by editor | Mar 28, 2021 | Renungan
SEORANG suami menulis di buku hariannya; “Tahun lalu saya harus operasi batu ginjal. Biaya rumah sakit mahal. Tahun lalu saya harus pensiun dari pekerjaan yang sudah saya tekuni 30 tahun. Di tahun yang sama, ibu saya dipanggil Tuhan. Anak saya gagal ujian test kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya perbaikan mobil sangat mahal. Sungguh sial sekali nasib saya.” Ia mengakhiri tulisannya; “Sungguh tahun yang buruk dan berat.”
Istrinya tanpa diketahui membaca tulisan itu. Ia keluar dan menulis perasaannya; “Tahun lalu saya bersyukur suami berhasil dalam operasi batu ginjal. Ia makin sehat. Saya bersyukur suami pensiun dalam kondisi sehat dan baik. Tidak ada kasus tertinggal di kantornya. Sekarang punya banyak waktu buat keluarga. Saya juga bersyukur anak saya selamat dalam kecelakaan. Walau mobilnya rusak berat, namun ia tak sakit sedikit pun.” Sang istri mengakhiri tulisannya, “Rahmat Tuhan memang luar biasa, kami dapat melalui tahun kemarin dengan takjub. Tuhan melindungi dan mengasihi keluarga kami.”
Maria, saudara Lazarus menyambut kedatangan Yesus dengan istimewa. Ia mengambil minyak narwastu yang mahal dan meminyaki kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya. Bau minyak itu semerbak memenuhi ruangan.
Yudas Iskariot menilai tindakan itu dengan sudut pandang yang lain. “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar, dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”
Ia menilai tindakan Maria itu sebagai pemborosan dan sia-sia. Hanya menghambur-hamburkan uang tanpa ada gunanya.
Maria melakukan itu sebagai tindakan syukur. Ia dan saudaranya merasa dikasihi Tuhan sedemikian rupa. Lazarus dihidupkan kembali. Maka selayaknya ia menghormati Tuhan dengan sangat tinggi.
Rasa syukurlah yang membuat hidup kita bahagia. Maria mensyukuri karena Yesus tinggal di tengah keluarganya.
Yudas Iskariot berbeda cara pandangnya. Walau nampaknya ia memikirkan orang miskin, tetapi hati terdalamnya adalah ketamakan, karena yang dipikirkan adalah keuntungan pribadi.
“Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”
Sudut pandang kita akan mempengaruhi cara kita bertindak. Apa yang ada di dalam pikiran kita, itulah yang akan mempengaruhi perilaku kita.
Kalau hati kita penuh rasa syukur, maka semuanya akan terasa bahagia. Sudut pandang mana yang paling dominan dalam pikiran dan hati kita?
Matahari muncul di ufuk timur.
Akan tenggelam di barat saat senja.
Kalau hati dipenuhi rasa syukur,
Hidup akan tentram dan bahagia.
Cawas, mengintip puncak merapi…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr
by editor | Mar 27, 2021 | Renungan
“Gus Dur Dilengserkan”
MASIH ingatkah drama terpilihnya Gus Dur menjadi presiden? Dalam Buku “Menjerat Gus Dur”, dikisahkan bagaimana manuver politik itu berlangsung sangat cepat. PDIP memenangi pemilu 1999, disusul Golkar, PPP, PKB dan PAN. Secara logika pemenang pemilu punya kans sangat besar jadi presiden. AR Pendiri PAN aktif menggalang dukungan melalui kelompok Poros Tengah dan mengajukan Gus Dur sebagai capres melawan Megawati.
Loby-loby dilakukan, juga mohon restu kepada ulama-ulama sepuh. Bahkan mereka membuat surat pernyataan mau menjaga Gus Dur sampai selesai masa jabatan presiden. Gus Dur menang dan dilantik jadi presiden 20 Oktober 1999.
Mereka berharap Gus Dur sebagai presiden bisa diatur. Ternyata Gus Dur tidak bisa diatur oleh parlemen. “Gus Dur tidak mau diajak berkompromi, dengan orang yang setuju Indonesia dikuasai orang yang koruptif, tidak berpihak pada rakyat,” ungkap Yenny Wahid. “Gus Dur enggak bisa diajak kongkalikong. Gus Dur enggak bisa disetir. Enggak Bisa kasih proyek. Banyak yang enggak suka, ya sudah dilengserkan saja,” kata dia.
Mereka menghubungkan Gus Dur dengan kasus Bulogate dan Bruneigate. Sampai pada puncaknya parleman tidak mau menerima pencalonan kapolri usulan Gus Dur. Tetapi secara hukum tidak ada bukti bahwa Gus Dur terlibat. Sudah ada putusan MA. Hubungan presiden dan parlemen menjadi buruk.
Waktu itu Fordem (Forum Demokrasi) menyarankan Gus Dur mengundurkan diri. Tetapi Gus Dur dengan santai menjawab, “Mereka minta saya mundur? Jalan maju saja dipapah.” Gus Dur itu luar biasa. dalam situasi genting, dia masih bisa bercanda santai.
Terjadilah sidang istimewa MPR yang melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Hari itu 23 Juli 2001. Siapa yang memimpin sidang MPR waktu itu?
Hari Raya Minggu Palma ini bisa kita pakai untuk merefleksikan akhir hidup Yesus. menjelang kematian-Nya, orang-orang mengelu-elukan Dia masuk Yerusalem sebagai raja. “Hosana Putra Daud”.
Mereka mengarak Yesus masuk kota sebagai raja. Namun tiga hari kemudian teriakan itu berubah menjadi “Salibkan Dia. Salibkan Dia”
Pontius Pilatus, Hanas dan Kayafas sebagai imam agung serta orang-orang Yahudi bersekongkol menghukum Yesus dengan hukuman mati.
Baru saja Yesus diangkat, dielu-elukan sebagai raja, masuk Yerusalem. Namun mereka juga yang mengarak Yesus membawa salib ke Golgota.
Dimanakah kita saat Yesus dielu-elukan? Dimanakah kita saat Yesus memanggul salib? Betapa mudahnya kita bersorak, “Hosana Putra Daud” dan kemudian berubah menjadi “Salibkan Dia, Salibkan Dia.”
Dimanakah kita yang mengaku murid-Nya? Beranikah kita berada di pihak Yesus?
Bersorak dengan daun palma.
Hasil memetik di kebun tetangga.
Kita mengaku jadi murid-Nya.
Tapi sekaligus mengkhianati juga.
Cawas, menjelang subuhan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Mar 26, 2021 | Renungan
“Teori Kambing Hitam”
DASAWARSA 70-an di desa saya ada wabah. Hampir selama 40 hari ada 7 orang yang meninggal berturut-turut. Ada beberapa orangtua melihat tanda-tanda bencana. Mereka cerita bahwa ada “teluh braja” jatuh di kampung.
Teluh braja itu seperti bola api merah menyala yang jatuh di kampung pada malam hari. Sebuah peristiwa misterius yang mengisyaratkan akan datang bencana, kekacauan, atau sesuatu yang sangat menakutkan.
Selama sebulan lebih orang-orang kampung mengalami ketakutan. Mereka dicekam kekawatiran akan siapa lagi korban yang akan jatuh berikutnya.
Kematian demi kematian silih berganti. Seluruh kampung dilanda kesedihan dan kebingungan. Rasanya seperti kampung mati.
Bapak saya mengajak orang-orang muda untuk berkumpul di kuburan. Mereka diminta menangkap seekor binatang. Kebetulan ada anak anjing warga yang direlakan.
Setelah lubang digali, bapak saya mimpin doa mohon ijin, “Rik, kirik, aku njaluk lilamu, tulungana warga Banyuaeng sing lagi ketaman pagebluk, gelema dadi korban supaya pagebluk ilang saka desa kene.” Anehnya kirik itu tenang tidak memberontak saat dia dikubur hidup-hidup di pemakaman.
Sejak saat itu, bencana kematian yang berturut-turut tidak ada lagi. Desa kembali aman seperti sediakala.
Imam Agung Kayafas berkata, “Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita binasa.”
Ia bernubuat tentang kematian Yesus, bahwa lebih baik satu orang dikorbankan demi keselamatan bangsa daripada seluruh bangsa binasa.
Mereka sepakat untuk membunuh Yesus. Dia dikorbankan bagi keselamatan seluruh bangsa dan umat manusia.
Kadang kita juga berpikir dan membuat keputusan seperti Kayafas. Mengorbankan orang lain demi kepentingan kelompok. Suka mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain dan merasa paling benar sendiri.
Dengan alasan suci; demi keselarasan, keamanan dan ketentraman, maka dicarilah kambing hitam yang bisa dikorbankan.
Di gunung ada bunga melati.
Berada di puncak tertinggi.
Mari kita berani berkorban diri.
Agar hidup damai tentram di hati.
Cawas, naik gunung pakai JPS…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Mar 25, 2021 | Renungan
“Manunggaling Kawula- Gusti”
Istilah itu berasal dari ajaran Syekh Siti Jenar. Ia mendalami ilmu tasawuf di Baghdad selama 17 tahun. Ia mempunyai banyak pengikut di Jawa. Ajaran itu bisa dimaknai sebagai bersatunya Allah dalam diri manusia. Allah manunggal dalam kemanusiaan. Intinya adalah segala ciptaan Tuhan pada akhirnya akan manunggal (bersatu) dengan yang menciptakan.
Dalam persidangan Syekh Siti Jenar berkata, “Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada zat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh (manusia itu sendiri),” lanjut Syekh Siti Jenar.
Menjawab berbagai tuduhan, Syekh Siti Jenar tetap bertahan dengan keyakinannya. “Tak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun (saya) inilah Allah. Nyata Ingsun Yang Sejati,” balasnya (R. Tanaja, Suluk Walisanga, 1954:54).
Ajaran ini menyimpang dari ajaran mainstream yang sedang berkembang di Jawa setelah runtuhnya Majapahit. Maka ia dianggap mengembangkan ajaran sesat. Syekh Siti Jenar dituduh menyamakan dirinya dengan Tuhan. Akhirnya ia dihukum mati karena keyakinannya tersebut.
Yesus berdebat dengan orang-orang Yahudi yang ingin melempari-Nya dengan batu. “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku Kuperlihatkan kepadamu; manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku dengan batu?”
Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah, dan karena Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah, meskipun Engkau hanya seorang manusia.”
Orang-orang Yahudi menuduh Yesus menghujat Allah. Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Hal ini yang tidak bisa diterima oleh mereka. Yesus menjelaskan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya berasal dari Allah.
Yesus mengajak mereka untuk melihat pekerjaan-pekerjaan itu. Ia berkata, “Percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa.”
Tetapi mereka tetap menutup diri dan tidak mau percaya. Mereka mau menangkap Yesus untuk dihukum.
Jika orang tidak mau membuka hati, maka sulit juga akan percaya dan menerima penjelasan dan bukti-bukti apa pun.
Mari kita membuka hati lebih dahulu, lalu mendengar dan melihat karya-karya Tuhan. Dari situ kita akan menilai dan menyimpulkan dan membuat keputusan. Jangan belum apa-apa langsung menolak dan tidak percaya.
Matahari bercahaya.
Menyinari seluruh dunia.
Yesus Kristus Tuhan kita.
Sungguh Allah sungguh manusia.
Cawas, menanti senja…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Mar 24, 2021 | Renungan
“Kabar Sukacita?”
SEPASANG suami istri dari Stasi di pedalaman datang ke pastoran. Sang suami dengan terbata-bata dan ketakutan bilang, “Pastor, bisakah saya minta tolong. Pastor menikahkan anak saya secepatnya?”
“Umurnya berapa?” tanyaku. “Anak perempuan saya umurnya empatbelas tahun.”
“Cowoknya?” cecarku. “Limabelas Pastor.”
Bau arak menyengat tercium dari mulut bapak yang hanya menunduk kelu. Itu tanda stress berat, takut, punya beban berat, ada rasa bersalah. Takut datang menghadap pastor kalau tidak minum arak dulu. Dengan arak orang baru berani ngomong banyak. Ia meratap memohon dengan sangat.
Aku sudah menduga pasti anaknya hamil karena pergaulan bebas. Ibunya bercerita kalau anaknya sering kumpul di rumah dengan cowoknya ketika mereka sedang kerja di kebun sawit.
“Nasi sudah jadi bubur, bagaimana lagi Pastor. Kami harus bisa menerima dan menghadapi persoalan ini.”
Aku menghargai keinginan mereka dan mendukung untuk merengkuh dan memelihara anaknya.
Tetapi adat menuntut mereka harus segera menikah. Bagi gereja ini masalah yang problematis dan memprihatinkan.
Berita kehamilan itu bisa membawa sukacita. Tetapi masalah yang menyertainya belum tentu menggembirakan bagi yang mengalaminya. Mungkin begitu yang dialami Maria.
Pada awal menerima kabar dari malaikat, Maria terkejut dan bingung, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?”
Yang menggembirakan bukan soal Maria akan mengandung, tetapi kesanggupannya untuk menanggung beban yang begitu berat. Itulah berita sukacitanya. Maria berani mengatakan YA atas tanggungjawab besar itu.
Yang menjadi kabar sukacita adalah saat Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Dengan YA Maria itu, karya keselamatan Allah dimungkinkan terjadi, menjadi nyata. Allah menjadi manusia dan tinggal bersama kita.
Pasutri itu akhirnya merangkul dan menerima anaknya yang hamil. Mereka rela mengambil tanggungjawab untuk menyelamatkan anaknya. Itulah kabar yang menggembirakan.
Jika kita berani mengambil tanggungjawab kita – seberat apa pun – sehingga banyak orang mengalami berkat, maka disitulah kabar sukacitanya.
Bunda Maria ajarilah kami berkata YA, seperti engkau menjawab YA kepada Tuhan dan berpasrah kepada kehendak-Nya.
NB singkatan dari Nota Bene.
Kalau dibalik jadi Bene Nota.
Maria Ratu Pecinta Damai,
Ajari kami untuk tetap setia.
Cawas, hanya kosong di bawah NB….
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr
by editor | Mar 23, 2021 | Renungan
MENURUT Global Peace Index, Islandia adalah negara yang paling damai di dunia. Asia menempatkan Singapura di urutan 10 besar dan Indonesia ada di peringkat 41.
Penilaian ini didasarkan pada tingkat keamanan dan keselamatan, konflik sosial dan tren kebahagiaan hidup.
Negara-negara Nordic seperti Finlandia, Islandia, Swedia, Norwegia dan Denmark selalu masuk daftar sebagai negara yang damai, aman dan makmur.
Kalau menyebut negara-negara paling tidak korup, maka keluar lagi Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia.
Tetapi anehnya justru negara-negara Nordic itu kebanyakan warganya malah atheis alias tidak beragama. Mereka dipandang tidak relijius atau sering disebut kafir.
Sedangkan kita yang menyebut diri keturunan Abraham, bangsa religius, manusia agamis justru sering berbuat intoleran, kriminal, gesekan SARA, korupsi, mabuk agama dan ribut-ribut melulu.
Yesus berdebat dengan orang-orang Yahudi sampai pada asal-usul mereka. Orang-orang itu mengaku sebagai keturunan Abraham. “Kami adalah keturunan Abraham, dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun.”
Orang yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Orang yang melakukan kehendak Allah adalah anak Allah.
Jika mereka menyebut keturunan Abraham seharusnya mereka taat melakukan kehendak Allah, karena Abraham percaya pada janji Allah dan melakukan perintah-Nya.
“Sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku.”
Jika mereka ini mengaku keturunan Abraham semestinya sevisi, sepikir dan seperasaan dengan perjuangan Yesus untuk membawa damai dan keselamatan bagi dunia.
Kita mengaku religius, tetapi kelakuan kita jauh dari nilai-nilai religius. Kita mengaku beragama namun tindakan kita justru menjauh dari inti agama. Agama yang semestinya menjadi rahmat indah bagi dunia, justru diperalat oleh oknum-oknum demi kepentingan pribadinya.
Kita harus bertanya mengapa masyarakat yang dianggap atheis, tidak beragama seperti Swedia, Denmark atau Finlandia justru bisa menciptakan damai, sejahtera, toleran dan bebas konflik.
Sementara itu kita bisa belajar dari negara-negara yang berideologi agama harus berjuang keras menciptakan perdamaian dan ketentraman. Dimanakah peran agama?
Habis jalan-jalan sambil berolahraga.
Dilanjut semprot-semprot tanaman.
Kalau kita mengaku orang beragama,
Hidupnya ditandai dengan cinta dan toleran.
Cawas, membawa damai…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr