Puncta 05.04.19 Yohanes 7:1-2.10.25-30 The Untouchable Man

PENJAHAT sekaliber apapun di Indonesia pasti kenal yang namanya Kusni Kasdut. Dia juga mendapat julukan “Robih Hood” dari Indonesia. Pada perang revolusi, ia merampok untuk menghidupi tentara yang bergerilya. Setelah perang usai, ia kembali merampok demi hidupnya yang miskin.

Prestasi kriminal yang paling menghebohkan adalah ketika ia berhasil mencuri 11 berlian paling berharga koleksi Museum Gajah yang tidak jauh dari istana merdeka. Seperti adegan film, ia dan gerombolan masuk menyamar sebagai polisi dan menyandera pengunjung.

Ia menembak seorang polisi dan berhasil lari dengan 11 berlian mahal. Sejak saat itu ia menjadi buron kelas kakap di Indonesia. Kepiawiannya meloloskan diri membuatnya disebut sebagai The Untouchable Man.

Ia tertangkap, tetapi sering bisa lari dari penjara. Tercatat 8 kali ia berhasil lari dari penjara. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh ke pelimbahan juga.

Bagi orang-orang Yahudi, Yesus juga menjadi The Untouchable Man. Yesus bukan seorang kriminal. Istilah itu sering dipakai bagi mereka yang sering lolos dari jerat hukum. Tetapi bagi kaum Farisi, tindakan dan pengajaran Yesuslah yang menimbulkan dilema. Kalau tidak distop, banyak orang akan menjadi pengikutNya. Kalau distop, orang banyak menganggap dia ini seorang nabi.

Ia tak tersentuh oleh siapapun. Orang Jawa bilang, “Suduk gunting tatu kalih” atau seperti makan buah simalakama.

Ketika Yesus di Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun, masyarakat mulai menduga-duga, “Bukankan Dia ini yang mereka mau bunuh? Lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa, dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaNya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?”

Konfrontasi antara para pemimpin Yahudi dengan Yesus sudah bukan rahasia umum lagi. Masyarakat bawah sudah terprovokasi juga. Mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saatNya belum tiba.

Bagi pengarang Injil, Yesus yang menjadi The Untouchable Man dihubungkan dengan saatNya. Saat menurut Yesus adalah ketika Dia dimuliakan di atas kayu salib. Waktu Maria meminta Yesus membuat mukjijat di Kana, Yesus berkata, “Mau apa engkau ibu, saatKu belum tiba”.

Pemuliaan Yesus di kayu salib itulah yang dimaksud dengan “saatKu”. Para pemimpin Yahudi mencari saat yang tepat untuk mendakwa dan menangkap Yesus. “Salah lidah” sedikit saja bisa menjeratNya. Seperti Ahok yang tergelincir di Pulau Seribu. Masing-masing kita juga mempunyai “saat”.

Mari kita gunakan saat kita untuk perbuatan baik demi memuliakan Tuhan.

Benang merah untuk tali temali
Mengikat roda menarik pedati
Mengikut Yesus harus berani bersaksi
Walaupun salib di depan menanti

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.04.19 Yohanes 5:31-47 My Speech is My whole Life

MAHATMA GANDHI adalah bapak perjuangan tanpa kekerasan. Dia kuliah ilmu hukum di Universitas College, London. Setelah lulus pada 1893, dia pulang ke India untuk menjadi pengacara.

Karena sifat penakutnya, Gandhi gagal total dalam berdebat kasus pertamanya di pengadilan. “Saya berdiri, namun hati saya tenggelam hingga ke sepatu bot saya,” kenang Gandhi dalam Mahatma Gandhi: Sebuah Otobiografi.

Semenjak itu, dia tidak pernah lagi pergi ke pengadilan sampai akhirnya merantau ke Durban, wilayah koloni Inggris di Afrika Selatan pada 1893. Di Afrika Selatan Gandhi ditempa oleh pengalaman diskriminatif atas perbedaan warna kulit.

Dia pernah dilempar keluar gerbong kereta api bukan karena tidak punya tiket tetapi karena semua penumpang kelas 1 itu bule. Dia ditolak menginap di hotel ekslusif karena kulit berwarna. Ia pernah dicambuk karena tidak mau turun dari kuda yang akan diberikan kepada orang kulit putih.

Pengalaman buruk itu membuatnya teguh berjuang tanpa kekerasan. Ia memimpin perlawanan boikot garam dengan berjalan kaki bersama puluhan ribu orang. Ia melawan kolonial dengan satyagraha, ahimsa,swadesi. Pengaruhnya yang begitu besar membuat Inggris melemah.

Ia diundang untuk pidato di parlemen Inggris. Ketika ia akan maju ke mimbar, pembantunya mengingatkan, “Mohandas, anda lupa menyiapkan teks pidato”. Jawab Gandhi singkat, “My speech is my whole life”, yang kusampaikan ialah seluruh kisah hidupku sendiri.

Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang tidak mau menerimaNya, “Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa mengutus Aku. Dialah yang bersaksi tentang Aku”.

Apa yang dikerjakan Yesus membuktikan bahwa Ia berasal dari Allah. Yesus dan Bapa adalah satu. Tetapi orang-orang Yahudi justru makin membenciNya karena Ia dituduh menyamakan diri dengan Allah.

Apa yang dilakukan Yesus; menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mengampuni orang berdosa adalah karya Allah sendiri. Tindakan Yesus merupakan tindakan Allah sendiri. Tetapi orang-orang Yahudi tidak memahaminya.

Kadang kita pun juga mengalami tidak dipahami. Dijelaskan bagaimanapun tetap tidak bisa diterima. Semua menjadi buntu. Akhirnya orang mengambil cara “diam itu emas”. Diam bukan tidak berbuat, tetapi diam tak bicara. Lebih baik diam tak bicara tetapi tetap berbuat melakukan keutamaan dan kebajikan.

Akhirnya tindakan keutamaanlah yang akan menjadi kesaksian tak terbantahkan. Seperti Yesus sendiri, walaupun Dia ditolak, namun Dia tetap melakukan kehendak Allah.

“Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake
Melawan tanpa tentara, menang tanpa merendahkan
Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji”
Kaya tanpa harta, perkasa tanpa senjata

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 03.04.19 Yohanes 5: 17-30 “Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran” (Kacang panjang – Vigna Sinensis tak akan meninggalkan tonggak tempatnya merambat)

BAMBANG IRAWAN adalah putra Arjuna dari Dewi Ulupi. Perawakannya persis ayahnya. Tutur kata dan tindak-tanduknya meniru kehalusan budi Arjuna. Mereka seperti pinang dibelah dua.

Maka ketika dia hendak pergi mencari ayahnya di Negeri Amarta, berjumpalah dia dengan seorang raksasa yang sedang mencari Arjuna. Raksasa itu bernama Kalasrenggi. Ia ingin membalas kematian ayahnya yang dibunuh Arjuna.

Ketika Kalasrenggi bertemu Irawan, ia mengira itu adalah Arjuna. Dendam Kalasrenggi membara. Dia bersumpah membalas kematian ayahnya. Mereka berperang. Keduanya tewas bersama-sama. Mati sampyuh. Irawan mati membela ayahnya. Arjuna menangisi kematian Irawan.

Peribahasa “Kacang mangsa ninggala lanjaran” menggambarkan perilaku anak tidak akan jauh berbeda dengan bapanya. Seperti kacang panjang bertumbuh mengikuti tonggak/tusur tempatnya merambat, begitulah seorang anak akan meniru perilaku ayahnya.

Jika kacang menjalar di tanah, proses penyerbukaan tidak akan sempurna dan buahnya tidak tumbuh baik. Maka kacang akan menjalar pada galah tempatnya berkembang.

Yesus berkata, “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”. Allah adalah BapaNya. Maka Ia menerangkan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya”.

Yesus berasal dari Allah. Ia menyebut Allah sebagai BapaNya. Hal ini yang membuat orang-orang Yahudi marah kepadaNya. Ia dituduh menyamakan diri dengan Allah. Ia dianggap menghojat Allah.

Apalagi Yesus menyatakan, “Bapa telah memberikan kuasa kepada Anak untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia”.

Yesus mengungkapkan jati diriNya sebagai Anak Allah karena berasal dari Allah. Ia melaksanakan kehendak Allah untuk menyatakan kebenaran agar semua yang percaya mempunyai hidup kekal. Kitapun sebagai murid-muridNya dipanggil untuk bersaksi tentang kebenaran.

Tantangan dan hambatan untuk itu sangat berat. Banyak orang yang tidak percaya dan menghalangi kita. Orang lebih suka hidup dengan menyembunyikan kebenaran.

Merekalah yang akan menentang murid-murid Kristus yang setia pada kebenaran. Kendati berat – seperti memanggul salib – marilah kita mengikuti Kristus, berani mewartakan kebenaran.

Lemper dibuat dari beras ketan
Dibungkus dengan daun jati
Mengikuti Kristus wartakan kebenaran
Berani memanggul salib sampai mati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.04.19 Yohanes 5:1-16 Penantian Yang Panjang

SETELAH diculik oleh Prabu Dasamuka, Dewi Sinta tinggal di Taman Argasoka ditemani Trijata, putri Wibisana. Sinta sangat menderita karena jauh dari Rama, suaminya. Badannya kurus kering dan lunturlah kecantikannya. Bertahun-tahun ia menunggu kedatangan Rama untuk menjemputnya. Hatinya selalu gundah oleh kesedihan yang mendalam.

Ketika Hanoman datang sebagai duta Prabu Rama, ia menyerahkan cincin kepada Sinta. Tetapi cincin itu kebesaran di jari Sinta karena derita batin yang disandangnya. Penantian panjang untuk berjumpa dengan suami yang dikasihinya tak menyurutkan rasa setianya kepada Rama.

Kesetiaan itu membuahkan hasil yang membahagiakan. Kesetiaan Sinta dibalas dengan keteguhan Rama mencari istrinya sampai di Alengka. Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan seluruh pasukan Alengka demi merebut Sinta kekasih sejatinya. Penantian panjang dan lama itu berbuah manis.

Waktu misa di Candi Gedongsongo ada seorang ibu yang sharing menceritakan penantian panjang anaknya untuk dikaruniai momongan. Anaknya sudah 12 tahun menikah tetapi belum punya anak. Sudah berbagai macam cara ditempuh; berobat ke dokter, terapi dan konsultasi.

Putus asa tak membuahkan hasil, mereka pasrah kepada Tuhan. Tiga bulan yang lalu, ibu ini dikabari oleh menantunya bahwa ia hamil. Penantian yang panjang akhirnya terjawab oleh kuasa doa.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjumpai seorang yang sudah 38 tahun berbaring di tepi kolam Bethesda. Ia sudah sampai pada titik puncak putus asa. Ia sudah lelah berharap. Ia hanya mengandalkan kebaikan orang lain.

“Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; dan sementara aku sendiri menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku”.

Kadang kita pun mengalami batas daya kemampuan. Menanti panjang akan pertolongan Tuhan. Rasanya Tuhan terasa jauh, tak peduli dan serba gelap. Waktu kita tidak sama dengan waktu Tuhan. Rancangan kita bukan rancangan Tuhan. Tuhan membuat indah pada waktunya.

Yang dibutuhkan adalah kesetiaan seperti Sinta dan keteguhan seperti Rama. Yesus menjawab masa penantian panjang orang lumpuh itu. Orang itu sembuh, berjalan sambil mengangkat tilamnya. Ketika Tuhan belum memberikan yang kita minta, Tuhan punya rencana yang lebih besar dan indah bagi kita.

Berlayar menuju ke Pantai Padang
Dengan kapal memilih duduk di buritan
Berharap dalam penantian yang panjang
Rencana indah telah disiapkan Tuhan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.04.19 Yohanes 9:1-41 Proses Beriman

ORANG mengenal Pak Jokowi itu tidak “ujug-ujug” atau tiba-tiba. Tetapi melalui proses panjang. Ia menjadi pengusaha mebel di kota Solo. Merintis usahanya dari kecil-kecilan. Karena ketekunan dan keuletannya, ia mampu menembus pasar internasional. Tetapi capaian itu membutuhkan usaha yang keras.

Masyarakat Solo mulai meliriknya untuk menjadi pemimpin mereka. Ia terpilih jadi walikota. Model kepemimpinannya sangat menginspirasi. Kepemimpinan yang merakyat dengan suka blusukan kemana-mana. Masyarakat kecil dilayani dengan baik.

Prestasi yang diperolehnya membuat ia maju ke Pilgub Jakarta. Ia berhasil menjadi Gubernur di Ibukota. Kerja kerasnya berhasil mengubah wajah Jakarta. Namanya melejit saat dipercaya rakyat untuk memimpin Indonesia. Ia menjadi presiden yang paling berhasil selama ini.

Namun banyak juga yang tidak menyukainya, para pesaing dan lawannya. Mereka membenci dan berusaha menjatuhkannya dengan cara fitnah, menyebar hoax, berita bohong. Namun ia tetap bekerja, bekerja, dan bekerja. Kita percaya orang ini baik dan harus didukung.

Injil yang sangat panjang ini mau menceritakan bagaimana proses orang beriman kepada Yesus. Orang buta sejak lahir itu disembuhkan Yesus. Tindakan Yesus itu menimbulkan pro dan kontra, karena Yesus melakukannya pada hari Sabat. Ia dianggap tidak memelihara hari Sabat.

Masyarakat terbelah. Ada yang pro Yesus, termasuk si buta yang mengatakan bahwa Ia ini seorang nabi. Yang kontra mengatakan, “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab ia tidak memelihara hari Sabat”. Situasi itu justru dipakai oleh si mantan buta untuk menjelaskan siapa Yesus sebenarnya.

Awalnya ia menyebut Sang Penyembuh itu “Orang yang disebut Yesus”. Sebutan ini tidak punya wibawa apa-apa. Tetapi ketika ia didesak orang Farisi, ia menyebut Yesus, “Ia seorang nabi!”

Penjelasan itu tidak meredakan suasana tetapi justru makin ricuh, heboh dan memanas. Mereka menyelidiki orangtuanya, mungkin mengintimidasi juga. Si mantan buta juga tak mau kalah, ia tetap teguh membela diri dan makin yakin pendiriannya.

Bahkan ia menyindir mereka, “Barangkali kamu mau menjadi muridNya juga?” Ia dipojokkan dan diusir keluar. Dalam situasi terkucil, orang buta yang sudah sembuh itu mengungkapkan credonya, “Aku percaya, Tuhan”. Dialah Anak Manusia yang telah membuat hidupnya baru.

Kita bisa melihat proses iman yang tumbuh: dari “orang yang disebut Yesus ke “Ia seorang nabi” lalu makin percaya, Yesus adalah Tuhan. Kesulitan, intimidasi, pengucilan, ditindasdan diolok-olok tidak memadamkan iman tetapi justru meneguhkan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Bagaimana dengan kita sendiri?

Pergi ke Semarang membeli ikan
Dimasak pedas campur brokoli
Iman berkembang dalam kesulitan
Bersama Yesus terus dihidupi.

Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 31.03.19 Minggu Prapaskah IV Lukas 15: 1-3.11-32 Cinta Mati Sang Bagaspati

BAGASPATI adalah seorang begawan yang berwajah raksasa. Ia mempunyai seorang puteri cantik, bernama Pujawati. Putera raja Mandaraka bernama Narasoma menjadi murid sang begawan di pertapaan Argo Belah. Narasoma jatuh cinta pada Pujawati. Begitupun sebaliknya.

Namun Narasoma malu memiliki mertua seorang raksasa. Apa kata dunia, seorang putera raja pewaris tahta Mandaraka menjadi menantu raksasa. Maka ia mengajukan “cangkriman”, tebakan. Kalau Pujawati bisa menebak, ia akan menjadi permaisurinya. Karena dirundung asmara, Pujawati minta kepada ayahnya untuk menebak “cangkriman” Narasoma.

Bagaspati menjelaskan isi tebakan itu. Inilah cangkriman itu : Ada seekor kumbang ingin mengisap madu dari bunga cempaka. Tetapi bunga cempaka itu dijaga oleh seekor bajul (buaya) putih. Maka buaya putih itu harus mati agar bunga dapat disuntingnya.

Bagaspati berkata, “Kumbang pengisap madu itu adalah Narasoma. Bunga cempaka mulya itu putriku Pujawati. Buaya putih itu aku sendiri. Karena malu punya mertua raksasa, aku harus mati. Demi kebahagiaan putriku dan engkau, Narasoma, aku rela mati.

Tetapi sebelum aku mati, aku berpesan kepadamu; Anakku, Pujawati jangan dimadu. Jangan pernah menyakiti perasaan istrimu dan jangan merendahkan derajat kewanitaannya. Aku berikan nyawaku padamu, demi kasihku kepada putriku, Pujawati”
Narasoma mengakhiri hidup ayah mertuanya dengan menusuk siku kirinya dengan keris dan keluarlah darah putih. Bagaspati mukswa mati demi kebahagiaan anaknya.

Injil hari ini menggambarkan bagaimana Allah sebagai bapa sangat murah hati kepada anak-anaknya. Yesus memberi perumpamaan anak bungsu dan si sulung. Anak bungsu itu menghabiskan seluruh harta miliknya. Warisan yang belum waktunya dibagi, telah ludes demi memenuhi hawa nafsunya. Ia jatuh miskin dan ingin kembali kepada ayahnya.

Bapa itu dengan sukacita menerimanya kembali, bahkan disambut dengan pesta pora. Si sulung iri dan marah. Ia tidak mau masuk ke rumah. Yang satu meninggalkan rumah. Yang lain tidak mau masuk ke rumah. Namun bapa tetap menerima mereka. Bahkan menjemput, mencari, menemui mereka dengan rangkulan penuh cinta.

Itulah sifat Allah yang mengasihi tanpa pamrih dan membeda-bedakan. Semua dilakukan hanya demi kebahagiaan anak-anaknya.

Pantaslah kita bersyukur memiliki Allah yang demikian mengasihi anak-anakNya. Tidak ada alasan untuk tidak membalas kebaikan Tuhan itu dengan hidup pantas dan baik di hadapanNya. Masa Prapaskah ini adalah waktu yang bagus kembali kepadaNya.

Bunga cempaka mekar di waktu senja
Didatangi kumbang-kumbang perkasa
Jangan diulur dan jangan ditunda
Segeralah kembali kepada Bapa.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr