by editor | Mar 29, 2019 | Renungan
SIKAP membandingkan itu sering terjadi dalam hidup kita. Tetangga beli TV, kita gak mau kalah beli TV flat yang lebih gede. Tetangga beli motor, kita gak mau kalah beli mobil, walau harus kredit.
Tetangga tampil dengan mode rambut blow, kita tidak mau ketinggalan pakai mode Mohawk. Istri tetangga punya sepatu high heel, kita cari mode lebih keren dengan hak tinggi di depan. Pokoknya gak mau kalah dan harus beda dengan orang lain.
Para suami sering juga membanding-bandingkan istrinya dengan istri orang lain. Maka muncul celotehan, “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri”. Celotehan itu sebetulnya “warning” bahwa kita tidak pernah merawat rumput sendiri.
Tidak pernah dibersihkan, dipupuk, disiangi, disiram, sehingga rumput menjadi kering dan layu. Tengok di kebun tetangga, rumputnya hijau subur dan indah. Jangan meloncat pagar.
Anda sebaiknya merawat rumput sendiri biar menjadi hijau dan subur. Ketika anda sudah mulai menilai dan membanding-bandingkan, anda sudah terindikasi memanjat pagar menuju kebun tetangga.
Dalam Injil hari ini, Yesus memperingatkan kepada mereka yang sering mengganggap diri benar dan merendahkan orang lain. Orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama berdoa. Orang Farisi itu membandingkan dan menganggap dirinya lebih hebat daripada si pemungut cukai.
“Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain; aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”
Kita harus hati-hati. Jangan sampai menggunakan doa sebagai cara menghakimi orang lain. Apalagi doa sekarang sering dipolitisasi. Doa dipakai untuk memuji paslon yang satu dan menjelek-jelekkan paslon yang lain. Doa tergantung dari dia yang memberi duit.
Doa adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita ini bukan siapa-siapa. Laksana setitik debu di tengah padang pasir. Pemungut cukai itu mengakui kekerdilannya. Ia merasa tidak punya jasa apa-apa di hadapan Tuhan.
Justru ia sangat membutuhkan belaskasihan Allah. Ia sangat tergantung dari Allah. Begitulah semestinya kita memposisikan diri di hadapanNya. Masa Prapaska ini sangat bagus untuk datang mengakui kedosaan kita. Pasti belaskasihNya akan tercurah bagi kita semua.
Ke Bandung naik kereta api
Singgah sebentar di Purwakarta
Marilah kita merendahkan diri
Di hadapan Tuhan kita bukan siapa-siapa
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Mar 28, 2019 | Renungan
BEBERAPA waktu lalu ada kasus pemotongan kayu salib di kuburan. Ada macam-macam reaksi. Ada yang marah, tidak terima, protes. Namun ada pula yang mengajak berefleksi bagaimana sikap dan hidup kita di tengah masyarakat.
Salib adalah lambang, tanda, rambu. Yang penting adalah hal yang dilambangkan itu. Kalau tindak tanduk, tutur kata, sikap dan perilaku kita sudah sesuai dengan yang dilambangkan itu, kiranya tanda atau rambu itu tidak diperlukan lagi.
Kalau tanda salib itu sudah dihayati dalam kehidupan seseorang, maka kayu palang itu tidak penting lagi. Salib itu punya dua arah : vertikal dan horisontal. Arah vertikal menunjukkan relasi dengan Allah. Arah horisontal menggambarkan relasi dengan sesama manusia.
Prabu Mandrapati “duka yayah sinipi”, sangat murka kepada Narasoma anaknya yang tega membunuh ayah mertuanya, Begawan Bagaspati demi mendapatkan putrinya, Pujawati. Prabu Mandrapati marah sambil memberi wejangan kepada Narasoma.
Manusia itu harus mempunyai 5 sikap menyembah. Pertama, manusia harus menyembah kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Kedua, manusia harus menyembah bakti kepada orangtua yang telah mengukir jiwa raganya.
Ketiga, manusia harus menyembah hormat kepada saudara tua yang telah memberi teladan hidup. Keempat, manusia harus menyembah sujud kepada mertua yang merelakan anaknya untuk melanjutkan keturunan. Kelima, manusia harus menyembah pada guru yang telah memberi ilmu.
Kelima sikap menyembah itu terangkum dalam sikap hormat kepada Tuhan (Vertikal) dan hormat kepada sesama (Horisontal). Narasoma diusir dari Kerajaan Mandaraka karena tindak-tanduknya yang tidak menghargai ayah mertua. Bahkan membunuhnya. Ia lari ke Mandura mengikuti sayembara pilih.
Dalam Injil hari ini, Yesus ditanya oleh ahli Taurat tentang perintah utama dalam kitab Bangsa Yahudi. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah yang lebih utama dari kedua perintah itu”
Sepuluh Perintah Allah dalam Kitab Taurat itu dirangkum oleh Yesus dengan dua hukum utama yakni cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Kalau kita mengaku mencintai Allah, maka harus terwujud dalam mencintai manusia.
Mencintai sesama juga wujud nyata kita mencintai Tuhan. Hal itu juga tersirat dalam Pancasila Dasar Negara kita. Lima sila itu merangkum cinta kepada Tuhan dan sesama.
Lima sila dasar negara kita
Itulah yang disebut Pancasila
Mencintai Tuhan Sang Pencipta
Terwujud dalam menghargai sesama.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by komsosparoki | Mar 26, 2019 | Renungan
“ITU kan kebijakan romo yang lama, romo baru punya kebijakan sendiri” keluhan seorang umat yang kaget ketika romo pengganti menghapus kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan rutin. Bahkan ada paroki ditinggal dengan buku kas nol. ada juga yang punya hutang. Aneh ya?
Kalau romo yang baru tidak suka anjing, maka anjing-anjing peninggalan romo lama dibuang semua. Kalau jadwal-jadwal yang sudah teratur mengganggu hobbynya, maka misa dibuat sesuai dengan waktu luangnya. Yang penting hobby jangan diganggu.
Ini pastoral berdasarkan hobby, bukan berdasarkan data. Sering juga kita mendengar keluan, “ganti pejabat ganti kebijakan”. Para guru sekolah sering mengalami hal itu. Ganti menteri ganti kebijakan.
Kecenderungannya, aturan yang baru akan menghapus aturan lama yang sudah berlangsung. Maka muncullah kekacauan dan kebingungan.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa kedatanganNya tidak untuk meniadakan hukum atau aturan yang ada. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.
Yesus menunjukkan kreativitas sekaligus kontinuitas pelayanan. Apa yang lama dilanjutkan sekaligus disempurnakan, tidak dihilangkan. Hukum kasih yang dibawa Yesus bukan menghilangkan hukum Taurat tetapi menyempurnakannya. Apa yang kurang dalam Taurat digenapi dengan hukum Kasih itu.
Bahwa Yesus sering mengecam dan berbeda pandangan dengan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi karena penafsiran yang berbeda terhadap hukum. Hukum Taurat itu baik, tetapi perilaku mereka yang tidak sesuai dengan Taurat itulah yang dikritik Yesus. Yesus ingin mengembalikan roh hukum Taurat yakni kasih.
Kasih itu mengatasi kewajiban-kewajiban melakukan aturan hukum. Yesus datang membawa kasih dan damai sejahtera.
Ke Zelandia Baru membeli burung kiwi
Ke Papua menikmati Cendrawasih
Janganlah kita mementingkan diri sendiri
Lebih baik melayani dengan kasih
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 14, 2018 | Renungan
APABILA dalam pergaulan dengan teman, kita harus menegur, mengingatkan atau menasehati, itu adalah sesuatu yang baik dan mulia.
Kita sering sungkan bila harus menegur teman. Sikap itu justru akan menjerumuskan. Jika harus menegur, Tuhan memberi jalan pada kita tahap demi tahap.
Pertama, membicarakan masalahnya secara pribadi, empat mata. Jika tidak berhasil, ajaklah satu atau dua orang saksi. Jika belum berhasil, langkah ketiga, bawalah soalnya kepada jemaat. Dengan tahap tahap seperti itu persoalan dapat dicarikan solusinya.
Namun kalau hal itu tidak berhasil, serahkanlah kepada waktu. Tuhan sendiri yang akan menyelesaikan. Ada masalah yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek. Dibicarakan dari hati ke hati secara terbuka.
Tetapi kadang ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh waktu. Masing-masing menyerahkan diri pada Sang Waktu diberi kesempatan untuk mengambil discretio spirituum mohon bimbingan Roh Kudus.
Memberi ruang kepada Tuhan dalam doa. “Jika dua orang diantaramu di dunia ini sepakat meminta apapun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga”.
Maka jika terjadi masalah, bersepakatlah untuk berdoa bersama minta kepada Bapa. Niscaya Bapa di surga akan mengabulkan. Tuhan memberkati.
Berkah Dalem.
Salam Obor Asian Games yang sudah memasuki Jabodetabek. Selamat berjuang Tim Indonesia.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr)
by editor | Aug 12, 2018 | Renungan
Pemerintah mengeluarkan UU nomor 11 tahun 2016 tentang pengampunan pajak. Dengan kebijakan ini Presiden Joko Widodo mampu menarik uang ke dalam negri, menghidupkan dunia usaha, menopang naiknya indeks harga saham gabungan (ISHG).
Tax amnesty juga menumbuhkan semangat nasionalisme. Orang diajak bangga menanamkan modal di dalam negri. Ikut berpastisipasi dan bertanggungjawab membangun ekonomi bangsa.
Dalam Injil hari ini Yesus mengajak Petrus membayar pajak. “Bayarlah kepada mereka, bagiKu dan bagimu”. Semboyan orang bijak taat bayar pajak bergema di sini.
Pajak dipakai pemerintah untuk membangun. Kalau kita peduli kehidupan bersama menjadi lebih baik, mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan taat bayar pajak.
Dalam situasi bangsa kita yang merayakan hari kemerdekaan, kita tidak boleh hanya berhenti pada selebrasi hura-hura, lomba-lomba, tetapi harus sampai pada aksi. Salah satunya adalah taat bayar pajak. Itu juga salah satu wujud nasionalisme kita.
Salam Obor Asian Games. Indonesia bisa. Eh selamat bagi penggemar nomor motor 99 Jorge Lorenzo ya.
Berkah Dalem.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr)
by editor | Aug 11, 2018 | Renungan
Cinta adalah pencapaian tertinggi manusia. BUNDA MARIA menunjukkan cinta yang total kepada Allah sejak awal mula dengan berkata, “Fiat Voluntas Tua”.
Sejak itu Bunda Maria menunjukkan cinta kepada Allah dengan rendah hati, tulus ikhlas, penuh pengorbanan. Cinta dan pengorbanan berpuncak saat Maria memangku Tubuh Kristus yang mati di kayu salib.
Kasih yang total itulah pencapaian martabat tertinggi manusia. Karena itu Allah mengangkat Maria ke surga jiwa raganya.
Dari Kidung Maria (Magnificat) kita melihat Allah yang mahakuasa. Ia mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya dan menurunkan orang yang kuasa serta meninggikan orang-orang yang rendah.
Rahmat Allah itu diberikan kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya. Jadi kita sekarang ini pun generasi yang memperoleh rahmatNya. Bersyukurlah kita karena dikasihiNya.
Selamat untuk kesebelasan Indonesia U-16 yang Juara di AFC. Kado manis buat HUT Kemerdekaan RI ke 73. Salam kita bisa.
Berkah Dalem.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr)