Puncta 24.04.19 Lukas 24:13-35 Abimanyu Gugur

KETIKA Abimanyu gugur di medan pertempuran Padang Kurusetra oleh ribuan panah para Kurawa, Arjuna “layu otot bebayune” lemah lunglai seluruh daya kekuatannya. Abimanyu adalah putra Arjuna yang diidam-idamkan menggantikan tahta di Amarta.

Arjuna pergi “nglambrang” tanpa arah tujuan. Harapan dan cita-cita yang tinggi sudah terhempas hancur berkeping-keping. Masa depan suram tiada asa lagi. Tidak ada gunanya lagi berperang. Yang diperjuangkan telah sirna, gugur di medan laga.

Untunglah para Pandawa mempunyai penasehat agung yakni Kresna. Raja Dwarawati itu menasehati Arjuna untuk tidak berlaurt-larut dalam kesedihan. Kresna menghibur, menguatkan, mendorong, memberi pencerahan kepada Arjuna untuk terus maju berperang menghapus angkara murka. Itulah darmanya seorang ksatria.

Akhirnya Arjuna bersumpah “sebelum matahari terbenam saat senja mulai turun, jika aku tidak bisa membunuh orang yang membunuh Abimanyu, yakni Jayajatra, maka aku akan “pati obong” atau bakar diri”. Sepanjang hari itu Arjuna menguber dimana Jayajatra bersembunyi.

Jayajatra disembunyikan oleh Kurawa supaya Arjuna tidak bisa menemukannya. Kalau Arjuna tidak menemukan Jayajatra sebelum senja, Arjuna akan bakar diri. Kresna dengan senjata cakra menutup matahari sehingga kelihatan sudah mulai gelap. Keluarlah Jayajatra dari tempat persembunyian.

Pada saat yang sama senjata cakra ditarik kembali oleh Kresna, maka hari masih siang terang benderang. Saat itu juga Arjuna melepaskan panahnya hingga mengenai kepala Jayajatra hingga putus.

Kematian Yesus membuat dua orang murid itu putus harapan. Dengan muka muram mereka pulang ke rumah asalnya. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, karena Guru mereka mati. Tidak ada masa depan di Yerusalem. Mereka kembali pulang ke Emaus.

Di tengah jalan, Yesus yang telah bangkit menjumpai mereka. Yesus menasehati, menguatkan, menghibur lewat nubuat para nabi di kitab suci, bahwa Mesias harus menderita semuanya itu.

Saat makan bersama di rumah (ekaristi) mereka berjumpa dengan Yesus. Orang katolik berjumpa dengan Yesus tidak hanya dalam Kitab Suci, tetapi mereka mengenali Yesus sewaktu ekaristi.

Perjamuan ekaristi membuka mata mereka bahwa Yesus ada di tengah-tengah mereka. Ekaristi adalah tempat mengenang Yesus yang mengorbankan diriNya. Tubuh dan darahNya diserahkan kepada kita sewaktu ekaristi.

Para murid itu lalu berkobar-kobar, bersemangat dan langsung kembali ke Yerusalem. Mereka ingin segera memberitahukan kepada teman-temannya. Perjumpaan dengan Yesus mengubah yang tadinya muram menjadi berkobar-kobar, putus asa menjadi bersemangat, bodoh menjadi mudah menangkap. Apakah kita juga mengalami diubah oleh Yesus?

Ke Jombor melihat bulus
Bulus muda cangkangnya merah
Yang beriman kepada Yesus
Masa depan menjadi cerah

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 23.04.19 Yohanes 20:11-18 Kupatri Namamu

ORANG yang sangat menyukai wayang akan mudah membedakan suara dalang. Saya bisa mengenali apakah ini suara Ki Nartosabdo atau Ki Anom Suroto atau Ki Manteb Sudarsono. Mereka adalah dalang-dalang gagrag Surakarta.

Lain lagi dengan wayang gagrag Ngayogyakarta seperti Ki Timbul Cermamanggala, Ki Hadi Sugito. Atau yang sekarang lagi ngetrend Ki Seno Nugroho. Saya paling kagum dengan Ki Nartosabdo. Dia bisa mengucapkan 30-an karakter tokoh dengan suara yang berbeda-beda.

Karakter wayang ditangannya menjadi sangat hidup. Suara Werkudoro berbeda dengan Duryudono. Suara Permadi berbeda dengan Puntadewa. Suara Kresna berbeda dengan Karna.

Orang bisa mengenal suara seseorang karena sering berkomunikasi. Ciri-ciri suara, lagu atau nadanya, tekanan dan intonasinya bisa “dititeni” atau diingat-ingat. Seorang murid juga akan mengenali suara dosen-dosennya. Oh ini yang lemah lembut suaranya Romo Haryo.

Oh yang agak melengking tinggi ciri khasnya Romo Tom Jacobs. Kalau yang agak meledak-ledak ini suara Rm. Kieser. Oh yang nyerempet saru-saru ini dosen Pak Kumis. Dari suaranya kita bisa mengenali orangnya.

Dalam Injil hari ini, Maria diliputi kesedihan mendalam. Jenasah Yesus tidak ada di kubur. Ketika sedang menangis, dua malaikat menampakkan diri kepadanya. Maria mengira jenasah Yesus dicuri orang. Kesedihan sering membutakan mata.

Kebingungan juga bisa menggelapkan mata kita sehingga kita tidak mampu mengenali apa/siapa di hadapan kita. Bahkan ketika Yesus berdiri di dekatnya, Maria tidak mengenalinya.

Baru ketika dia mendengar namanya disebut, “Maria”, dia langsung mengenali suara itu. Sapaan pribadi dengan menyebut nama membuat Maria langsung hapal siapa orang yang memanggilnya. Ia sontak menjawab, “Rabuni”

Perjumpaan dan sapaan personal itu sangat spesial. Orang akan senang sekali kalau masih diingat namanya. Maria bersukacita maka dia langsung mewartakan kepada murid-murid yang lain, “Aku telah melihat Tuhan”.

Orang yang bersukacita, gembira, senang, bahagia ingin “gethok tular” memberitahukan ke orang lain. Seperti kalau kita menemukan tempat special warung mie godhog yang enak, langsung beritahu kepada yang lainnya. Kebangkitan Yesus membawa sukacita sehingga para murid langsung bersaksi.

Marilah kita juga berani bersaksi tentang kebangkitan Tuhan.

Kota Kendal kecamatan Weleri
Singgah sebentar di Pantai Pelangi
Kalau nama sudah di hati
Ketemu langsung cipika cipiki.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.04.19 Matius 28:8-15 Berkah Dalem

SETAHU saya, semoga tidak salah, istilah “Berkah Dalem” dipopulerkan oleh Romo G. Utomo Pr dari Ganjuran. Beliau waktu menjadi Ketua Komisi PSE KAS getol sekali menyebarkan gerakan Hari Pangan Sedunia.

HPS sangat berhubungan dengan lingkungan hidup. Menjaga ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan lingkungan alam semesta. Alam ini adalah berkah/anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan keutuhan dan kelangsungannya.

Dengan menjaga alam sebagai berkah berarti kita juga memuliakan Sang Pemberi Berkah yakni Tuhan sendiri. Berkah Dalem berarti berkat/anugerah dari Tuhan.

Berkah dari Tuhan itu bukan milik kita sendiri. Maka kita harus menyalurkan Berkah Dalem itu kepada semua orang. Oleh karenanya, semua orang katolik wajib menjadi saluran berkah Tuhan.

Berkah Dalem menjadi sapaan salam khas katolik. Ketika kita bersalaman dan mengucapkan Berkah Dalem, kita mensyukuri anugerah Tuhan yang dilimpahkan kepada kita dan menyalurkan Berkah Tuhan juga kepada sesama yang lain.

Ketika kita bersalaman dan mengucapkan Berkah Dalem, kita berdoa agar berkatNya diberikan juga kepada saudara kita itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus yang bangkit menjumpai para perempuan dengan berkata, “Salam bagimu”. Mereka mendekatiNya, memeluk kakiNya dan menyembahNya. Salam dari Yesus yang penuh berkah itu membuat perempuan-perempuan mendekatiNya.

Salam itu membuat mereka menjadi dekat, akrab, mesra. Mereka memeluk kakiNya. Sikap takzim penuh hormat lahir dari salam yang menyejukkan.

Salam Berkah Dalem yang menyejukkan itu dirusak oleh ujaran berita bohong. Imam-imam kepala menyuap para penjaga untuk menyebarkan hoax, berita bohong, “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenasahNya ketika kamu sedang tidur”.

Ini adalah hoax yang diciptakan oleh para imam kepala.

Jaman sekarang banyak sekali berita bohong/hoax bertebaran dimana-mana. Kita harus menangkisnya dengan salam BERKAH DALEM. Berkah Dalem itu bukan berita bohong karena kita telah mengalami dicintai Tuhan sedemikian rupa sampai wafat di salib.

Pengalaman dikasihi itulah yang kita sebarkan kepada sesama kita. Maka setiap kita berjumpa dengan sesama kita mengucapkan salam BERKAH DALEM.

Minggu palem cuacanya terik
Berkah Dalem bagi mereka yang berhati baik

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 21.04.19 Hari Raya Paskah Pagi Yohanes 20:1-9 Melihat dan Percaya

MAKAM Yesus yang kosong tidak serta merta menjadi kesimpulan bahwa Yesus bangkit. Maria Magdalena melihat makam kosong menyimpulkan bahwa jenasah Yesus dicuri orang. “Tuhan telah diambil orang dari kuburNya, dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan” katanya kepada Petrus dan murid yang dikasihiNya.

Karena sifatnya perempuan yang tidak dianggap/diperhitungkan, maka Maria Magdalena melaporkan hal itu kepada Petrus yang dianggap sebagai “sesepuh” yang punya wibawa di antara murid-murid yang lain.

Petrus dan murid yang lain berlari bersama-sama ke kubur. Murid yang lain itu, yang dikasihi oleh Yesus dan menurut tradisi dia adalah Yohanes, yang lebih muda dari Petrus berlari lebih kencang. Dia sampai ke makam lebih dulu.

Ia hanya menjenguk ke dalam, tetapi tidak masuk. Petrus menyusul dan masuk ke dalam makam. Orangtua harus didahulukan sebagai tanda hormat dan menghargai otoritasnya. Murid yang lain itu juga ikut masuk ke dalam.

Ia melihat apa yang ada di dalam makam. Kain kafan terletak di tanah. Kain peluh yang tadinya ditaruh di dekat kepala Yesus sudah tidak di situ tetapi agak ke samping, di tempat yang lain. Ia melihat dan memperhatikan secara detail. IA MELIHAT DAN PERCAYA.

Kelompok Young Christian Student memiliki motto yang bagus yakni: SEE, JUGDE, ACT. Mereka diajak untuk melihat, menilai dan bertindak. Melihat pengalaman kongkret bersama orang lain di suatu tempat tertentu.

Pengalaman itu lalu dinilai berdasarkan iman yang berasal dari Kitab Suci. Dengan iman kaum muda kristiani diajak untuk bertindak dan terlibat aktif menggarami dunia.

Yohanes, murid yang dikasihi Yesus itu melihat (SEE) ke dalam makam. Ia tidak mengalami persis saat Yesus bangkit. Namun ia mengamati dengan seksama apa yang terjadi di situ. Waktu itu dia belum mengerti isi kitab suci.

Ketika dia menghubungkan peristiwa makam kosong dan isi kitab suci (JUGDE), maka dia kemudian percaya bahwa Yesus harus bangkit dari antara orang mati. Keyakinan itu mendorong dia berani mewartakan (ACT) Yesus yang bangkit kepada orang lain.

Kita sekarang tidak melihat Yesus yang bangkit, tetapi kita mengamati, mempelajari isi kitab suci dan kita menjadi percaya. Pengalaman dikasihi menjadi sarana kita untuk percaya bahwa Yesus masih hidup berkarya.

Karena dikasihiNya kita berani menjadi saksiNya. Hidup kita adalah saksi bahwa kita dicintaiNya.

SELAMAT PASKAH 2019.

MAKAN BUAH DI TENGAH MALEM
SELAMAT PASKAH, BERKAH DALEM

Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 20.04.19 Hari Sabtu Suci – Vigili Paskah Lukas 24:1-12 Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)

MEESTER JH ABENDANON, menteri kebudayaan, agama dan kerajinan Hindia Belanda, mengumpukan surat-surat, buah pikiran RA. Kartini kepada teman-temannya di Belanda. Door Duistemis tot Licht secara harafiah berarti “dari kegelapan menuju cahaya”.

Abendanon menerbitkan buah pikiran Kartini muda yang cemerlah dan menginspirasi ini dalam bahasa Belanda pada tahun 1911. Balai Pustaka kemudian menerbitkannya dalam bahasa Melayu dan diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” pada tahun 1922.

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. kehidupan manusia serupa alam” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang)

Buah pikiran Kartini pada waktu itu sangat luar biasa maju, menginspirasi kaum perempuan pada masanya. Ia ingin perempuan diterima sejajar dengan kaum lelaki, semartabat. Buah pikirannya mengubah kegelapan menjadi terang benderang bagi kaumnya.

Pada vigili Paskah ini, kita merayakan kebangkitan Tuhan Yesus. Ia tidak tinggal dalam makam yang gelap selamanya. Tetapi Ia dibangkitkan Bapa. Hidup dalam kemenangan cahaya. Maut dikalahkan. Hidup disongsong dengan kemenangan karena Kristus yang bangkit mulia.

Seperti Kartini, peristiwa kebangkitan dialami pertama kali oleh para wanita. Mereka pergi ke makam untuk membawa rempah-rempah. Batu penutup makam sudah terguling. Makam kosong. Tetapi mereka tidak paham. Mereka bingung.

Baru setelah dijelaskan oleh dua pemuda berpakaian putih berkilau-kilauan bahwa Yesus bangkit, mereka teringat kembali kata-kata Yesus sebelumnya. Mereka lari dengan sukacita, mewartakan kepada murid yang lain. Pewarta pertama adalah kaum perempuan.

Kita mengingat Kartini, Pahlawan Emansipasi, kita juga mengenang kaum perempuan pertama yang mewartakan kebangkitan. Kaum perempuan tidak selalu sebagai “penyebar gosip” tetapi mereka adalah pewarta kebenaran.

Kartini adalah Pahlawan
Ia lantang seperti Grace Natalie
Para wanita adalah saksi kebangkitan
Mereka kabarkan Yesus bangkit dari mati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.04.19 Hari Raya Wafat Tuhan Yesus Yohanes 18:1-19:42 WafatMu Sumber Hidup

Hari Jum’at ini adalah hari yang agung. Maka disebut dengan Jum’at Agung. Keagungan ini merujuk pada kematian Yesus di kayu salib. Hari ini adalah hari penyaliban dimana Yesus menyerahkan nyawaNya kepada Bapa.

Hari Jum’at Agung ini adalah hari yang penuh makna. Peristiwa-peristiwa akhir hidup Yesus penuh dengan kenangan-kenangan indah bersama para muridNya. Ada banyak nilai yang ditanamkan kepada mereka khususnya, dan mereka yang percaya kepadaNya.

Yesus menandaskan kesetiaanNya pada kehendak Allah kendati harus memanggul salib. Yesus mengajak kepada muridNya untuk fokus pada misi yang diembanNya kendati banyak pihak mencoba menggagalkanNya.

Ketenangan jiwa yang tegar menghadapi lawan-lawan menjadi contoh bagi para muridNya jika kelak harus berhadapan dengan mereka yang kontra.

Yesus mengajarkan bahwa kematian bukan akhir segala-galanya. Kematian bisa diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri, jika kematian itu dikembalikan kepada yang empunya kehidupan, yakni Bapa sendiri. Jenis dan bentuk kematian apapun, bahkan yang sehina salib pun, akan bermakna jika disatukan pada kehendak Bapa.

Yesus mengajarkan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman salib. Pengalaman salib itu bisa menggentarkan, tetapi juga memberi berkat. Blessing indisguise.

Salib adalah pengalaman gelap, tetapi darinya kita berharap ada sebuah titik cahaya. Di balik kegelapan, kehancuran, penderitaan, ada setitik pengharapan yang menguatkan. Habis gelap terbitlah terang. Yesus mengajak kita tetap optimis dan berpengharapan.

Wafat Kristus menjadi sumber hidup. Kematian bukan sebuah akhir. Kematian bukan selesai dan berhenti. Masih ada pengharapan. Iman tanpa pengharapan adalah kosong, hampa. Di dalam iman, ada pengharapan. Di dalam pengharapan tertanam kasih yang dalam.

Salib yang sedemikian mengerikan telah diubah menjadi pohon perngharapan yang berbuahkan kasih yang tuntas. Itulah salib Kristus.

Menang pemilu rambut langsung dicukur
Bendera kemenangan langsung dikibarkan
Kita tak pernah berhenti bersyukur
Kematian Yesus mendatangkan keselamatan.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr