Renungan Harian

Puncta 16.07.20 / Matius 11:28-30 / Yohanes Maria Vianney

 

SEBAGAI imam muda ia ditugaskan di kota kecil pedalaman, Ars, Perancis. Masyarakatnya tidak peduli dengan hidup rohani. Mereka minum mabuk, dansa-dansi sepanjang malam, tidak pernah ke gereja pada hari minggu.

YM Vianney menghadapi umat yang tidak mengenal Tuhan layaknya. “Menderita dengan penuh kasih adalah tidak lagi menderita” katanya. Mungkin saking beratnya mempertobatkan mereka.

Ia sungguh merasakan beban yang berat melayani umat di Ars. Tetapi ia tidak pernah berhenti berdoa untuk memperoleh jiwa-jiwa yang harus diselamatkan. Ia rindu selalu datang kepada Yesus dalam doa-doa hening pribadi.

“Ya Tuhan-ku, lebih baiklah aku mati mencintai-Mu daripada hidup barang sejenak tanpa mengasihi-Mu…. Aku mengasihi Engkau, ya Juruselamat Ilahi-ku, sebab Engkau telah disalibkan bagi kami… sebab aku telah disalibkan bagi-Mu.”

Konon Ars hanya berpenduduk 230 jiwa ketika dia datang 1818. Pada tahun 1858 ada 80.000 jiwa mengunjungi Ars dan melakukan pertobatan karena Yohanes Maria Vianney yang saleh dan tekun berdoa.

Hari ini Yesus berkata, “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenagan.”

Pastor dari Ars itu senantiasa datang kepada Yesus dalam doa, penyangkalan diri, matiraga. Relasi akrab dengan Tuhan itu nampak dalam kesalehan hidupnya, sehingga banyak orang datang kepadanya. Mereka mengalami pertobatan dan bersedia memperbaharui diri melalui orang kudus dari Ars.

Ketika kita mau datang kepada Yesus, kita akan mengalami kelegaan dan ketenangan. Kedekatan dengan Yesus pada akhirnya menghasilkan buah hidup yang berlimpah.

Teladan hidup Pastor sederhana dari Ars itu adalah wujud kongkretnya. Hidup doa yang mendalam itulah kekuatan Pastor dari Ars. Banyak pastor sekarang tidak mempunyai hidup doa yang mendalam.

Ada banyak alasan, sibuk berpastoral, sibuk melayani umat, sibuk seminar, retret, pembinaan-pembinaan. Semua alasan rohani bisa diajukan untuk mengatakan tidak punya waktu pribadi lagi dengan Tuhan.

Kadang yang terlihat justru sibuk dengan HP (Ssstt… ada yang hpnya sampai 3 buah) dan asyik dengan hobbynya sendiri.

Belajar dari Yohanes Maria Vianney, kita diajak memberi waktu khusus untuk menanggapi undangan Yesus, “Datanglah kepada-Ku….”

Subur dalam doa, juga subur dalam karya. Karya pastoral tidak akan terbengkelai hanya karena kita punya banyak waktu untuk berdoa.

Tigaratusan ribu dapat dibagi menjadi tiga.
Limapuluh ribu boleh diangsur sampai lima.
Yesus mengundang kita datang kepada-Nya.
Hati kan lega penuh damai dan sukacita.

Cawas, tigaratusan ribu….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 15.07.20 / PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja / Matius 11:25-27

 

Keluarga Cemara

DEKADE 90-an sinetron TV berjudul Keluarga Cemara digandrungi banyak orang, bahkan sampai sekarang pun belum ada film keluarga yang mampu menandingi popularitasnya.

Sinetron ini diangkat dari novel karangan Arswendo Atmowiloto dengan judul yang sama. Kisah keluarga sederhana yang sangat inspiratif dan penuh kasih di dalamnya.

Keluarga Cemara mengingatkan pemirsa bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, bukan emas, bukan perak, bukan kekayaan berlimpah. Kehidupan yang biasa menjadi luar biasa kalau di dalamnya ada cinta kasih, kejujuran, pengampunan, kesetiaan dan kerendahan hati.

Keluarga Cemara adalah contoh orang-orang kecil sederhana yang dianugerahi kebijaksanaan dalam menghadapi hidup yang serba keras dan kejam. Nilai kejujuran diajarkan kepada anak-anak dengan contoh teladan Abah.

Dari keluarga ini kita juga belajar bahwa hidup sederhana tetap bisa bahagia. Kita bisa belajar kebijaksanaan hidup justru dari mereka yang kecil dan sederhana.

Pada pesta Santo Bonaventura, uskup dan pujangga gereja ini, kita diingatkan oleh Yesus bahwa kebijaksanaan Allah itu sering tersembunyi bagi orang cerdik pandai tetapi justru menjadi jelas dalam kehidupan orang kecil sederhana.

“Aku bersyukur kepada-Mu ya Bapa, Tuhan langit dan bumi. Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya, Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.”

Hidup tidak selalu mudah, tetapi Abah menghadapinya dengan penuh ceria dan harapan. Ia tidak lari dari tanggungjawab untuk keluarganya. Asal “gelem obah bakal mamah” artinya asal mau kerja pasti dapat rejeki.

Kerja apa pun dilakukan asal halal. Euis memahami keadaan orangtuanya. Ia tidak hidup mewah seperti teman-temannya. Ia rela membantu orangtua berjualan opak di sekolah. Ini semangat sederhana dan rendah hati.

Pesan yang paling menonjol dalam keluarga cemara adalah nilai kejujuran. Mereka memperjuangkan kejujuran kendati hidup sederhana. Orang jujur akan dipercaya banyak orang. keluarga sederhana bisa bahagia karena di dalamnya ada cinta.

Bahagia itu tidak harus punya mobil mewah, rumah mewah, harta berlimpah. Kalau tidak ada kasih, semua itu hanya benda mati. Sering terjadi warisan kekayaan justru jadi rebutan anak-anak di pengadilan.

Anggota keluarga saling bermusuhan karena rebutan harta warisan. Keluarga bisa bahagia, walau hidup sederhana kalau dibangun atas dasar kasih dan kejujuran.

Jalan pagi di sekitar perumahan.
Menikmati cahaya lampu yang temaram.
Bukan karena harta atau kekayaan.
Kebahagiaan ada di lubuk hati terdalam.

Cawas, gerundel-gerundelan…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 14.07.20 / Matius 11:20-24 / Bathari Uma Dikutuk Menjadi Durga

 

MANIKMAYA atau Bathara Guru atau Dewa Siwa naik lembu Andini bersama istrinya Bathari Uma yang cantik. Mereka melanglang buana. Karena tertiup angin tersingkaplah kain yang menutupi tubuh molek Dewi Uma, menimbulkan birahi Dewa Siwa.

Ia ingin bermain asmara dengan Dewi Uma. Tetapi Uma menolak karena sedang berada di atas seekor lembu. Siwa marah dan mengutuk Uma menjadi raksasa perempuan yang buruk rupa.

Matanya melotot merah. Mulutnya menganga dengan taring yang panjang. Tangannya berjumlah delapan. Suaranya menggelegar menakutkan. Ia dikutuk menjadi Bathari Durga yang berdiam di Pasetran Gandamayit tempat para lelembut, jin, setan, asura drupeksa, ilu-ilu banaspati, engklek-engklek balung atandak jrangkong warudoyong wewe jangggidan indu lan keblak.

Itu semua adalah sebangsa jin setan hantu pocong. Bathari Durga akan kembali menjadi dewi cantik jika nanti diruwat oleh Sadewa atau Sudamala, si bungsu Pandawa.

Menurut Romo Prof. Zoetmulder SJ kisah lisan abad XVII ini tergambar dalam relief Candi Sukuh dan Candi Cetho di kaki Gunung Lawu, Karanganyar.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengecam tiga kota yakni Betsaida, Khorazim dan Kapernaum. Betsaida adalah kota asal Filipus, Andreas dan Simon Petrus. Kapernaum adalah kota pusat pelayanan Yesus. Capernaum, the city of Jesus.

Di kota-kota itu Yesus banyak mengajar dan membuat mukjijat. Mereka menerima Yesus namun mereka tidak mau bertobat. Mereka senang mendengarkan pengajaran Yesus, namun mereka tidak hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Yesus mengecam dan mengutuk mereka. Tanggungan Sidon dan Tirus masih lebih ringan.
Tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada Kapernaum.

Kita mengakui menjadi murid-murid-Nya. Tetapi kita masih hidup dengan cara kita sendiri. Kita bangga dengan nama baptis kita, tetapi pola hidup kita jauh dari nilai-nilai luhur para kudus itu.

Tidak ada artinya nama baptis, atau mengaku menjadi murid-Nya, jika hidup kita tidak berpola seperti hidup Yesus. Mungkin kita juga sama seperti orang-orang di Betsaida, Khorazim atau Kapernaum. Kita hanya senang melihat mukjijat Yesus tetapi tidak sungguh percaya kepada-Nya.

Jika demikian, kita pun menjadi alamat kecaman Yesus. Jika hidup kita tidak berubah dan bertobat, maka kita akan mengalami peristiwa Sodom dan Gomora.

Bisa jadi kalau kita renungkan, kehadiran covid19 ini adalah peringatan Tuhan kepada manusia. Kita harus berbenah, berubah, bertobat dan kembali kepada pola hidup Yesus.

Setiap hari minum obat.
Agar badan sehat, jiwa tidak lemah.
Marilah kita bertobat.
Hidup menurut kehendak Allah.

Cawas, pisang gendruwo….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 13.07.20 / Matius 10:34-11:1 / Tidak Egois, Rela Berkorban

 

SEORANG pengemis mengumpulkan makanan untuk hidupnya. Namun selalu dicuri oleh tikus. “Hei tikus, kenapa kamu mencuri makananku.”

Tikus itu menjawab, “kamu tidak akan punya lebih dari tiga jenis makanan, itulah takdirmu. Tanyakan kepada Sang Budha.” Kata tikus.

Pengemis muda itu mengembara mencari Sang Budha. Ia menginap di suatu rumah. Tuan rumah punya anak gadis yang tidak bisa bicara. “Anak muda jika kamu ketemu Budha, tanyakan kenapa anakku tidak dapat bicara.”

Pengemis itu berterimakasih atas tumpangan dan melanjutkan perjalanan. Ia harus melewati gunung dan lembah. Ia bertemu dengan penyihir yang sudah hidup ribuan tahun dengan tongkatnya. Ia membawa pengemis itu terbang melintasi gunung dengan tongkatnya.

Penyihir juga meminta, “Tanyakan kepada Budha, seharusnya saya sudah masuk surga, kenapa saya belum juga bisa pergi ke sana?”

Lalu pengemis itu tiba di pinggir sungai yang lebar. Ia berjumpa dengan kura-kura raksasa yang bersedia menyeberangkan pengemis itu.

Sambil berenang kura-kura itu berkata kepada anak muda itu, “Coba tanyakan juga kepada Sang Budha, saya sudah hidup sangat lama, seharusnya saya sudah menjada naga, kenapa belum bisa menjadi naga?”

Akhirnya pengemis itu ketemu Sang Budha. Sang Budha hanya mau menjawab tiga pertanyaan. Pengemis itu punya empat pertanyaan.

Ia merasa kasihan kepada kura-kura, penyihir dan gadis malang yang tidak bisa bicara. Ia sadar beban masalahnya tidak sebesar yang mereka hadapi. Ia memutuskan untuk bertanya tentang masalah mereka.

Budha menjawab, “Kura-kura tidak mau meninggalkan tempurungnya. Kalau ia mau, ia bisa menjadi naga. Penyihir itu tidak mau melepaskan tongkatnya. Tongkat itu menghalangi dia ke surga. Dan gadis itu bisa bicara kalau dia ketemu belahan jiwanya.”

Pengemis itu kembali kepada kura-kura. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis itu, “Kamu harus mau melepaskan tempurungmu.”

Kura-kura melepaskan tempurungnya. Di dalamnya ada banyak mutiara. Ia berikan mutiara itu kepada pengemis. “Aku tidak membutuhkan semua ini.” Lalu ia berubah menjadi naga.

Pengemis itu bertemu dengan si penyihir. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis, “Kamu harus melepaskan tongkatmu. Tongkatmu itu seperti jangkar yang menghambat engkau ke surga.” Ia memberikan tongkatnya kepada si pengemis. Ia pergi ke surga. Pengemis itu membawa mutiara yang sangat berharga dan tongkat ajaib.

Pengemis itu singgah di pondok orangtua yang anak gadisnya bisu. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis itu, “Ia bisa bicara kalau ketemu belahan jiwanya.”

Si gadis keluar dan menemui pengemis muda itu dan berkata, “Bukankah engkau yang singgah di sini seminggu yang lalu?” Akhirnya mereka menemukan cintanya dan hidup dalam damai sejahtera.

Ketika kita berani meninggalkan segalanya, kita akan memperoleh semuanya. Pengemis itu mengorbankan pertanyaan dirinya sendiri untuk diajukan kepada Sang Budha.

Namun ia justru mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya. Yesus berkata, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperoleh kembali.”

Tiup lilin di perantauan.
Berdendang riang sambil tepuk tangan.
Kalau kita rela berkorban.
Kita akan mendapat lebih dari yang diharapkan.

Cawas, meniup lilin..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.07.20 / Minggu XV / Matius 13:1-9 (singkat)

 

Lingkungan Membentuk Karakter Seseorang

KARAKTER seseorang banyak dibentuk dari lingkungan dimana dia tinggal. Ada orang yang karakter pribadinya keras, lembut, pemarah, disiplin, rajin, tekun, egois, suka menolong.

Karakter itu dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Kalau anak memperoleh teladan hidup yang baik, maka karakternya akan tumbuh dengan baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau lingkungan hidupnya keras, kejam dan senang berontak, maka dia bisa terbentuk seperti itu.

Karna Basusena sebetulnya putera bangsawan. Ia keturunan Raja Mandura dari Dewi Kunti. Tetapi karena sejak remaja dia bergaul dengan para Kurawa, yang bertabiat buruk, licik, kejam, “adigang, adigung, adiguna” maka dia membela Kurawa daripada bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa.

Di tanah macam apakah benih itu jatuh, akan sangat berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tanah. Lingkungan dimana benih itu jatuh mempengaruhi karakter benih itu sendiri.

Yesus berkata, “Ada seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung-burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tumbuhan itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berduri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enampuluh ganda, ada yang tigapuluh ganda.”

Ada orangtua yang memberi nasehat, “aja cedhak kebo gupak.” Harafiahnya berarti jangan mendekati kerbau yang penuh lumpur, nanti akan terkena lumpurnya.

Kalau tidak mau menjadi kotor maka jangan bergaul dengan lingkungan yang kotor. Lingkungan dimana benih itu jatuh akan sangat berpengaruh. Kalau jatuh di tanah yang baik, maka akan menghasilkan berlipat-lipat.

Kita bisa menelusuri latar belakang pribadi seseorang dengan melihat dari mana dia berasal. Kalau orang itu berasal dari keluarga yang keras, orangtua suka menghukum dengan cambuk, saudara-saudaranya penuh dengan kompetisi, maka situasi seperti itu akan membentuk kepribadiannya.

Relasi dengan orang lain dipengaruhi oleh karakter itu. Kalau di keluarga tidak ada komunikasi, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, tiap hari hanya pegang HP, maka orang akan cenderung menyendiri dan menjauhi sosialita sekitarnya.

Maka bijaksanalah memilih lingkungan pergaulan. Pandai-pandailah bergaul dengan orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai jatuh di tanah tandus, berbatu atau penuh semak duri. Engkau akan menyesal nanti.

Naik kuda kaki menjejak.
Berkelejat tak kenal lelah.
Di tanah mana kita berpijak.
Tanah baik hasilnya melimpah.

Cawas, hari bahagia….
Rm. A. Joko Purwanto,Pr