Puncta 15.03.20 Minggu Prapaskah III Yohanes 4:5-42 / Nabi – Mesias – Juruselamat
MANUSIA tidak bisa hidup tanpa air. Bumi kita ini 70% terdiri dari air. Tubuh kita juga demikian. Kita bisa menahan lapar. Tetapi kita sulit menahan haus. Kita sangat membutuhkan air.
Beberapa orang menggunakan air sebagai media berkatekese. Monsigneur Sunarko dikenal pandai mencari sumber mata air. Romo Kirjita berpastoral dengan air alkali atau air yang disetrum supaya dapat dipergunakan secara sehat.
Romo Wignyamartaya almarhum juga banyak menolong orang dengan meneliti arus air dengan bandulnya. Rm. Utomo swargi memberkati Nusantara dengan sumber air Candi Ganjuran. Dimana ada air di situ ada kehidupan.
Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang wanita Samaria di tepi sumur Yakub. Yesus memulai dialog dengan berkata,”Berilah aku minum.”
Relasi dibangun melalui air minum. Orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi karena perbedaan paham. Dari air Yesus memperkenalkan diriNya,
Jika engkau tahu siapa Aku niscaya engkau akan meminta air hidup. Yesus memiliki air kehidupan yang tidak akan habis.
Karena Yesus membuka siapa diriNya, maka perempuan itu juga berani mengakui siapa dirinya karena disingkapkan jati dirinya oleh Yesus.
Yesus mengetahui rahasianya. Perempuan itu kemudian menyebut Yesus sebagai nabi. “Tuhan nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.”
Dialog makin mendalam. Pembicaraan menuju pada penyembahan dalam roh dan kebenaran. Pada saatnya akan tiba bahwa orang akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.
Orang menyembah Allah tidak dibatasi oleh tempat dan waktu, tetapi orang akan menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran. Allah adalah Roh.
Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan kebenaran. Di bagian ini, perempuan itu percaya bahwa Mesias akan datang yang akan memberitakan segala sesuatu.
Saat itu juga Yesus mewahyukan diriNya. “Akulah Dia yang sedang bercakap-cakap dengan engkau.” Gelar Yesus berubah dari nabi menjadi Kristus atau Mesias. Iman bertumbuh.
Perempuan itu lalu pergi memberitahu orang-orang di kota bahwa ia telah berjumpa dengan Mesias. Iman harus diwartakan, bukan untuk diri sendiri.
Orang-orang itu datang dan mendengarkan Yesus. Mereka meminta Yesus tinggal di kota dan mereka semakin mengenal dan percaya kepadaNya.
Mereka bersaksi kepada wanita itu, ”Kami percaya, bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia.”
Perlu ada perjumpaan pribadi dengan Yesus agar makin percaya. Di awal Yesus disebut Nabi, di tengah disebut Mesias atau Kristus dan di akhir disebut Juruselamat dunia.
Di titik manakah pengenalan kita akan Yesus sampai saat ini?
Corona telah sampai di Surakarta.
Semua kegiatan libur sementara.
Yesus adalah Juruselamat dunia. Marilah kita percaya kepadaNya.
Cawas, Jaga kesehatanmu.
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 14.03.20 Lukas 15: 1-3.11-32 / Kunti, Ibu yang Welas Asih
DEWI Kunti mempunyai anak sebelum ia menikah dengan Batara Surya. Anak sulungnya ini diberi nama Karna Basusena.
Karna dibesarkan dan dipelihara oleh orang lain. Karena pergaulannya, Karna berada di pihak Kurawa. Ketika Kunti menikah dengan Pandu, lahirlah para Pandawa.
Karna mengikuti dan membela para Kurawa yang hidupnya berangasan, adigang adigung adiguna. Namun Kunti tetap mengasihi Karna sebagaimana dia mengasihi para Pandawa.
Walaupun Karna berada di pihak musuh, Kunti tetap menganggap Karna sebagai darah dagingnya. Bahkan ketika Kunti membujuknya agar kembali ke Pandawa,
Karna berani terang-terangan tidak mengakui Kunti sebagai ibunya. Karna menyalahkan mengapa dulu ia dibuang dan dipisahkan dari rahim yang melahirkannya.
Pilu hati Kunti namun ia tidak berkurang sedikit pun kasihnya kepada Karna. Hati Kunti tetap mengasihi Karna. Betapa pun di pihak musuh, ia tetap anaknya sendiri.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menggambarkan Allah sebagai Bapa penuh belaskasihan dan pengampunan. Ia punya dua anak. Yang bungsu minta harta warisan. Ini permintaan kurang ajar.
Seorang anak yang minta warisan ketika ayahnya masih hidup, itu berarti mengharapkan ayahnya segera mati agar warisan bisa segera dibagi-bagi. Ayah itu tetap memberikan hak waris kepada si bungsu.
Anak ini lalu pergi meninggalkan ayah dan rumahnya, berfoya-foya dengan para pelacur di kota. Habislah hartanya. Ia menjadi melarat. Ia menyadari kekeliruannya.
Ayahnya hidup bersama si sulung di rumah. Namun hatinya selalu terbayang si bungsu yang pergi meninggalkannya. Ia selalu menanti, menanti dan menanti.
Ketika ia melihat anaknya yang compang-camping, berjalan terseok-seok pulang, ayah ini langsung berlari menjemputnya. Ia merangkul dan menciumi anaknya.
Bahkan sebelum anaknya ngomong banyak-bayak, ia langsung menyuruh hambanya mengambil baju baru, cincin dan sepatu. Menggelar pesta sukacita.
Anaknya yang sulung kaget ada pesta besar-besaran yang belum pernah terjadi. Ia mendengar adiknya pulang. Ia marah, sakit hati, cemburu, merasa tersaingi, ayahnya pilih kasih.
Lalu ia merajuk, ngambeg gak mau pulang ke rumah. Ayahnya mengalah mendatangi dia. Si sulung merasa paling berjasa. Ia mengabdi ayahnya secara sempurna tetapi tak pernah diberi apresiasi.
Mentalnya bukan sebagai ahli waris tetapi budak yang butuh apresiasi. Ayahnya menyadarkan bahwa segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kamu itu anak, bukan hamba.
Itulah Allah sebagai Bapa yang mengasihi tanpa batas kepada siapa pun, bahkan yang berdosa sekali pun tetap dirangkul dan diterimaNya.
Ke luar negeri memberi tas berkelas.
Dengan tetangga lupa oleh-olehnya.
Kasih Bapa tak kenal batas.
Ia mengasihi kita yang berdosa.
Cawas, begadang tiap malam
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 13.03.20 Matius 21:33-43.45-46 / “Melik Nggendhong Lali”
DEWI SUKESI di Alengka adalah putri cantik jelita. Ia menjadi rebutan bagi semua pria. Namun dia hanya mau menikah dengan pria yang bisa mengajarkan arti ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat pangruwating Diyu.”
Di Lokapala yang menjadi raja adalah Danaraja, anak dari Begawan Wisrawa. Ia minta ayahnya melamar Dewi Sukesi untuknya.
Wisrawa memenuhi permintaan anaknya. Ia yang sudah tua renta mampu menjelaskan arti Sastra Jendra Hayuningrat pangruwating Diyu. “Jroning peteng kang ana amung lali”. Jroning lali tan eling kalau Wisrawa itu calon mertua.
Tetapi Sukesi justru jatuh cinta padanya. Wisrawa lupa diri dari tujuan awalnya. Akhirnya Wisrawa dikuasai nafsu “melik”.
Siapapun yang memiliki melik (keinginan berlebihan), pasti hatinya penuh hawa nafsu. Nalar macet, akal buntu, rasa kemanusiaan juga lenyap.
Yang dikejar cuma satu, yaitu bagaimana agar yang diinginkan itu secepatnya dapat diraih. Jika sudah pada posisi demikian, tidak mengherankan bila ia seolah-olah kerasukan setan.
Segala cara dihalalkan. Toh, yang namanya aturan, batasan, kemanusiaan, hanyalah buatan manusia. Semua bisa diubah, dibuang, diinjak di bawah telapak kaki.
Saat itu, semua menjadi tidak perlu karena yang perlu hanyalah bagaimana melik-nya bisa tercapai. Wisrawa-Sukesi melanggar semua tata norma dan aturan. Maka lahirlah anak-anak raksasa karena nafsu yakni Dasamuka, Kumbakarna dan Sarpakenaka.
Yesus bercerita tentang tuan yang mempunyai kebun anggur dan menyewakan kepada para pekerja. Pada saat musim petik, tuan itu menyuruh hambanya untuk menerima hasilnya.
Tetapi pekerja-pekerja itu justru membunuh hamba itu. Tuan itu menyuruh anaknya sendiri. Namun para pekerja itu juga membunuh anak tuannya. Para pekerja itu “melik nggendhong lali.”
Mereka tidak tahu aturan karena punya hasrat merebut kebun anggur itu menjadi milik mereka. Mereka tidak berhak memiliki kebun anggur. Namun karena nafsu melik membikin mereka menjadi lupa daratan.
Kita pun sering dikuasai oleh nafsu “melik” sehingga membuat kita jadi buta segalanya. Segalanya diterjang demi memenuhi hasrat nafsunya. Perumpamaan
Yesus itu ditujukan kepada para imam-imam kepala dan tua-tua. Tetapi juga tertuju kepada kita semua yang punya nafsu “melik nggendhong lali.”
Pulang dari jalan-jalan di luar negeri.
Diperiksa di bandara karena ada virus corona.
Janganlah kita punya sifat “melik nggendhong lali”.
Hendaknya kita selalu “eling lan waspada”.
Cawas, senja di batas kota
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 12.03.20 Lukas 16:19-31 / Arnold Schwarzenegger : “How Times Change”
DIA adalah gubernur California pada waktu itu dan bintang film terkenal di Hollywood. Ketika menjadi gubernur, dia meresmikan hotel yang di depannya ada patung dirinya.
Pihak hotel menyampaikan pesan ke Arnold, “Setiap saat anda boleh datang dan ada kamar untuk Anda yang selalu tersedia”.
Namun ketika Arnold sudah tidak menjabat gubernur lagi dan datang ke hotel tersebut, pihak hotel menolaknya dengan alasan bahwa kamar hotel sudah penuh.
Arnold menulis di statusnya; “How Times Change.” Lalu secara demontratif dia tidur di bawah patung dirinya dengan beralaskan sleeping bag.
Arnold memberi pesan kepada kalayak; ketika kamu kuasa, kaya raya, terkenal disanjung dan dipuji, kamu bisa mendapatkan apa saja di dunia ini. Namun ketika tidak punya posisi, kuasa, harta, tak akan ada penghargaan lagi. How times change.
Yesus memberi gambaran tentang orang kaya dan Lazarus. Yang jadi masalah adalah orang kaya itu tidak berbuat apa-apa dengan kekayaannya ketika ada Lazarus yang kelaparan di dekatnya.
Kekayaannya hanya untuk dirinya sendiri. Betapa kita melihat dan merasakan bahwa kekayaan di dunia ini hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sementara banyak orang miskin tidak mendapat bagian apa-apa.
Orang kaya itu menciptakan neraka bagi dirinya sendiri. Orang kaya itu sebetulnya berhati miskin karena dia tidak berusaha memberi dari yang dimilikinya.
Yesus pernah memuji janda miskin karena dia memberi dari apa yang dimilikinya. Janda itu berhati kaya. Orang kaya juga bisa masuk surga kalau dia mau membantu si miskin.
Jangan percaya dan mengandalkan kekayaan, kekuasaan, popularitas. Itu semua sementara saja. How times change. Waktu cepat berubah.
Maka selagi anda punya, berbuatlah baik kepada orang miskin, yatim piatu, lansia, tuna wisma. Di dunia akherat nanti tidak ada waktu lagi.
Selagi kita masih bisa berbuat baik bagi orang lain, inilah kesempatannya. Tuhan tidak menciptakan neraka. Neraka kita buat sendiri ketika kita tidak menolong sesama.
Di pihak Lazarus, ternyata segala penderitaan itu bisa mendatangkan penghiburan di alam kekal. Ketika kita tetap setia dan percaya saat mengalami penderitaan, buahnya di zaman akhir adalah penghiburan.
Bagi yang sedang terpuruk,tidak usah putus asa, karena di situ pun kita beroleh kesempatan untuk menjadi sabar, rendah hati, setia, dan tetap percaya. Yang akhirnya bisa membawa kita ke surga.
Betapa syahdu menikmati senja.
Mentari tenggelam di Pantai Kuta.
Harta dunia ini hanya sementara sifatnya.
Gunakanlah untuk membantu sesama.
Cawas, Perjalanan panjang ini.
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 11.03.20 Matius 20:17-28 / Semar, Sang Abdi Setia
SANGHYANG Tunggal mempunyai tiga anak yakni Sanghyang Antaga, Sanghyang Ismaya dan Sanghyang Manikmaya.
Mereka dicipta dari sebutir telur. Kulitnya menjadi Antaga atau Togog. Putihnya menjadi Ismaya atau Semar dan kuningnya menjadi Manikmaya atau Batara Guru.
Mereka berebut ingin menguasai Kahyangan. Maka diadakan perlombaan. Siapa yang bisa menelan gunung dan mengeluarkannya maka dia yang menang.
Antaga berusaha menelan tapi gagal. Maka mulut Togog lebar matanya melotot mehanan sakit. Ismaya berhasil menelan tetapi tidak bisa mengeluarkan.
Maka perutnya besar dan matanya berair manahan beban. Manikmaya berhasil menelan dan mengeluarkannya. Dia diberi kuasa memerintah Kahyangan.
Antaga dan Ismaya menjelma menjadi punakawan para ksatria di dunia. Puna artinya paham, mengerti, mengenal dan tahu segala sesuatu.
Kawan artinya sahabat. Punakawan berarti sahabat yang mengetahui dan mengenal, mampu menolong dan memberi nasehat dalam suka dan duka.
Punakawan juga disebut “Batur” pangembating catur, artinya teman diskusi, tempat bertanya dan mencari solusi. Punakawan menjadi abdi setia bagi tuannya dan para ksatria.
Yesus berkata tentang misiNya ke Yerusalem yakni memanggul salib, dihukum oleh para tua-tua dan harus menderita dan mati.
Tetapi para murid justru berebut tentang siapa yang akan ikut berkuasa. Ibu Zebedeus sudah meminta untuk posisi anak-anaknya. Satu di sebelah kanan, satu lagi di sebelah kiri. Mereka ingin berkuasa.
Tetapi Yesus memberi syarat, yakni harus bisa minum cawan seperti yang diminum Yesus. artinya mau menderita mati seperti Yesus.
Seperti Togog, Semar dan Batara Guru yang harus berlomba, demikian pun mereka harus memenuhi persyaratan Yesus.
Para murid yang lain marah karena mungkin mereka tidak kebagian kuasa. Dalam situasi kacau rebutan kekuasaan itu,
Yesus memberi pengajaran kepada murid-muridNya. “Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani , dan untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Sekali lagi kualitas pribadi terletak dalam pelayanan dan pengabdian, bukan pada jabatan, status atau kekuasaan apalagi materi atau kekayaan.
Semar walaupun badan dan mukanya jelek, orangnya miskin tetapi dihormati oleh semua ksatria di bumi. Dialah abdi yang setia bagi siapapun. Maukah kita menjadi abdi?
Di teras rumah menikmati kopi di saat senja.
Ditemani tahu pong dan buah mangga.
Barangsiapa ingin menjadi besar dan terkemuka.
Hendaklah ia mau menjadi pelayan dan hamba.
Cawas, di sebuah gelap malam
Rm. A. Joko Purwanto Pr