Puncta 18.04.19 Hari Raya Kamis Putih Yohanes 13:1-15 Teladan Kerendahan Hati

“AKU memintamu sebagai saudara untuk tetap damai”, kata Paus Fransiskus kepada para pemimpin Sudan Selatan yang telah lama bertikai karena perang saudara. Pada tanggal 11 April 2019 para pemimpin Sudan Selatan diundang Paus selama dua hari di kediaman pribadinya di Vatikan.

Ada kejadian tak lazim waktu itu. Presiden Salva Kiir dan Riek Machar, pemimpin pemberontak serta tiga wakil presiden yang hadir di kediaman Paus, terpana dan tidak menduga ketika pemimpin Gereja Katolik sedunia itu berlutut dan mencium sepatu mereka satu per satu.

Paus memohon kepada mereka agar rakyat Sudan tidak jatuh kembali dalam perang saudara yang telah menelan korban 400.000 jiwa dan sepertiga dari jumlah penduduk 12 juta jiwa menjadi pengungsi.

Hal ini adalah lambang kerendahan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya, seorang pimpinan tertinggi gereja Katolik mencium kaki para pemimpin negara lain. Biasanya Paus mencium kaki para tahanan, tuna wisma saat perayaan Kamis Putih.

Hari ini gereja mengenang perjamuan Tuhan. Selain itu kita diajak meneladan semangat kerendahan hati Yesus yang membasuh kaki murid-muridNya. “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, maka kamu pun wajib membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu”.

Merendahkan diri bukan tindakan yang hina. Justru orang yang mau merendahkan diri, ia mempunyai martabat yang luhur. Banyak tokoh dunia dihormati karena sikapnya yang mau merendahkan diri; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Mother Teresa.

Pelajaran merendahkan diri dapat kita petik dari bulir-bulir padi. Padi yang bernas isinya akan menunduk, sedang padi yang kosong tak berisi akan pongah menjulang ke atas. Orang yang “berisi” tidak akan menyombongkan diri, sebaliknya mereka yang “kosong” malah memamerkan dirinya.

Benarlah apa yang diajarkan Yesus, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kalau kita ingin dihormati oleh sesama, maka hormatilah mereka.

Kalau kita ingin dilayani, maka layanilah mereka. Yesus telah memberi teladan sikap kerendahan hati, marilah kita mempraktekkannya dalam hidup nyata di keluarga, komunitas dan di tengah masyarakat.

Menambang emas di pinggir kali
Airnya keruh sewarna kopi
Marilah kita merendahkan diri
Pastilah orang lain akan menghormati.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.04.19 Matius 26:14-25 Konspirasi

PADA tanggal 14 April 1865, pukul 22.00 waktu setempat di Ford’s Theatre, Washington DC, Presiden Amerika Serikat (AS) Abraham Lincoln tewas dibunuh oleh seorang aktor ternama, John Wilkes Booth. Ia merupakan presiden pertama Negeri Paman Sam yang tewas terbunuh.

Awalnya, dengan langkah begitu cepat, John Wilkes Booth masuk ke tempat Presiden Abraham Lincoln duduk di sebuah ruang VIP. John datang dari belakang. Beberapa saat kemudian, ia mengambil senjata api dan melepaskan tembakan ke arah Presiden.

Presiden AS ke 16 dan merupakan Bapak Demokrasi Amerika ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Ada teori konspirasi yang berkembang karena tidak mungkin seorang Presiden adidaya dibunuh oleh seorang John Wilkes Booth seorang diri.

Membunuh orang nomor satu di Amerika pasti membutuhkan rencana yang matang.Harus ada strategi, kerjasama, rencana yang sempurna karena pengawalan ring satu pasti sangat ketat. Banyak orang percaya teori kosnpirasi itu nyata.

Dalam teori konspirasi, kematian Yesus tidak hanya bertumpu pada sosok Yudas Iskariot. Ada banyak situasi dan kondisi yang mempengaruhi peristiwa itu. Situasi sosial, keagamaan, politik dan ekonomi pada masa Yesus ikut berperan.

Dalam Injil peranan imam-imam kepala, ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi yang bersekongkol membunuh Yesus sudah kelihatan sejak Yesus membuat banyak mukjijat. Yesus dianggap merongrong kewibawaan para imam dan ahli kitab.

Yesus makin banyak pengikutnya. Mereka percaya Yesus adalah nabi. Otoritas mereka terancam. Yesus dianggap tidak menghormati hukum sabat.

Para imam kepala punya kepentingan politik dan religius. Yudas punya kepentingan ekonomi. Herodes dan Pilatus punya kepentingan keamanan. Berbagai kepentingan itu bersatu membangun konspirasi untuk menyingkirkan Yesus.

Ketika kesempatan itu datang, Yudas menghadap para imam kepala dan berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku supaya aku menyerahkan Dia kepadamu?” Mereka membayar tigapuluh uang perak kepadanya. Sejak saat itu mereka bersekongkol.

Pemufakatan jahat sering terjadi di sekitar kita. Kalau ada orang baik berjuang keras ingin memajukan suatu bangsa, pasti banyak yang membencinya. Kalau ada orang jujur ingin menolong masyarakat, pasti ada yang berusaha menjegalnya.

Mereka yang kepentingannya terancam secara ekonomi, politik dan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) pasti akan membuat persekongkolan. Tetaplah menjadi pribadi yang baik, jujur, bersih dan tulus ikhlas. Kita percaya, orang baik pasti akan didukung banyak orang.

Pagi-pagi makan bubur
Bubur Padang banyaklah kuah
Bertemanlah dengan orang baik dan jujur
Anda akan mendapatkan banyak berkah

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.04.19 Yohanes 13:21-33.36-38 “Tu Quoque, Brute, Fili Mi”

SEBELUM Julius Caesar menghembuskan nafas terakhir, ia berkata kepada Brutus, “Tu quoque, Brute, fili mi ( Engkau juga Brutus, anakku! ). Brutus adalah pengkhianat. Padahal ia telah dianggap seperti anaknya sendiri oleh Julius Caesar. Ia memimpin para senator Romawi untuk melakukan kudeta.

Waktu itu Caesar diminta menandatangani petisi palsu yang dibuat para senator. Mereka meminta Caesar mengembalikan mandat kekuasaan kepada para senator. Melihat akal bulus mereka, Markus Antonius mengingatkan Caesar untuk tidak hadir di forum majelis senat.

Tetapi Brutus berhasil membujuk Caesar. Saat Caesar membaca petisi “akal-akalan” di podium. Ia ditusuk dari belakang. Ia tersungkur dan ditikam oleh belati Brutus. Sebelum menutup mata, Caesar masih sempat melihat Brutus memegang belati bersimbah darah. Caesar sempat berujar, “Engkau juga Brutus, anakku, ikut bersama dengan para pengkhianat ini”.

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus meramalkan kematianNya. Ia tahu bahwa ada orang yang akan berkhianat dari antara murid-muridNya sendiri. Dalam sebuah perjamuan Paskah bersama dengan murid-murdNya, Ia membuka rahasia itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”.

Suasana menjadi mencekam. Mereka saling berpandangan tidak percaya. Maka Petrus meminta kepada murid yang dikasihi Yesus untuk bertanya, siapakah orang itu? Maka Yesus berterus terang, “Dia adalah orang, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya”. Dialah Yudas Iskariot.

Musuh yang paling berbahaya bukan orang lain, tetapi justru teman sendiri. Ia tersembunyi dan tak bisa diduga sebelumnya. Hati-hati sahabat bisa menikam dari belakang. Walaupun Yesus tahu siapa pengkhianatNya, Ia tetap konsisten mengasihi murid-muridNya. Ia tidak panik. Ia tidak marah.

Apalagi gebrak-gebrak meja! Yesus tetap fokus pada kehendak BapaNya. Bapa mengasihi manusia tanpa batas. Begitu juga Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. Terimakasih Tuhan atas kasihMu yang sungguh besar. Dengan apakah aku bisa membalasnya?

Ke Gedongsongo jalannya naik
Kalau turun kita ke Semarang
Sungguh beruntung punya sahabat baik
Hati-hati bisa menikam dari belakang

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 15.04.19 Yohanes 12:1-11 Beda Persepsi

KETIKA kami turun dari Candi Gedongsongo, rombongan kami berhenti untuk beristirahat dengan duduk-duduk di jembatan kecil. Jalanan itu adalah jalur kuda yang naik-turun membawa penumpang yang tidak mampu berjalan kaki. Sedang kami menghilangkan letih, tiba-tiba ada serombongan kuda lewat.

Salah satu kuda itu berhenti persis di depan kami dan membuang kotoran. Sambil mengumpat, “Kuda sialan, buang kotoran aja kok persis di sini” kami menghindar lari. Bau kotoran itu menyengat, menyebar kemana-mana.

Namun ada seorang bapak, nampaknya dia seorang petani di situ, lewat sambil berguman mengucap syukur, “Makasih Da, Kuda, kotoranmu bikin tanah di sini subur”. Ia melempar kotoran kuda itu ke ladang di dekat situ.

Bagi kami orang kota, kotoran kuda itu bau dan menjijikkan. Tetapi bagi pak tani, kotoran kuda itu pupuk alami yang sangat berguna untuk menyuburkan tanah. Beda cara pandangnya!

Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana satu peristiwa dilihat secara berbeda. Maria saudara Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus, meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Ia melakukan itu untuk menghormati Yesus dan berterimakasih kepadaNya karena telah membangkitkan saudaranya.

Namun bagi Yudas Iskariot, tindakan itu dinilai memboroskan dan menghambur-hamburkan uang saja. Minyak narwastu itu bisa dijual seharga tigaratus dinar! Upah pekerja sehari adalah satu dinar. Minyak wangi itu setara gaji pekerja selama hampir setahun! Bagi Yudas, uang sebanyak itu bisa dibagikan kepada orang-orang miskin.

Namun kata-kata Yudas itu hanya kamuflase saja. Pikirannya bukan tertuju kepada orang miskin. Tetapi uang sebanyak itu bisa dikorupsi. Keterangan dibalik ungkapan itu harus kita baca: “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memerhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya”.

Maria meminyaki kaki Yesus karena ia mengetahui saat kematian Yesus sudah dekat. Ia menunjukkan cinta baktinya kepada Tuhan. Bagi Tuhan kita tidak boleh perhitungan. Memberi kolekte saja kita pelit. Tetapi kalau membeli pulsa HP diprioritaskan. Kita bisa belajar dari Maria yang murah hati karena Tuhan juga telah murah hati.

Pramuka harus pandai tali temali
Suatu saat berguna untuk menangkap pencuri
Memberi dengan murah hati
Akan dibalas dengan kasih yang tak pernah berhenti

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 14.04.19 MINGGU PALMA Lukas 22:14 – 23:56 Kisah Sengsara

SEORANG bapak guru agama Sekolah Dasar ditanya oleh muridnya, “Pak Guru, waktu Tuhan Yesus disalib, ada dua orang penjahat yang disalib bersamaNya. Siapakah nama-nama mereka itu? Di dalam Injil kok tidak ditulis nama mereka?”

Bapak guru itu kebingungan menjawab pertanyaan kritis muridnya itu. Penginjil tidak menulis nama dengan maksud supaya pembacanya masuk ikut terlibat di dalamnya.

Para pembaca bisa memasukkan nama siapapun supaya peristiwa Yesus tetap bisa aktual sampai sekarang. Kita bisa memposisikan peran apa di dalam kisah hidup Yesus itu. Kita bisa memilih dalam posisi hidup kita sekarang, apakah kita sebagai penjahat yang bertobat kepada Yesus atau penjahat yang menghojatNya.

Contoh lain dalam kisah dua murid yang pulang ke Emaus. Dua murid itu, yang satu bernama Kleofas, yang satunya noname. Yang noname ini bisa dimasukin nama siapapun. Kita pembaca diberi kesempatan ikut berperan dalam peristiwa Yesus.

Minggu ini adalah minggu Palma. Kita mendengarkan kisah panjang sengsara Yesus. Kisah itu dimulai dari seorang perempuan yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal.

Kisah sengsara diakhiri oleh seorang yang mencucukkan bunga karang, mencelupkan ke dalam anggur dan memberi Yesus minum. Mereka itu noname, tanpa nama. Bisa diisi nama siapapun dari kita.

Dalam kisah sengsara ini, ada begitu banyak peran. Kita boleh memilih mau menjadi apa dalam kisah ini. Mau berperan sebagai algojo, serdadu? Atau si decision maker seperti Pontius Pilatus?

Wanita-wanita yang menangisi penderitaanNya? Atau sahabat-sahabat Yesus yang hanya menonton dari kejauhan? Atau meniru Ibu Maria yang setia mengikuti sampai akhir?

Pekan suci ini mengajak kita merenungkan puncak iman kita yakni sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Kita diajak memasuki retret agung, Allah yang mengasihi kita tanpa batas. Ia memberikan Anak TunggalNya sebagai tebusan dosa-dosa kita. Semestinya kita sangat bersyukur mengalami begitu besar kasih Allah.

Di pertengahan minggu ini, kita juga diajak terlibat dalam pesta demokrasi. Tidak secara kebetulan peristiwa pesta demokrasi seiring dengan pekan suci. Anak Tukang kayu dari Nasaret mengurbankan diri untuk menyelamatkan kita. Kita juga punya anak tukang kayu yang telah bekerja keras membawa bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan bertumbuh dengan baik.

Apakah kita masih ragu dan bimbang? Sebagaimana penginjil mengundang kita mengambil peran dalam kisah sengsara, tentukan pilihan anda untuk membuat Indonesia ke depan menjadi apa.

Siang hari langit berkabut
Tanda sore mau turun hujan
Jangan sampai anda GOLPUT
Nomor satu tentukan pilihan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 13.04.19 Yohanes 11:45-56 Kambing Hitam

ILAH kambing hitam muncul dalam tradisi kitab Imamat 16, tentang kambing jantan untuk penghapusan dosa.

Kambing yang satu dikurbankan bagi Tuhan dan yang satunya dilepaskan demi penghapusan dosa-dosa Israel.

Kata ini lebih berfungsi sebagai metafora, yang merujuk kepada seseorang yang dipersalahkan untuk suatu kemalangan, biasanya sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari sebab-sebab yang sesungguhnya.

Misalnya orang Yahudi yang dijadikan kambing hitam oleh pemerintah Jerman Nazi untuk krisis ekonomi dan politik saat itu.

Andres Escobar dikambinghitamkan sebagai penyebab kekalahan Tim sepakbola Kolombia karena gol bunuh dirinya.

Dia ditembak mati setelah menginjakkan kaki di lapangan terbang Kolombia.

Dalam istilah kita sering disebut “tumbal”. orang atau hewan dibunuh untuk “tumbal” demi terjadinya keselarasan sosial yang telah rusak.

Rene Girard menyebut Yesus menjadi “kambing hitam” agar seluruh bangsa diselamatkan. Ketika terjadi konflik di masyarakat, seorang ditetapkan sebagai penyebab masalah.

Ia diusir atau dibunuh oleh kelompok masyarakat. Orang inilah dikambinghitamkan dan dengan demikian tatanan sosial kembali harmoni.

Dalam Injil hari ini, orang-orang Yahudi terancam oleh kehadiran Yesus. “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjijat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya, lalu orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita” menghadapi konflik sosial itu, Imam Agung Kayafas memberi solusi dengan pola “kambing hitam”.

Ia berkata, “Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh banagsa kita ini binasa”. Lebih baik Yesus dikurbankan, dijadikan tumbal atau dikambinghitamkan.

Pola kambing hitam itu sebenarnya sudah ada sejak manusia pertama. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka tidak mau dipersalahkan.

Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa, istrinya. Hawa juga tidak mau dipersalahkan. Ia mengkambinghitamkan ular yang menggodanya. Ular tak bisa berkutik.

Manusia mempunyai kecenderungan melemparkan kesalahan. Kita juga mempunyai pola itu; melemparkan kesalahan atau tanggungjawab.

Kita “cuci tangan” dari masalah yang dihadapi. Yesus dijadikan tumbal atau kambing hitam agar seluruh dosa kita dihapus oleh Allah.

Kalau hidung pilek jangan disumpeli
Bersihkan saja dengan kapas pas pas pas
Dengan darahNya Yesus berkorban diri
Dosa kita dihapusNya sampai tuntas tas tas tas

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr