Puncta 12.04.19 Yohanes 10:31-42 Integritas

SESEORANG dikatakan bertindak sebagai ksatria kalau yang dikatakan sesuai dengan yang dilakukan. Satunya kata dan perbuatan itulah integritas.

Pengertian integritas adalah nilai kepribadian seseorang yang bertindak secara konsisten dan utuh, baik dalam perkataan maupun perbuatan, sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik.

Seseorang dianggap berintegritas ketika ia memiliki kepribadian dan karakter seperti; Jujur dan dapat dipercaya, memiliki komitmen, bertanggung jawab, menepati ucapannya, setia, menghargai waktu, memiliki prinsip dan nilai-nilai hidup. Munafik adalah sikap yang berlawanan dengan nilai integritas seseorang.

Yesus menunjukkan integritasNya saat berkata kepada orang-orang Farisi, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah kamu percaya kepadaKu. Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa”

Apa yang diajarkan Yesus berasal dari Bapa. Begitu juga apa yang dikerjakan Yesus adalah karena melaksanakan kehendak BapaNya. Maka Yesus dan Bapa adalah satu. Para penjaga pernah berkata, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu”.

Artinya sabda Yesus itu menunjukkan wibawa Allah. Apa yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis tentang Yesus adalah benar. Kesaksian-kesaksian itu mau mewarkatan bahwa kata dan tindakan Yesus berasal dari Allah. Hal itu bisa dipercaya.

Orang yang mempunyai integritas akan dilawan oleh mereka yang bersikap munafik. Orang munafik takut terhadap orang jujur, konsisten, teguh pendirian dan berkomitmen.

Orang-orang Farisi yang munafik itu tahu ada hal-hal yang baik dibuat Yesus, tetapi mereka tidak menerima Yesus menyamakan diriNya dengan Allah.

Semestinya, jika tidak mau mengakui Yesus berasal dari Allah, paling tidak mereka percaya akan pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukanNya.

Misalnya, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa, membangkitkan orang mati adalah karya Yesus yang menunjukkan hadirnya Allah.

Namun orang Farisi sudah tertutup mata hatinya. Mereka tidak percaya. Kebencian menutupi mata hati mereka sehingga hal-hal baik pun tidak mampu membuat mereka terbuka.

Bunga pisang namanya tuntut
Lampu remang-remang namanya redup
Kalau hati sudah tertutup
Kebaikan pun hanya dianggap kentut

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 10.04.19 Yohanes 8:31-42 Wisanggeni

Batara Brahma disuruh oleh Rajanya para dewa, Batara Guru untuk menceraikan Arjuna dengan Batari Dresanala, putri Batara Brahma. Alasanya karena Dresanala akan dijodohkan dengan Dewasrani, putra Batara Guru dengan Durga.

Waktu itu Dresanala sudah mengandung. Arjuna diusir dari Kahyangan. Dresanala diminta untuk menggugurkan bayinya. Bayi laki-laki lahir dan dibuang ke kawah Candradimuka.

Aneh bin ajaib, bayi itu tidak mati tetapi justru dalam kobaran api kawah dia tumbuh berkembang sangat sakti. Oleh Narada, anak remaja ini diberi nama Wisanggeni (Racun Api).

Ia mencari tahu siapa bapak dan ibu yang melahirkannya. Ia mengobrak-abrik Kahyangan, kerajaan para dewa karena dewa-dewa tidak bisa menunjukkan asal-usulnya. Semar, pamomong para ksatria memberitahu bahwa ayahnya adalah Arjuna.

Karena diperlakukan tidak adil maka Wisanggeni menuntut balas kepada para dewa. Batara Guru dan Brahma mengakui kesalahannya, maka Dresanala dikembalikan kepada Arjuna. Wisanggeni hidup bersama para Pandawa di Amarta.

Konflik orang-orang Farisi dengan Yesus adalah soal asal-usul mereka. Yesus menyebut Dia berasal dari Allah. Dan Allah adalah BapaNya. Orang Farisi mengaku sebagai keturunan Abraham.

Abraham adalah bapa mereka. Semestinya mereka menghormati Allah yang adalah Bapa. Karena Abraham menyembah Allah. “Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub (Israel), nenek moyang mereka.

Maka Yesus berkata, “Sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah! Pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri”.

Wisangeni itu adalah anak yang benar dan sah dari Arjuna dan Dresanala. Tetapi justru para dewa berusaha membunuhnya demi kepentingan mereka sendiri.

Wisanggeni tidak mati. Tetapi justru hidup dan menjadi pemuda perkasa yang berani berjuang demi kebenaran. Orang-orang Farisi dan para ahli kitab itu seperti para dewa di Kahyangan.

Mereka tahu tentang kebenaran, kebaikan, penjaga nilai-nilai luhur keutamaan hidup. Tetapi mereka sendiri berusaha mematikan kebenaran itu dalam diri Yesus.

Mereka mengaku berasal dari Allah tetapi pekerjaan mereka justru mau membunuh Yesus yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Yesus berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Marilah kita berpegang teguh dan berjuang demi kebenaran.

Berkeliling ke Jakarta lewat Tugu pancoran
Berputar tak henti di Bundaran HI
Sangat beratlah memperjuangkan kebenaran
Banyak hambatan yang harus dihadapi.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 09.04.19 Yohanes 8:21-30 Teologi Naik Turun

MASIH ingat apa yang diajarkan Romo Tom Jacobs dalam menjelaskan teologi Yohanes? Atas-bawah. Tinggi-rendah. Naik-turun. Dunia-Surga. Hidup-mati.

Yesus datang dari atas. Manusia berasal dari bawah. Anak Manusia harus ditinggikan. Allah yang mahatinggi turun dari surga.

Manusia yang berada di bawah berusaha naik mencapai kemuliaan Allah. Kita datang dari dunia. Yesus bukan dari dunia ini.

Manusia dunia akan mati. Manusia yang percaya kepada Yesus akan hidup. Yesus turun ke dunia dan kita “dicangking” Yesus naik ke surga.

Kita ini selamat karena “dicangking” atau “nunut” Yesus saja. Ibaratnya naik kereta api, kita ini ikut Yesus yang jadi masinisnya.

Yesus setia melaksanakan kehendak Bapa. Ia mengenal akrab BapaNya. Karena kita tidak mengenal Bapa, kita tidak percaya kepada Yesus. Ia berusaha menjelaskan siapa itu Bapa.

Tetapi karena kita berasal dari dunia dengan segala dosanya, maka kita tak mampu memahami apa yang dikatakan Yesus.

Kata Yesus, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan Ia yang telah mengutus Aku, menyertai Aku! Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya”.

Ketidakmampuan kita memahami tindakan Yesus membuat krisis yang berujung pada penyaliban. Salib adalah tindakan meninggikan Anak Manusia. Salib adalah jalan keselamatan.

Kita harus bangga pada salib Tuhan kita. Dengan salib, kita ikut “dicangking” Yesus kembali naik ke atas. Kita “nunut” ikut selamat karena ada salib Yesus.

Udan deres ora bisa udut
Neng dalan akeh angin lesus
Kita selamat karena boleh nunut
Dibawa kembali ke Bapa oleh Yesus

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.04.19 Yohanes 8:1-11 Main Hakim Sendiri

PERISTIWA main hakim sendiri terjadi di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang sekitar pertengahan November 2017.

Dua sejoli yang sedang makan malam bersama di kamar kost digedor massa. Mereka dituduh melakukan perbuatan mesum. Mereka digelandang di tengah jalan dan dipaksa telanjang menuju rumah ketua RW setempat yang berjarak 200 meter.

Massa brutal. Ada yang memukul, menendang, menelanjangi, bahkan merekam dengan kamera adegan pemaksaan kehendak itu. Video itu menjadi viral.

Polisi akhirnya menangkap 6 orang tersangka kasus main hakim sendiri itu, termasuk ketua RT, RW dan 4 warga sekitar. “Sangat disayangkan, ketua RT/RW yang seharusnya mengayomi warga, justru memprovokasi warga untuk melihat, merekam, bahkan mempersilahkan yang mau selfie dengan pasangan bugil itu” Kata AKBP Sabilul Alif, Kapolresta Tangerang.

Mengapa masyarakat suka main hakim sendiri? Pertama, karena tidak adanya kepercayaan kepada penegak hukum. Orang sering bilang, “Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Kedua, ada “mental kelompok” yang hidup di tengah masyarakat. Orang mudah “dibakar” kalau hidup bergerombol. Ketiga, manusia sekarang lebih dikuasai “croc brain” daripada neocortexnya. Otak buaya lebih bersifat instingtif dan emosional, tidak mau berpikir secara logis-rasional.

Diprovokasi sedikit saja langsung meledak nafsu kebinatangannya. Muncul tindakan merusak, menghancurkan, “keroyokan” ala heyna yang sadis tak kenal ampun.

Bacaan Injil hari ini, persis seperti yang dibacakan pada hari Minggu Prapaskah V. Ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka masih sedikit bermoral.

Mengadilinya berdasarkan kitab Musa yakni merajam dengan melempari batu kepada perempuan-perempuan itu. Kasus itu dihadapkan kepada Yesus untuk menjebaknya. Yesus tidak ingin menghukum, apalagi main hakim sendiri. “Akupun tidak menghukum engkau”.

Yesus justru mengampuni. Itulah tindakan Allah, mengasihi manusia berdosa dengan pengampunan. KasihNya tanpa pamrih. PengampunanNya tanpa batas.

Masa Prapaskah ini marilah kita alami pengampunan Tuhan. Marilah belajar dari Allah yang tidak mengingat dosa, tetapi mengampuni kita. Allah kita sungguh maha rahim.

Sakramen pengakuan dosa seharusnya menjadi sakramen kerahiman Allah. Sakramen itu tidak menakutkan tetapi membahagiakan karena kita dikasihi Allah.

Membeli karcis naik metro mini
Ternyata salah masuk ke gerbong kereta
Jangan suka main hakim sendiri
Allah saja mengampuni orang berdosa

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 07.04.19 Yohanes 8:1-11 Hukum Rajam Bagi LGBT

BRUNEI DARUSALAM belum lama ini meresmikan hukum cambuk sampai mati bagi LBGT di negeri sultan itu. Banyak tokoh dunia antara lain Penyanyi Elton John dan Pembawa acara TV Ellen Degeneres memprotes keputusan Sultan Hasanah Bolkiah itu.

Hukuman itu berlaku bagi pelaku sodomi, perjinahan dan pemerkosaan. Mereka yang kedapatan melakukan kejahatan-kejahatan tersebut diancam hukuman cambuk sampai hukuman mati, sama seperti pelaku pencurian dan pembunuhan.

Elton John dalam cuitan di tweeter memprotes pemberlakuan hukum itu. Dia mengajak boikot menginap di hotel-hotel milik Sultan Brunei di seluruh dunia.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dihadapkan masalah yang sama yakni seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi menempatkan perempuan itu di tengah-tengah orang banyak.

Mereka berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam Hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatMu tentang hal ini?”

Kasus ini sangat bagus untuk menjebak Yesus karena mereka sudah lama mencari kesempatan mempersalahkanNya. Tetapi Yesus cuek saja sambil menulis di tanah dengan jariNya. Mereka makin riuh rendah mendesak supaya Yesus memberi tanggapan.

Akhirnya keluarlah jawaban dari mulut Yesus, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”

Jawaban yang tidak terduga. Mencengangkan. Mereka berpandangan satu sama lain. Menunggu siapa yang berani melempar batu.

Akhirnya mereka hanya mengangkat bahu, mengeraskan bibir atas “njebemblek” saling berpandangan satu sama lain. Lalu meninggalkan gelanggang satu per satu mulai dari yang tertua. Itu berarti mereka mengakui sama-sama berdosa.

Tidak ada yang sempurna yang berhak menghukum perempuan itu. Bahkan Yesus pun juga menempatkan diri seperti mereka, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Allah itu maharahim. PengampunanNya lebih besar daripada dosa-dosa manusia. Dalam Yesaya ditulis, “Beginilah firman Tuhan: Janganlah mengingat-ingat hal-hal terdahulu. Janganlah memperhatikan hal-hal dari jaman purbakala.”

Tuhan tidak punya catatan masa lalu. Semua sudah didelete. “Aku hendak membuat sesuatu yang baru”, kata Tuhan. Itulah kemahabaikan Tuhan. Kita pantas bersyukur dan hidup oleh belas kasihNya. Fokuslah pada masa depan. Allah akan membuat semuanya baru.

Bikin rujak dari buah kweni
Biar sedap campur daun pepaya
Belajarlah selalu mengampuni
Karena Allah tak pernah menghukum dosa

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.04.19 Yohanes 7:40-53 “Aja Cedhak Kebo Gupak” Jangan dekat-dekat kerbau, nanti kena kotorannya

SAYA pernah ditanya dari mana asal-usul saya. Sambil bergurau saya jawab dari lereng Merapi. Walau sebenarnya masih 25 km dari lerengnya. Tetapi lawan bicara saya langsung paham.

Dia komentar, “Wah romo daerah itu terkenal gawat. Merapi Merbabu Centrum (MMC) itu dulu markas PKI. Dari situ banyak begal, kecu, grayak, perampok, pencoleng. Pokoknya daerah sekitar itu dicap jelek”.

Saya hanya nyengir saja. Lha waktu pecah G30S PKI, saya baru berumur 8 bulan, mana saya tahu? Saya hanya dengar cerita ayah saya, bahwa dulu beliau ikut ngejar-ngejar tokoh PKI tetangga daerah yang lari ke arah lereng Merapi. Karakter kita sering dihubung-hubungkan dengan daerah dimana kita berasal.

Pepatah “Aja cedhak kebo gupak” berarti sebuah nasehat agar jangan bergaul dengan orang jahat, nanti akan kena dampaknya. Siapa teman-teman di sekitar kita, akan berdampak pada penilaian terhadap diri kita. Teman kita orang pintar bijaksana, kita akan ketularan sifat itu.

Sebaliknya kalau teman kita pembohong, suka penyebar fitnah dan hoax, kita juga akan terkena dampaknya. Bergaul kita dengan para penipu, kita bisa terpengaruh sifatnya.

Penjaga-penjaga yang ditugaskan untuk memata-matai Yesus sering mendengar kata-kataNya. Mereka bisa menilai siapa Yesus sesungguhnya. Ketika orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa kamu tidak membawaNya?”

Para penjaga itu justru bersaksi melawan mereka, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”. Orang Farisi menuduh para penjaga, “Adakah kamu juga disesatkan?”.

Para penjaga itu dituduh ikut ajaran sesat yang dialamatkan kepada Yesus. Lalu Nikodemus yang berusaha membela Yesus juga “diklepretke dosane”, dituduh bersekongkol, “Apakah engkau juga orang Galilea?”

Dari sini kita diingatkan agar hati-hati dalam memilih sahabat. Kalau salah pilih, kita bisa kena dampaknya. Aja cedhak kebo gupak, pepatah ini penting direnungkan.

Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena kita salah bertindak, salah memilih teman. Banyak sekali contoh-contoh di sekitar kita. Ibaratnya kita memelihara anak macan.

Waktu masih bayi terasa lucu dan menyenangkan. Sering diajak bermain-main. Macan tetap macan. Setelah dewasa dia bisa berbalik menerkam kita. Sekali lagi kita diingatkan, “Aja cedhak kebo gupak”

Hari ini Kamis Wage malamnya Jum’at Kliwon
Habis Jum’at Kliwon harinya Sabtu legi
Jangan suka bersahabat dengan mamon
Kita akan jadi budaknya sampai kita mati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr