa, dan kamu pasti berharap Pandawa menang supaya bisa menjadi gundiknya Arjuna.” Kata-kata Dursasana membuat telinga Banowati memerah.
Pertengkaran di dalam, dan persaingan antar keluarga membuat kekuatan Kurawa rapuh. Satu per satu mereka dapat dikalahkan. Kurawa hancur oleh rapuhnya ikatan persaudaraan mereka sendiri.
Yesus dituduh menggunakan kekuatan penghulu setan, yakni Beelzebul. Yesus berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah, pasti binasa. Dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jika iblis juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimana mungkin kerajaannya dapat bertahan?”
Kuasa Yesus adalah kuasa Allah. Kalau Yesus menyembuhkan orang dan mengusir setan, itu berarti kuasa Allah sudah hadir. Allah nampak nyata dalam diri Yesus. Mari kita mohon agar kuasa Yesus merajai kita sehingga kita mampu menghalau kuasa si iblis.
Betapa indah memandangi rembulan.
Sambil duduk bersimpuh di rerumputan.
Marilah kita membangun kerukunan.
Agar kita kuat mengatasi segala perpecahan.
Cawas, pelajaran ngopi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 08.10.20 / Lukas 11:5-13 / Tempat Persinggahan
ADA dua paroki yang cukup lama saya layani. Di Paroki Pugeran (1998-2005) dan di Paroki Nanga Tayap, Ketapang (2009-2017). Banyak peristiwa indah di Tayap. Paroki ini letaknya sangat strategis. Ia ada di tengah-tengah wilayah Ketapang, dilewati jalur trans Kalimantan. Menjadi tempat persinggahan dari arah mana pun.
Waktu mengawali pelayanan, saya dihantar Bapak Uskup Mgr. Blasius dan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girreli. Beliau singgah di Tayap dalam perjalanan dari Ketapang menuju Paroki Tanjung. Baru kali ini seorang pastor diberi tugas di paroki, dihantar langsung oleh uskup dan Duta Besar Vatikan. 21 Juni 2009 adalah hari tak terlupakan.
Banyak romo-romo dari Pangkalan Bun singgah di Tayap, jika mereka pergi ke Pontianak. Romo-romo dari regio utara atau selatan, timur atau barat, sering singgah di Tayap dalam perjalanannya. Umat dari pedalaman juga sering menginap di Tayap jika mereka berurusan ke kota kabupaten.
Kapan saja pintu pastoran selalu terbuka untuk siapa pun yang datang. Bapak Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat pernah bermalam di Tayap. Bahkan gadis kurang waras pun pernah diterima singgah di Tayap.
Tidak hanya individu, tetapi juga rombongan ibu-ibu WK dari Randau, para katekis dari Botong dan Balai Berkuak. Bahkan rombongan mahasiswa-mahasiswi dari Atmajaya dengan naik bus dari Kumai, Kalteng. Mereka datang tengah malam, kami terima dengan sukacita.
Hospitality atau keramahan sebagai saudara adalah bagian dari ibadah. Jika kita menjadi tuan rumah yang baik, maka di mana pun kita berada, juga akan diterima dengan baik pula.
Yesus menggambarkan Allah adalah tuan rumah yang baik. Ia akan menolong siapa pun yang datang walau tengah malam sekalipun. Asalkan kita mau datang mengetuk pintu.
Doa adalah suatu usaha untuk meminta, mencari dan mengetuk. Siapa yang meminta akan diberi. Yang mencari akan mendapat. Yang mengetuk pintu akan dibukakan.
Doa itu terkait dengan peristiwa hidup sehari-hari. Doa harus dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Orang-orang yang datang kepada kita, meminta pertolongan, mencari tumpangan atau mengetuk pintu rumah kita adalah orang-orang yang sedang berdoa. Tuhan menggunakan kita untuk menerima, menolong dan menampung mereka.
Maka Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berani meminta, mencari dan mengetuk pintu. Tuhan punya banyak tangan untuk memberi, menolong dan membukakan pintu. Kitalah tangan dan pintu Tuhan untuk memberi mereka tumpangan. Tidak mungkin seorang bapa akan menelantarkan anaknya.
“Jika kalian yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, betapa pula Bapamu yang di surga.” Itulah Allah yang mahamurah. Bapa kita yang di surga. Maka Yesus mengajak kepada murid-murid-Nya untuk tidak sungkan-sungkan meminta, mencari dan mengetuk hati-Nya. Kita harus sering berdoa.
Malam-malam pakai kacamata.
Bukan silau tapi sedikit bergaya.
Betapa sulitnya kita berdoa.
Karena kita tidak mau meminta kepada-Nya.
Cawas. MC berkacamata gaya….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 07.10.20 / Lukas 11:1-4 / Tak Mungkin Seorang Ayah Tega
SEORANG ayah akan buru-buru menolong, jika anaknya jatuh. Tidak mungkin seorang ayah “njlomprongke” atau mendorong anaknya jatuh ke dalam jurang.
Seorang ayah atau ibu akan susah jika anaknya mengalami kesusahan atau penderitaan. Jika anaknya sakit, seorang ayah atau ibu ikut merasakan. Bahkan mereka rela tidak makan atau minum, asalkan anaknya hidup baik.
Pak Anang dan Bu Anang adalah orangtua yang baik. Mereka sangat mengasihi anak-anaknya. Ketika Iber, anak sulungnya sakit, Pak Anang berusaha dengan sekuat tenaga mengobatinya.
Mereka membawanya ke rumah sakit di Pontianak yang jaraknya 300 km lebih dengan kondisi jalan yang sulit dan berat. Tidak cukup di situ. Berobat ke Penang pun diusahakan. Yang penting anaknya sembuh.
Begitulah seorang bapa yang baik, selalu mengusahakan keselamatan bagi anaknya. Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan sebuah doa yakni Doa Bapa Kami.
Bila kalian berdoa, katakanlah: “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
Yesus menyebut Allah itu Bapa kita, Bapa yang baik. Pertama kita diajak memuji dan memuliakan nama-Nya. Baru kemudian kita memohon rejeki dan pengampunan. Kita mohon supaya Bapa tidak membiarkan kita masuk ke dalam pencobaan, penderitaan.
Bulan Juni 2019, Paus Fransiskus telah mengijinkan adanya perubahan dalam teks doa Bapa Kami. Kalimat yang diubah dalam doa itu adalah “dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan” menjadi “dan jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Doa yang lama itu seolah-olah menjelaskan Tuhan sendiri yang membuat pencobaan kepada manusia.
“Saya sendiri yang terjatuh. Dia (Tuhan) tentu tidak akan dengan sengaja mendorong saya ke dalam pencobaan hanya untuk melihat seberapa jauh saya terjatuh,” kata Paus Fransiskus.
Kita sebagai bapa yang berdosa saja tidak tega melihat anaknya menderita. Apalagi Allah sumber berbelaskasih, pasti tidak akan merelakan anaknya masuk ke dalam pencobaan atau ujian yang berat.
Awalnya teks doa Bapa Kami yang kita pakai berasal dari terjemahan bahasa Yunani. “Peirasmos” diterjemahkan sebagai pencobaan atau ujian. Bahasa asli doa Bapa Kami adalah bahasa Aram yang dipakai Yesus. Dari bahasa Yunani diterjemahkan oleh St.Hieronimus ke dalam bahasa Latin.
Kita semua yakin dan percaya, seorang bapa akan menjamin keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya. Demikian pun Allah pasti tidak akan menyiapkan pencobaan atau ujian bagi kita.
Kita sendirilah yang sering salah arah atau coba-coba menyeleweng mencari jalan sendiri sampai jatuh ke dalam pencobaan. Doa Bapa Kami meyakinkan kita bahwa Allah sumber belaskasih itu menjamin keselamatan kita.
Pergi ke pasar membeli mangga.
Lebih nikmat kalau diberi tetangga.
Bapa yang baik mengasihi anaknya.
Ia akan siap berkorban apa pun juga.
Cawas, punctanya laris manis….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 06.10.20 / Lukas 10:38-42 / Sibuk Pelayanan Keluarga Berantakan
PADA awalnya saya kagum dengan seorang ibu yang sangat aktif berkegiatan di gereja. Dia pegang timja panggilan. Bahkan menjadi donatur bagi para seminaris di paroki. Masih juga membantu mengajar katekumen. Tugas utamanya adalah guru agama di sekolah. Kesibukan pelayanan di gereja sungguh luar biasa. Bisa dikatakan hari-harinya sebagian besar untuk “melayani”.
Pernah suatu hari minggu saya memimpin misa, ibu itu menjadi lektor. Saya memberkati perkawinan, ibu itu masuk di kelompok koor. Saya ikut rapat persiapan baptisan bayi, ibu itu ikut hadir dalam rapat. Dia terlibat dalam rekoleksi orangtua calon baptis. Sore hari ada rapat tim panggilan paroki, ibu itu memimpin rapatnya. Dari pagi sampai malam, waktunya dipakai untuk gereja. Saya berpikir kapan ada waktu untuk keluarga, suami dan anak-anaknya?
Ketika ditelusuri lebih jauh, kesibukan melayani di gereja itu sebenarnya hanya pelarian saja. Ternyata keluarganya berantakan. Keluarga “broken home.” Suaminya punya WIL. Kalau di gereja duduk bersama, kelihatan baik. Tetapi di rumah tidak saling tegur sapa. Anak-anaknya tinggal di apartemen. Tidak ada komunikasi baik antar anggota keluarga. Rumah ibarat hotel bintang lima. Hanya menjadi tempat meletakkan kepala.
Saya pernah mengajak berdialog, supaya keluarga lebih diutamakan daripada kesibukan di berbagai kegiatan. Jangan sampai keluarga dikurbankan. Sibuk di berbagai kegiatan hanya menjadi alasan untuk lari dari keluarga. Jangan merasa bangga kelihatan baik di luar, tetapi di dalam keluarga hancur berantakan.
Injil hari ini berbicara tentang Marta dan Maria. Marta sibuk melayani Yesus dan para murid-Nya. Ia lari kesana kemari menyibukkan diri dengan berbagai urusan. Ada orang yang bangga kalau dilihat sedang punya banyak kesibukan. Ia senang dipuji karena punya banyak prestasi. Kita tidak tahu bahwa di dalam hatinya sangat tertekan, entah karena tuntutan orangtua, keadaan atau takut dianggap gagal. Marta terlalu sibuk tetapi tidak tahu tujuannya.
Maria telah memilih bagian yang terbaik. Antara karya dan doa, gereja dan keluarga, aksi dan kontemplasi itu harus seimbang. Kita mesti pandai-pandai membuat keseimbangan antara kesibukan, kerja, tugas dengan doa, ibadah dan amal kasih. Tidak bijaksana juga terlalu sibuk pelayanan tetapi keluarga hancur berantakan. Jangan pernah mengorbankan keluarga. Jangan merasa paling penting dan dibutuhkan. Tuhan punya banyak tenaga dan cara untuk mengurus gereja-Nya.
Puncta sekarang sudah dibukukan.
Siapa berminat silahkan pesan.
Keluarga kita akan berantakan,
Kalau tidak ada cinta dan pengorbanan.
Cawas, menunggu 75 ribuan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr