Renungan Harian

Puncta 21.07.20 / Matius 12:46-50 / “Dudu Sanak Dudu Kadang Yen Mati Melu Kelangan.”

 

SALAH satu film favoritku adalah Dances With Wolves yang dibintangi Kevin Costner. Letnan John Dunbar bertugas di pos perbatasan. Wilayah itu dihuni oleh Suku Indian Sioux.

Relasi mereka diawali dengan kecurigaan dan permusuhan. Namun perjumpaannya dengan perempuan suku Sioux, “Stand With First” membuat John Dunbar makin saling mengenal.

John boleh tinggal di tengah mereka. Stand With First menjadi penterjemah. Mereka menjadi sahabat dan John bahkan diterima sebagai keluarga.

Ketika Suku Pawnee yang kejam menyerbu Suku Sioux, John membantu mengalahkan Suku Pawnee. Hubungan mereka makin mendalam. John diterima sebagai warga suku.

Karena John menjadi warga Suku Sioux, dianggapnya dia berkianat oleh orang kulit putih. Maka tentara menyerbu pemukiman Sioux. John harus menentukan pilihan, kembali ke batalyon atau berjuang mempertahankan sukunya.

Ia memilih berjuang bersama Suku Sioux sampai habis. Banyak warga Sioux terbunuh. John dan istrinya Stand With First menyelamatkan diri.

Hari ini Yesus dihadapkan pada ibu dan saudara-saudarinya yang akan menemui Dia. Tetapi Yesus menjawab kepada orang banyak, “Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah saudara-saudara-Ku?”

Dan sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya Dia berkata, “Inilah ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku. Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”

Yesus memperluas relasi saudara bukan hanya berdasarkan hubungan darah, tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga.

“Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan,” artinya bukan sanak bukan saudara tetapi kalau mati ikut merasakan kehilangan.

Kendati bukan sanak bukan saudara, namun kalau kita berbuat baik melakukan kehendak Allah, mereka itu juga saudara-saudari kita. Kita juga merasakan kehilangan karena kebaikan dan ketulusan hatinya.

Seperti John Dunbar dengan Suku Sioux, awalnya mereka saling bermusuhan, curiga. Tetapi kemudian mereka berteman dan saling menerima bahkan kemudian saling mengasihi. Lalu John rela mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Sioux.

Bagi Yesus, mereka yang disebut saudara bukan hanya karena hubungan darah. Tetapi siapa pun yang melaksanakan kehendak Bapa-Nya, dia itu adalah saudara-Nya. Apakah kita mau melakukan kehendak Bapa di surga?

Bermekaran aneka bunga.
Tumbuh indah di taman doa.
Marilah kita menjadi saudara.
Jika kita melakukan kehendak Bapa.

Cawas, ngasi bunga….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.07.20 / Matius 12:38-42 / Tanda Atau Pralambang

 

Kalung emas sing ana gulumu
saiki wis malih dadi biru.
Luntur kaya tresnamu, luntur kaya atimu
saiki kowe lali karo aku.

Syair lagu Didi Kempot itu kira-kira artinya begini; Kalung emas yang ada di lehermu, sekarang sudah berubah jadi biru, luntur seperti cintamu, luntur seperti hatimu. Sekarang engkau sudah lupa sama aku.

Dari warna kalung yang sudah berubah warnanya itu, si pemberi mendapat perlambang bahwa cinta kekasihnya sudah luntur dan tidak tersisa lagi. Kini kekasihnya sudah melupakannya. Bisa jadi dia sudah berpaling dengan pria lain.

Kalung emas yang sudah berubah rupa itu memberi tanda kekasihnya meninggalkan dan melupakannya. Dia mengungkapkan perasaannya; “Lara atiku, atiku kelara-lara. Rasane nganti tembus neng dada. Nangisku iki merga kowe sing njalari. Kebangeten apa salahku iki?”

(Sakit hatiku, sungguh aku merasakan sakit sekali. Rasanya sampai tembus di dada. Tangisku ini akibat tingkah lakumu. Sungguh terlalu, apa salahku ini?) Kalung yang sudah berubah jadi biru itu tanda atau pralambang putusnya ikatan cinta.

Hari ini ahli-ahli Taurat dan orang Farisi berkata kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Yesus mengajar dan memaklumkan bahwa Dia adalah Anak Manusia.

Gelar ini adalah gelar ilahi. Gelar ini sejajar dengan Mesias, Kristus, Putera Allah. Ia berkata,

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian pula Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”

Mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan Yesus. baru setelah kebangkitan, para murid memahami maksud sabda Yesus ini. Kematian dan kebangkitan Yesus itulah tanda bahwa Dia adalah Anak Allah.

Tetapi ahli-ahli Taurat dan orag Farisi tidak mempercayai-Nya. Hanya orang yang punya kepekaan dan kedekatan relasi akan melihat tanda.

Suami istri yang sangat peka dan erat relasinya akan memahami tanda-tanda yang diberikan pasangannya. Kata-kata atau isyarat-isyarat kecil saja sudah mengungkapkan maksud hati mereka.

Maka kita diajak membangun relasi erat dan mesra dengan Yesus, agar kita mengerti tanda dan kehendak-Nya. Kita bisa peka apa kehendak Tuhan dan mampu melaksanakannya kalau ada relasi dekat dengan-Nya.

Relasi itu dapat kita bangun lewat doa-doa kita. Sejauh mana kita selalu mempunyai waktu untuk berdoa kepada Tuhan?

Siji loro telu papat.
Hasile nganti pirang-pirang kwadrat.
Jika kita punya relasi dekat.
Kita akan mudah menangkap isyarat.

Cawas, playgroup……
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.07.20 / Minggu Biasa XVI / Matius 13:24-43

“Musim Panen Tiba”

PADA saat ini sedang musim panen padi di Cawas. Gereja Cawas itu gereja mewah, artinya “mepet sawah.” Di samping tembok gereja Cawas terbentang sawah yang luas.

Saya bisa memandang dari atas teras dekat lonceng gereja. Mulai dari mengolah tanah, menyebar benih, menanam bibit dan menyiangi, memupuk dan memanen, semua dikerjakan para petani dengan tekun dan sabar.

Ketika mulai tumbuh besar, kelihatan antara padi dan “jawan” atau ilalang. Walaupun sudah disiangi, tetap ada yang tumbuh bersama. Padi yang bernas tumbuhnya merunduk ke bawah. Rumput ilalang tumbuh tegak menjulang ke atas. Ilalang akan dicabut, dibuang dan dibakar. Padi yang sudah digiling masuk ke lumbung.

Yesus memberi gambaran sederhana bagaimana Kerajaan Allah itu bisa dijelaskan. Kita ini adalah benih-benih yang ditabur di tengah dunia. Dunia adalah lahan dimana benih itu tumbuh.

Benih tumbuh bersama dengan ilalang. Ilalang adalah iblis yang menghalangi kita mengembangkan potensi diri. Iblis menggoda kita agar tidak menghasilkan buah yang baik.

Tuhan menabur benih baik. Tinggal bagaimana kita berkembang. Apakah menyerah oleh himpitan ilalang atau kita berjuang mengalahkan ilalang.

Tuhan akan membantu kita dengan menyiangi, memupuk dan memberi air cukup agar kita tetap tumbuh berkembang. Orang-orang di sekitar kita adalah pupuk dan air kehidupan yang memberi semangat bagi pertumbuhan kita. Mereka adalah orang-orang yang diutus Tuhan untuk mendukung kita.

Kita ini adalah benih-benih gandum, bukan ilalang. Maka hasilkanlah kebaikan, kerendahan hati, cinta kasih, pengampunan dan kemurahan hati sebagaimana Bapa murah hati.

Musim panen adalah hari akhir. Tuhan akan memilah-milah antara gandum dan ilalang. Gandum yang baik akan dimasukkan ke lumbung. Itulah gambaran Kerajaan Allah. Ilalang akan diikat dan dibakar. Itulah hukuman neraka.

Kalau kita tidak menghasilkan kebaikan kita akan dibuang dan dicampakkan. Marilah kita berjuang untuk menghasilkan buah yang baik bagi kehidupan.

Perjalanan panjang selalu diawali dengan langkah pertama. Mari kita membuat langkah yang benar. Tidak perlu membuat hal yang muluk-muluk, hebat dan sulit. Cukuplah melakukan kebaikan-kebaikan kecil di sekitar kita.

Naik gunung dengan susah payah.
Kalau sampai di puncak terasa senang.
Jadilah benih yang menghasilkan buah.
Jangan jadi ilalang yang akan dibuang.

Cawas, SOS pengin edamamae….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.07.20 / Matius 12:14-21 / Menjadi Bagian Dari Solusi

 

SEORANG pimpinan perusahaan memperhatikan bagaimana reaksi seseorang jika menghadapi sebuah hambatan atau rintangan. Ia memasang batu di tengah jalan. Ia memperhatikan bagimana orang yang lewat di situ.

Seorang pemuda naik sepeda motor. Ia menabrak batu itu dan jatuh terjerembab. Dia marah-marah dan menyalahkan orang yang memasang batu di situ. Pemuda yang lain naik sepeda. Ia tahu ada batu di tengah jalan. Ia menghindar dan melenggang.

Ada pemuda miskin yang berjalan melewati tempat itu. Ia melihat batu di tengah jalan. Ia mengangkat batu itu dan menyingkarkannya di tepi. Ia melihat ada kertas kecil di bawah batu.

Ia membaca tulisan di dalamnya, “Datanglah ke kantor saya. Anda akan mendapat pekerjaan yang layak karena anda telah melakukan tindakan kecil ini.”

Yesus tahu bahwa ada banyak orang bersekongkol untuk membunuh Dia. Ia menyingkir dari mereka. Tidak ada gunanya berhadapan langsung dengan orang-orang yang mau membunuh-Nya.

Kalau kekerasan dihadapi dengan kekerasan, maka seperti pemuda yang naik motor menabrakan diri ke batu. Hasilnya akan terjerembab jatuh.

Yesus menyingkir dari mereka dan banyak orang tetap mengikuti-Nya untuk disembuhkan. Apa yang dikatakan oleh Nabi Yesaya itulah kebaikan Allah.

Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak terdengar di jalan-jalan. Ia tidak akan melawan. Ia tetap menunjukkan belaskasihan kepada mereka yang memusuhi-Nya.

Ia tidak akan menghukum atau menjatuhkan pembalasan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.

Ia tetap menunjukkan kasih-Nya dan membiarkan mereka tetap punya harga diri, berdiri tegak dan tetap menyala.

Ada tiga pola menghadapi masalah. “Antem krama” langsung tabrak urusan belakang. Kedua, menyingkir atau menghindari masalah. Ketiga, menyelesaikan dengan mencari solusi yang baik.

Bagi Yesus tidak berlaku istilah “antem krama”. Ia menyingkir lebih dahulu dan menemukan solusinya dengan tetap mengasihi dan menyembuhkan mereka. Ia tetap menghargai “buluh yang patah dan api yang hampir padam.”

Mari kita menghargai mereka yang hampir patah dan memberi semangat pada api yang hampir padam.

Mari kita menjadi bagian dari solusi agar buluh tidak patah dan api tidak padam.”Aik ce tokah, api ce padam” kata Pak Bosran.

Panas matahari begitu menyengat.
Menyiram rumput pada waktu malam.
Berilah asa bagi yang patah semangat.
Kobarkan gelora bagi yang mau padam.

Cawas, rumput hijau…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.07.20 / Matius 12: 1-8 / Hari Baik Untuk Menikah

 

ORANG Jawa sangat rumit menghitung hari perkawinan. Ada hari baik dan hari tidak baik yang harus dihindari. Kalau keluargamu mau berjalan langgeng dan damai, maka harus memilih hari yang baik untuk menikah.

Senin dan Rabu pada Bulan Besar (Bulan Jawa) itu saat yang baik untuk menikah. Ada hitungan rumit yang harus dibuat untuk menentukan hari pernikahan.

Misalnya, saya lahir hari Sabtu Kliwon, pasangan saya lahir hari Rabu Pahing. Sabtu Kliwon itu jumlah neptunya 17, sedangkan Rabu Pahing itu jumlah neptunya 16. Lalu keduanya digabungkan, hasilnya 33.

Variabel ini menghasilkan nasib pasangan. Meski sering berselisih tetapi kehidupan perkawinan ini akan langgeng. Menurut buku primbon Jawa, ada hari-hari pantangan untuk melakukan sesuatu.

Kalau dilanggar, boleh percaya boleh tidak, akan menemui nasib sial, malang, atau kerugian. Hari-hari baik untuk menikah misalnya, Weton Kamis Legi, Jumat Pon, Senin Pahing, Minggu Kliwon, Sabtu Wage.

Kalau orang sudah keukeh percaya pada hari-hari seperti itu, sulit untuk diajak dialog dan takut ada nasib buruk. Hari-hari lain dianggap tidak baik. Kalau melanggar, pasti akan mendapat musibah.

Pemahaman yang hampir mirip dihadapi Yesus, ketika orang-orang Farisi mempertanyakan tindakan para murid yang tidak mentaati hukum sabat.

“Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Bagi orang Farisi hari Sabat adalah hari keramat yang tidak boleh dilanggar.

Hari Sabat adalah hari yang dikhususkan untuk Tuhan. Manusia tidak boleh melakukan apa pun pada hari itu. Melanggar hukum Tuhan berarti dosa atau dianggap kafir.

Bagi kaum Farisi, hukum di atas segala-galanya. Mereka sangat detail dan teliti menaati aturan-aturan. Maka ketika ada orang tidak menaati aturan mereka gusar dan tidak nyaman.

Melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat, membuat mereka geram dan protes. “Mengapa kalian tidak menjunjung dan menghormati hari Sabat?”

Mereka menganggap dengan mengikuti aturan, hidup mereka sudah beres, bersih, saleh dan selamat.

Pertama-tama Yesus meluruskan paham yang dikotomis itu. Semua hari diciptakan Tuhan adalah baik. Maka kita boleh melakukan apa pun dan kapan pun demi kebaikan. Yang lebih ditekankan bukan persembahannya tetapi belaskasihan atau compasion bagi orang lain.

Kedua, Yesus memaklumkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dialah yang menciptakan dan menguasai segala waktu, juga atas hari Sabat. Tuhan menciptakan semua hari adalah baik.

Maka gunakanlah hari-harimu untuk melakukan belas kasih bukan untuk menindas atau menghukum orang.

Pak guru menerangkan pelajaran matematika.
Enam sembilan ribu dikurangi tiga tiga ribu adalah…
Hidup akan terasa bahagia dan sukacita.
Kalau kita tekun melaksanakan kehendak Allah.

Cawas, milih limapuluhan….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr