Puncta 18.02.21 / Lukas 9:22-25 / Pertobatan Rodrigo Mendosa
RODRIGO MENDOSA masuk ke bilik kamar pengakuan. Pastor Gabriel dengan tenang mendengarkan pengakuan Mendosa bahwa ia telah membunuh adiknya karena cemburu dan sakit hati.
Untuk menebus dosanya, Mendosa diminta ikut serta para misionaris melayani suku-suku Indian Guarani di pedalaman Brasil.
Biasanya dia naik kuda menangkap orang Indian dijadikan budak. Kini dia berjalan dengan membawa beban berat di pundaknya.
Di tengah medan yang amat sulit, dia memikul segala peralatan besi yang dia pakai untuk mencari budak dan membunuh adiknya.
Dengan memanggul beban berat Mendosa berjalan melewati bukit-bukit berlumpur dan air terjun yang terjal.
Pertobatan Mendosa dijalani dengan meninggalkan pekerjaannya, memburu dan menjual budak.
Sebagai silih dia memikul beban berat serta mengikuti para misionaris mewartakan Injil ke pelosok Suku Indian.
Setelah hidup bersama dengan para misionaris dan melihat bagaimana pelayanan mereka kepada suku-suku Indian, akhirnya Mendosa memutuskan bergabung dalam komunitas dan menjadi imam.
Dalam Injil Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Kenikmatan dunia, kekayaan, kekuasaan ternyata tidak mampu menyelamatkan. Mendosa mengejar hal-hal duniawi. Namun hidupnya tidak bahagia. Dia baru mengalami kebahagiaan ketika berani meninggalkan semua itu dan mencurahkan hidupnya demi Kristus di antara suku Indian.
Bahkan dia berani mati membela iman yang telah ditaburkan di tengah suku-suku Indian yang dia layani.
Beranikah kita memenuhi tuntutan Yesus agar kita pantas menjadi murid-Nya? Maukah kita menyangkal diri, memanggul salib setiap hari dan mengikuti Kristus?
Katanya pada takut kena virus corona.
Tapi pada pergi ke mall-mall dan wisata.
Mari kita berpantang dan berpuasa.
Ikut solider dengan mereka yang menderita.
Cawas, bahagia itu sederhana….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 17.02.21 / Rabu Abu – Pantang dan Puasa / Matius 6:1-6.16-18
“Don Diego de la Viega”
ADALAH seorang bangsawan Spanyol yang prihatin terhadap rakyat Meksiko yang terjajah. Ia miris melihat perlakuan penjajah.
Banyak rakyat miskin hidupnya, menderita, dijadikan budak, diperlakukan tidak adil, hidup sengsara. Ia tergerak menolong mereka dengan diam-diam.
Namun supaya orang tidak mengenali dirinya, Diego memakai topeng hitam, pakaian dan jubah serba hitam, topi sombrero lebar. Ia pandai bermain pedang dan berkuda. Ia menjadi pahlawan bagi rakyat kecil.
Semua orang tidak mengenal Don Diego de la Viega. Yang mereka kenal adalah Zorro. Baginya tidak penting siapa Don Diego de la Viega. Yang penting dapat melakukan kebaikan demi rakyat miskin yang tertindas tanpa harus diketahui siapa orangnya.
Hari ini adalah awal masa puasa. Yesus menasehatkan kepada murid-murid-Nya agar tidak melakukan kebaikan supaya diketahui banyak orang.
Ada tiga hal tindakan yang tidak boleh dipamer-pamerkan; Memberi sedekah, berdoa dan berpuasa.
“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.” Demikian juga dalam hal berdoa. “Berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Bahkan kalau sedang berpuasa, janganlah orang sampai tahu kalau kamu sedang berpuasa. “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Kalau kita hanya mengejar pujian dari manusia, kita akan kehilangan berkah dari Tuhan. Pujian manusia tidak akan dibawa mati. Kemurahan Tuhanlah yang akan menyelamatkan kita.
Kita melakukan kebaikan bukan karena pujian. Tetapi karena Allah telah mengasihi kita lebih dahulu.
Mari kita gunakan masa empatpuluh hari ini untuk berbagi kebaikan dengan sesama kita, khususnya mereka yang menderita karena pandemi covid19 ini.
Gunakan waktu ini untuk berbagi, berdoa dan berpuasa. Hidup menjadi berkah bagi sesama.
E-Relasi adalah majalah keluarga,
Bisa didownload dimana saja.
Mari kita berdoa dan berpuasa.
Hidup damai dan berbahagia.
Cawas, senandung doa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 16.02.21 / Markus 8:14-21 / Gorengan Isue
TAHU GORENG, tempe goreng, pisang goreng, “molen”, ubi goreng banyak dijual di kaki lima pinggir jalan. Di daerah Seturan atau di sepanjang jalan Kaliurang seputaran kampus-kampus, banyak warung tenda berjualan gorengan. Makanan kecil yang murah meriah ini sangat nikmat dimakan sambil ngobrol bareng teman-teman. Gorengan-gorengan ini sangat afdol menjadi teman ngobrol.
Namun ada juga orang atau kelompok yang senang bukan pada gorengan tahu atau pisang, tetapi gorengan isue.
Ada orang yang suka menggoreng-goreng isue, menyebar fitnah dan kebencian, lalu timbul chaos di masyarakat. Isue tentang SARA mudah digoreng untuk mengobarkan permusuhan.
Ketika teroris diberantas, pemerintah dinilai otoriter, melanggar HAM, bertindak kejam. Ketika berita-berita hoax ditertibkan, pemerintah dianggap membungkam kebebasan berpendapat. Gorengan-gorengan isue disebar, bahkan ada yang bermain peran playing victim. Berposisi sebagai korban agar dikasihani.
Dalam perjalanan,Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar berhati-hati. “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Para murid tidak paham dan kurang peka terhadap pengaruh orang Farisi dan Herodes yang merongrong karya pelayanan Yesus.
Dua kelompok ini jelas tidak senang dengan kehadiran Yesus yang mendobrak tatanan agama dan kemasyarakatan. Orang Farisi yang taat hukum Taurat tidak senang dengan Yesus. Kaum Herodian (Kelompok Herodes) merasa diusik posisi kedudukan mereka.
Kedua kelompok ini bersekongkol menjatuhkan Yesus. mereka menjebak Yesus soal pajak. Murid-murid Yesus dituduh melanggar aturan Sabat.
Mereka menggoreng isue untuk menjatuhkan Yesus. Ragi kaum Farisi dan Herodes disebar agar masyarakat terpengaruh lalu menolak Yesus. Kaum Farisi dan Herodian menyebar opini untuk menggagalkan karya Yesus.
Gorengan mereka ya gorengan isue, padahal lebih enak gorengan tahu. Pilih isue atau tahu?
Jokowi bangun waduk di Pacitan.
Di sana juga ada museum dan galeri.
Jangan mudah bermain jadi korban.
Agar banyak orang mengasihani.
Cawas, bersama kita bangkit…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 15.02.21 / Markus 8: 11-13 / Mengejar Tanda
SUATU kali saya mendengar percakapan di sebuah kelompok doa. Saya duduk di belakang seorang bapak yang selesai memimpin doa dengan berkobar-kobar. Dia berbisik kepada seorang umat di sebelahnya, “Bapak sudah bisa bahasa Roh?” Umat itu menjawab, “Belum pak.” Orang itu kemudian menawari, “Bapak mau bisa berbahasa Roh? Silahkan datang ke kelompok kami tiap Minggu sore nanti saya ajari.”
Orang itu mengeluarkan kartu nama dari sakunya, dan menyerahkan kepada orang di sebelahnya.
Sambil berterimakasih, umat ini berkata, “Saya lebih ingin belajar bahasa hati pak daripada bahasa Roh. Saya rasa kalau hati kita sudah nyambung dengan Tuhan, kita tidak perlu bahasa Roh. Apa artinya bisa bahasa roh sendiri tetapi orang lain tidak nyambung. Maaf pak menurut saya bahasa Roh itu karunia Tuhan, jadi tidak bisa diajarkan.”
Acara doa berakhir dengan lagu puji-pujian meriah.
Ada sebagian orang yang berusaha keras ingin bahasa roh. Pikirnya kalau sudah bisa bahasa roh, imannya sudah sempurna.
Tanda kalau imannya hebat adalah kemampuan bahasa roh. Maka ada orang yang berusaha sekuat tenaga berdoa dengan bahasa roh.
Dalam Injil hari ini orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan bersoal jawab. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga.
Yesus mengeluhkan sikap orang-orang Farisi. “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu: Sungguh kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberikan tanda.”
Kadang kalau kita berdoa juga sering minta tanda atau mukjijat. Bahkan kita memaksa Tuhan. Tuhan baru diakui kalau memberi mukjijat.
Orang Farisi baru percaya kalau Yesus memperlihatkan suatu tanda dari surga. Kita kadang seperti orang-orang Farisi itu.
Kita tidak sadar, badan sehat, bisa menghirup udara segar, bisa bangun pagi, melihat kupu cantik, bunga yang segar itu juga sebuah tanda atau mukjijat.
Coba dengarkan sharing orang-orang yang sembuh dari covid19, pasti anda akan bersyukur karena diberi kesehatan yang baik oleh Tuhan.
Apa yang dikatakan bapak di atas benar, tidak perlu pandai bahasa roh, tetapi bisa mengerti bahasa hati.
Kalau hati kita sudah “klik” dengan Tuhan, kita bisa melihat hal-hal kecil dan sederhana itu sebagai mukjijat besar dari Tuhan. Dari situ kita akan bisa selalu bersyukur.
Sakit pincang namanya “lempoh.”
Orang yang menipu itu “goroh.”
Apa gunanya pandai bahasa roh,
Kalau hidupnya tidak bisa jadi contoh.
Cawas, mengejar senja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 14.02.21 – Minggu Biasa VI Thn B/1 – Markus 1:40-45
“Berilah Aku belaian Terakhir”
PENGALAMAN indah nan mengharukan dikisahkan oleh Pastor Pius Titirloloby dan Pastor Skia Mangsombe, dua imam projo Keuskupan Amboina. Mereka berdua melayani pemberkatan jenasah pasien covid19 yang baru saja meninggal.
Malam sebelum meninggal, pasien ini minta kepada perawat untuk membacakan Kitab Suci. Dia juga minta agar boleh tidur di lengan sang perawat. Pasien itu memohon, “bolehkah aku minta belaian lembut untuk yang terakhir kali?” Sang perawat dengan penuh kasih membelai pasien yang tidur di sampingnya sampai akhirnya dia dipanggil Tuhan.
Sungguh luar biasa pelayanan para perawat. Mereka tidak hanya merawat fisik yang sakit, tetapi juga menghantar jiwa menuju kedamaian abadi. Pasien itu menghadapi kematian dengan senyum bahagia. Ia dihantar kepada Tuhan dengan penuh cinta.
Covid19 mungkin mirip dengan penyakit kusta zaman dulu. Mereka disendirikan, dikarantina. Hidup terpisah dari orang lain. Banyak orang takut untuk mendekat. Takut tertular. Seperti dalam bacaan pertama, orang kusta itu harus tinggal di luar perkemahan, harus memakai pakaian cabik-cabik, rambut terurai dan menutupi mukanya sambil berseru; najis! najis!
Muncul pergeseran pemahaman bahwa orang kusta dianggap sebagai orang berdosa, orang najis, dikutuk Allah. Mereka dikarantina bukan karena berdosa tetapi demi keselamatan banyak orang. Supaya tidak semakin banyak orang tertular. Melulu demi kesehatan bersama.
Yesus tidak menjauhi mereka. Yesus mengulurkan tangan dan menjamah orang itu. “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Yesus tidak menjauhi, tetapi Dia menolong orang itu. Perawat yang menemani pasien covid itu membacakan Kitab Suci, membelai keningnya, membiarkan dia tidur dalam damai di lengannya. Walaupun pasien itu tidak sembuh, tetapi dia menyongsong hidup baru yang bahagia karena dicinta.
Sebagai gembala, sikap seperti Yesus itulah yang akan menyelamatkan, bukan menjauhi atau menakut-nakuti. Mereka butuh disapa dan didekati.
Mari kita tidak menunda waktu untuk menyapa dengan senyuman, membelai dengan kasih sayang, karena dengan demikian orang merasa bahagia karena dicinta.
Kapan dewi corona ini pergi,
Biar kita bisa bercengkerama.
Jangan menunda untuk mengasihi,
Dengan cinta hidup jadi bahagia.
Cawas, menunggu senja…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr