Renungan Harian

Puncta 09.11.19 Pesta Pemberkatan Basilika Lateran Yohanes 2:13-22 / Ecclesia Semper Reformanda

 

BAIT suci Yerusalem adalah pusat hidup Bangsa Israel. Di Bait Allah ini segala ibadat dan kurban dilaksanakan. Karena berhubungan dengan kurban maka muncullah pedagang-pedagang dan penukar uang.

Di Bait Suci ada banyak transaksi ekonomi. Di situ juga muncul percaloan dan preman-preman pengatur ekonomi. Bait Suci kemudian berubah fungsi. Tidak lagi fokus untuk peribadatan saja tetapi menjadi pasar.

Yesus ingin mengembalikan fungsi Bait Suci ke asal mulanya. Bait suci adalah tempat kehadiran Allah. Kesetiaan Allah itu mewujud dalam BaitNya yang kudus yang di dalamnya tersimpan tabut perjanjian Allah dengan Israel.

Tindakan Yesus mengusir para pedagang itu juga suatu simbol bahwa Yesus ingin merombak Bait Suci. Bait Suci itu adalah TubuhNya sendiri. Tubuh Yesus akan dihancurkan dalam kematianNya. Tetapi tiga hari kemudian Ia bangkit dan menang,

Hari ini gereja merayakan pesta pemberkatan Basilika Lateran. Di dalam Basilika ini ada tahta uskup Roma. Pemberkatan ini awalnya hanya dirayakan di Roma.

Tetapi karena posisi uskup Roma adalah juga Paus pemimpin gereja tertinggi, maka pesta pemberkatan Basilika Lateran kemudian dirayakan secara meriah di seluruh dunia.

Dengan perayaan ini kita diingatkan sebagai kesatuan Tubuh Mistik Kristus. Gereja Lateran adalah induk bagi seluruh gereja maka kita pun diajak bersyukur atas kasih Allah dalam penebusan Kristus.

Kita ini adalah anggota Tubuh Mistik Kristus. Hidup kita hendaknya diselaraskan dengan Sang Kepala yakni Kristus. Yesus ingin bahwa gereja selalu memperbaharui diri sebagaimaa Dia merombak Bait Suci.

Begitu pun gereja tidak bleh “mandheg” pada kemapanan yang meninabobokan. Gereja perlu merefleksi diri supaya tidak jatuh kepada kesombongan dan keangkuhan rohani. Ecclesia semper reformanda. Gereja harus selalu memperbaharui dirinya.

Denpasar moon penekna blimbing kuwi
Ben lunyu kita tetap gandengan
Marilah selalu memperbaharui diri
Agar gereja tetap jadi sarana keselamatan

Cawas, angin pun tiada bertiup
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.11.19 Lukas 16:1-8 / Hutang Budi Balas Budi

 

ADA seorang bendahara yang dituduh menghambur-hamburkan uang tuannya. Ia dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Seorang bendahara bertugas mengelola seluruh harta tuannya. Ia dipercaya oleh tuannya atas semua harta kekayaannya. Maka kalau bendahara itu pandai, harta tuannya akan bertambah banyak.

Demikian dia juga ikut menikmati hasilnya. Bendahara itu tidak digaji. Tetapi dia bisa mengambil untung dari pekerjaannya itu. Yang terjadi dengan bendahara ini, ia menghambur-hamburkan harta tuannya. Maka dia akan dipecat.

Ia berpikir pintar sebelum dipecat. Ia berusaha menanam kebaikan kepada orang-orang yang berhutang kepada tuannya. Ia bukan bermaksud memanipulasi.

Tetapi ia ingin menabur kebaikan dengan membuat orang lain berhutang budi kepadanya. Maka dia memanggil satu per satu orang yang berhutang kepada tuannya.

Ia meringankan beban utang orang-orang itu. Yang harusnya membayar seratus tempayan minyak, dia putuskan cuma membayar limapuluh tempayan saja. Yang harusnya membayar seratus pikul gandum, dia buat surat utang hanya delapan puluh pikul saja.

Dengan berbuat seperti itu, dia berharap orang-orang itu akan menolongnya saat dia mengalami kejatuhan. Ketika dia dipecat, akan ada orang yang menolongnya. Orang-orang itu telah berhutang budi kepadanya. Mau tak mau mereka akan menampungnya.

Tuhan Yesus bukan memuji kelicikan bendahara itu, tetapi tindakan menabur kebaikan kepada orang lain, supaya dia ditolong saat mengalami jatuh, itulah yang dipujiNya.

Kita harus bisa menanam kebaikan kepada banyak orang, sehingga hutang budi itu nanti akan dibalas dengan kebaikan pula. Kita tidak akan selamanya kaya, nyaman, sukses.

Hidup itu seperti roda. Kadang di atas tetapi kadang di bawah. Saat kita kaya, bantulah orang miskin. Saat kita sehat, kunjungilah orang sakit. Saat kita sukses, temani orang yang sedang gagal.

Saat kita nyaman, tolonglah mereka yang kurang beruntung. Saat sedang di atas, berbuatlah baik sebanyak-banyaknya. Ketika nanti sedang di bawah, kita akan memetik kebaikan kita itu.

Ke pantai menikmati mentari ke peraduan
Jalan-jalan berdua menikmati senja
Di saat sukses tanamlah kebaikan
Di saat jatuh kita tinggal memetiknya

Cawas, saat hujan belum tiba
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 07.11.19 Lukas 15:1-10 / Dicari Sampai Dapat

 

WALAUPUN kita mempunyai uang Seratus juta rupiah tetapi kalau kurang recehan dua ribu saja, jumlah uang nominal kita hanya 99.998.000. tidak bisa disebut seratus juta.

Oleh karena itu betapa berharganya nilai dua ribu rupiah itu karena dia bisa menggenapi uang yang jumlahnya jutaan itu. Walaupun hanya selembar recehan tetapi akan berguna untuk yang jutaan itu.

Namun sering kita tidak menghargai recehan itu. Uang kecil itu nasibnya merana. Sering rusak karena dilipat-lipat, “diuntel-untel” menjadi lecek dan kumal. Perlakuan kita berbeda dengan uang ratusan ribu atau limapuluhan.

Recehan dua ribu sering membantu kita tatkala di tempat parkir, WC atau buat Pak Ogah di pinggir jalan. Jangan sekali-kali mengabaikannya, tanpa dia jumlah yang jutaan itu tidak akan genap.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberi perumpamaan tentang domba yang hilang. Ada orang mempunyai seratus ekor domba.

Satu domba di antaranya hilang. Dia pergi meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dan mencari seekor dombanya yang hilang sampai ketemu.

Perumpamaan lain dikatakan Yesus kepada orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang perempuan yang mempunyai sepuluh dirham, tetapi satu dirhamnya hilang. Ia berusaha mencarinya sampai ketemu. Betapa bahagianya kalau dia bisa menemukannya.

Itulah belaskasih Tuhan. Yesus pernah berkata bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Justru orang berdosalah yang menjadi fokus utama pelayanan Yesus. Allah ingin agar rang berdosa bertobat. Demikianlah surga dan para malaikat akan bersukacita jika melihat ada satu orang berdosa yang bertobat.

Maka fokus pelayanan Yesus adalah mendekati orang-orang berdosa supaya mereka kembali kepada Allah. Ia mencari domba atau dirham yang hilang sampai diketemukan.

Semangat pertobatan semestinya kita bangun dalam hidup kita. Niat selalu kembali kepada belas kasih Allah harus jadi dasar hidup kita. Pertama-tama kita harus memahami bahwa Allah sangat mengasihi kita.

Kasih Allah itu lebih besar daripada dosa-dosa kita. Ia mencari domba yang hilang. Ia tidak hanya diam saja tetapi mencari sampai didapatkannya.

Karena begitu besar kasih Allah kepada kita, maka kita diharapkan hidup untuk membalas kasihNya itu. Betapa bahagianya kita. kendati kita berdosa tetapi dikasihi oleh Allah. Syukur pada Allah.

Coba kita tanya pada rumput ilalang
Mengapa hujan turun dari angkasa
Kita ini seperti domba yang hilang
Namun dikasihi Allah tiada habisnya

Cawas, menunggu hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.11.19 Lukas 14:25-33 / Syarat Menjadi Murid

 

KALAU kita mau memasukkan anak ke sekolah tertentu, pasti ada syarat-syaratnya. Misalnya; harus mengikuti aturan sekolah yang bersangkutan, menjaga nama baik sekolah, tidak boleh bolos, tidak boleh merokok atau narkoba, dan lain sebagainya.

Siswa harus mengikuti aturan sekolah dan berani meninggalkan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan sekolah. Kepentingan sekolah harus lebih diutamakan daripada hal-hal lainnya.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang syarat menjadi murid Yesus. “Jika seseorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu.”

Kata “tidak membenci bapanya” harus dibaca dalam kasanah bahasa Semit di daerah Timur tengah. Maksudnya adalah melebihkan.

Yang mau ditekankan adalah bahwa siapa pun juga yang menjadi penghalang dari komitmen mau menjadi murid Yesus harus ditinggalkan.

Menjadi murid Yesus harus komit dan lebih memilih mengikutiNya daripada hal-hal lain. Jadi jangan dibaca mentah-mentah. Karena itu, kata “membenci” berarti “tidak terlalu memilih” untuk jadi muridNya.

Menjadi murid Yesus adalah suatu keputusan untuk berani total mengikutiNya. Karena ini adalah keputusan, maka harus dipertimbangkan masak-masak.

Keputusan ini harus didasari kebebasan dan kedewasaan pribadi. Tidak hanya ikut arus seperti bebek. Maka Yesus memberi dua perumpamaan untuk menjelaskan hal ini. Pertama tentang membangun rumah.

Orang yang mau membangun rumah tidak akan memulai jika ia tidak tahu total biayanya. Apakah dengan uang yang ada, ia bisa menyelesaikan proyek ini atau tidak. Jangan sampai nanti mangkrak seperti Hambalang.

Kedua, tentang raja yang mau maju berperang. Raja yang bodoh, jika mau maju perang tidak berhitung dulu semua kekuatannya.

Berapa prajurit yang disiapkan, berapa dana yang tersedia, alat perangnya mencukupi atau tidak. Kalau sekiranya persiapan tidak matang lebih baik jangan menantang perang.

Hal pokok yang diajarkan Yesus adalah jika mau mengikutiNya, pertimbangkan masak-masak, karena tuntutan menjadi muridNya mengharuskan orang total berkomitmen.

Orang harus berani meninggalkan segala-galanya agar Yesus juga menjadi segala-galanya. Orang harus berani mengutamakan Yesus di atas segala-galanya. Beranikah kita?

Harus makan banyak serat
Biar sehat jiwa raga
Ikut Yesus itu berat
Karena keselamatan itu jaminannya

Cawas, pada suatu malam.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 05.11.19 Lukas 14:15-24 / Diundang Untuk Selamat

 

UMUM terjadi di berbagai paroki betapa sulitnya mencari pengurus dewan pastoral paroki, prodiakon atau perangkat-perangkat pelayanan pastoral.

Jika orang ditawari untuk menjadi pengurus dewan, ketua lingkungan atau prodiakon, jarang yang langsung menyatakan kesiap-sediaannya.

Ada banyak alasan untuk menolak. Ada orang muda berprestasi tetapi merasa tidak mampu dengan alasan sibuk pekerjaan. Ada orang yang trampil berorganisasi tetapi kalau diajak melayani di paroki bilang tidak punya waktu.

Ada orang yang berpengalaman tetapi usianya sudah tua. Ada keluarga yang potensial tetapi punya alasan anaknya masih kecil-kecil. Aneka macam alasan untuk menolak ikut dalam pelayanan di gereja.

Seandainya Tuhan itu menolak doa-doa dan tidak mau memberi berkat, lalu bagaimana ya? Hanya soalnya bagi Tuhan tidak ada alasan untuk tidak memberi berkat kepada kita.

Tuhan mengundang kita semua untuk ikut perjamuanNya. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak datang dengan berbagai alasan.

Ada yang baru membeli ladang dan dia sibuk mengurusnya. Yang lain berkata, “Aku baru membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya.”

Yang lain lagi punya alasan baru saja menikah sehingga tidak sempat datang ke undangan pesta. Perjamuan pesta yang sudah disiapkan itu terancam batal karena tidak ada yang mau datang.

Tuan yang punya “gawai” itu akhirnya memaksa untuk membawa orang cacat, lumpuh, buta, miskin dan yang lain untuk datang ke pesta.

Orang-orang “cacat” itulah yang ada di arena pesta. Tetapi bagaimana bisa menikmati pesta jika yang hadir adalah orang-orang cacat?

Bisa dibayangkan bagaimana permainan sepakbola bisa dinikmati jika yang ada di lapangan adalah orang lumpuh, buta, bisu, tuli dan cacat lainnya?

Tetapi yang mau disampaikan adalah Tuhan itu mengundang kita kepada keselamatan. Siapapun juga tanpa pandang bulu. Tuhan membebaskan para undangan entah menerima atau menolak.

Kalau menolak, mereka tidak masuk ke perjamuanNya. Tetapi jika menerima, mereka akan ikut bersama perjamuan Tuhan.

Semua tergantung dari kita sendiri. Mau menerima atau menolak. Mau selamat atau tidak. Silahkan anda memilihnya.

Menari gambyong hanya bertiga
Kurang serasi tidak sempurna
Tuhan selalu mengundang kita
Ikut serta dalam perjamuan pestaNya

Cawas, pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr