Renungan Harian

Puncta 15.10.20 / PW. St. Teresa dari Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja / Lukas 11: 47-54

 

“Sejarah Kelam”

SETIAP Bulan September selalu muncul polemik tentang pemutaran film G30S PKI. Ada yang pro dan ada yang kontra. Adalah mantan panglima TNI yang menginginkan rencana nobar film itu. Pemerintah melalui Menkopolhukam, Mahfud MD menanggapi dengan mengatakan, “Pemerintah tidak melarang atau pun mewajibkan untuk nonton film G 30 S/PKI tersebut. Kalau pakai istilah hukum Islam mubah. Silakan saja,” Cuma di masa pandemi ini warga disarankan untuk menjaga protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, agar tidak jadi cluster penularan virus corona.

Isue tentang bangkitnya kembali PKI adalah menu empuk tapi basi menjelang pilkada atau perebutan kekuasaan. Bisa dipakai untuk tunggangan menyerang lawan-lawan yang tidak disukai. Pemerintah sekarang tidak melarang, juga tidak mewajibkan masyarakat menonton film itu. Bagi mereka yang anti pemerintah, melarang atau mewajibkan bisa menjadi bumerang.

Di Lubang Buaya dibangun monumen Pancasila sakti atas prakarsa Pak Harto, presiden kedua. Monumen itu untuk mengenang pengkhianatan PKI yang akan mengganti ideologi Pancasila. Kita bisa mengenang tujuh pahlawan revolusi yang dibunuh PKI di sebuah sumur.

Dengan membangun monumen itu kita mengakui telah terjadi gerakan pengkhianatan ideologi dan itu telah memakan korban nyawa yang tidak sedikit jumlahnya. Harus menjadi pelajaran sejarah bagi kita semua.

Yesus mengkritik orang-orang Farisi, “Celakalah kalian, sebab kalian membangun makam bagi para nabi, padahal nenek moyangmulah yang telah membunuh mereka. Dengan demikian kalian mengakui, bahwa kalian membenarkan perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kalian membangun makamnya.”

Yesus juga mengecam kita sebagai bangsa yang diam melihat pembantaian-pembantaian orang tak bersalah di tahun 1965. Kekerasan dan ketidakadilan yang memakan banyak korban tidak boleh terjadi.

Kita mesti bersyukur punya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan hidup bersama. Kita harus memperjuangkan nilai-nilai Pancasila itu hidup dan mengakar di segala sendi kehidupan. Lebih penting mewujudkan nilai Pancasila, bukan malah membangkitkan mummi yang sudah tidak ada nyawanya.

Ada titik berwarna merah.
Ternyata luka yang berdarah.
Belajarlah dari sejarah.
Biar bisa memetik hikmah.

Cawas, amplopnya siap…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 14.10.20 / Lukas 11: 42-46 / Kaum Farisi Zaman Now

 

ORANG Farisi adalah kelompok yang menganggap diri sebagai kaum beragama saleh di Israel. Mereka ahli dan sangat fasih mempelajari Kitab Taurat Musa, juga tradisi-tradisi lisan yang banyak dianut sebagai pedoman hidup. Mereka adalah kelompok kaum pekerja menengah , yang berpengaruh, tidak hanya dalam hidup keagamaan, tetapi juga sosial dan politik. Mereka mengejar status terhormat dalam masyarakat. “Suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.”

Orang yang suka cari hormat biasanya ingin dilihat orang. Memandang orang lain dari pangkat, gelar atau kedudukan. Orang akan dianggap penting kalau punya jabatan tinggi, gelar panjang atau pangkat terhormat. Orang seperti itu punya ambisi yang kuat. Bisa menghalalkan segala cara demi mendapat jabatan atau pangkat tinggi.
Orang yang ada di bawahnya harus tunduk kepadanya. Senioritas itu penting.Yunior harus tunduk memberi hormat kepadanya. Kalau tidak, hukuman dijatuhkan.

Yesus berkata kepada ahli Kitab, “Kalian suka meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kalian sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”

Mampu memberi perintah, meletakkan beban itu tanda kuasa. Semua perintah harus ditaati, kalau tidak dia akan marah, uring-uringan, “baper.”

Sindiran Yesus itu mengena mereka, “Guru, dengan berkata demikian, engkau menghina kami juga.”

Semua kebijakan atau keputusan harus melalui dia. Kalau tidak, dia merasa dilangkahi, tidak dianggap. Sesudah itu dia akan merajuk, kecewa, “ngambek” seperti anak kecil. Orang lain harus merunduk-runduk, merayu dan memohon-mohon karena dia merasa jadi orang penting.

Begitulah kritik Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Tetapi kritik itu bisa juga tertuju pada kita semua. Bisa jadi sifat-sifat itu kita miliki juga. Kita mengejar hormat, pengin berkuasa, bersikap munafik, “jarkoni”, suka perintah tapi tidak mau memberi teladan. Kita ingin dilihat sebagai orang saleh.

Coba perhatikan mereka yang duduk di kursi pesakitan, tiba-tiba pakaiannya berubah.

Bisa jadi kita adalah orang-orang Farisi modern, ahli kitab zaman now, kaum Farisi milenial yang dikritik Yesus lewat sabda-Nya hari ini. Marilah kita bercermin melalui sabda Yesus ini.

Wajah tengadah memandang bulan.
Bulan bersinar di kegelapan.
Hati-hati terhadap kehormatan.
Kita bisa tergila-gila lupa daratan.

Cawas, pungguk merindu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 13.10.20 / Lukas 11:37-41 / Zaman Orba

 

ZAMAN Pak Harto berkuasa, semua orang, apalagi pejabat, sangat takut. Kalau beliau akan berkunjung ke suatu tempat, semua orang sibuk melakukan persiapan. Dari Gubernur, bupati, tentara, polisi, camat semua terlibat tak terkecuali. Mulai dari seragam, latihan menyanyi, baris di pinggir jalan diatur sangat teliti. Kunjungan hanya satu jam, tetapi persiapan bisa berbulan-bulan lamanya. Semua harus kelihatan sempurna di mata Pak Harto. Semua dibuat yang bagus-bagus, tak boleh ada yang salah. Semua bertindak ABS (Asal Bapak Senang).

Anak-anak sekolah disuruh pak guru menghapal jawaban-jawaban yang sudah disiapkan. “Siapa bapak kamu?” Jawabnya harus serempak, “Bapak Suharto.”
“Siapa ibu kamu?” harus dijawab, “Ibu Tien Suharto?”
“Apa cita-cita kamu?” harus dijawab serentak, “Tentara Angkatan Darat.”

Saat berkunjung tiba. Pidato-pidato pejabat selalu memuji Pak Harto sebagai bapak pembangunan, bapak kaum tani, bapak nelayan, bapaknya rakyat Indonesia dan aneka sanjungan bak hujan yang tak pernah berhenti. Beliau memanggil seorang anak untuk maju ditanyai. Semua pejabat dan guru mulai keringat dingin menanti jawaban anak itu.

“Siapa bapak kamu?” kata Pak Harto. “Bapak Presiden” jawabnya lantang. Semua tersenyum. “Siapa ibu kamu?” Jawab anak itu, “Ibu Tien”. Semua orang lega. Hapalannya masuk. “Kalau besar besuk kamu mau jadi apa?” Anak itu mungkin grogi diberi tepuk tangan meriah. Ia terdiam, lupa. Dari jauh Pak gurunya memberi isyarat tangan menunjuk di dada dengan sikap tegak sempurna menatap langit. Maksudnya ABRI. Anak itu melihat ke pak guru bersikap begitu, dia menjawab, “Pengamen.”

Pikirnya dia disuruh mengatakan siapa dirinya, karena pak guru menunjuk dada. Dia memang tiap harinya mengamen. Kepala sekolahnya pingsan dan para pejabat pucat pasi. Besuknya Bupati langsung dipindah ke Kalimantan dan kepala sekolah digeser ke pedalaman.

Kadang kita hanya mementingkan hal-hal lahiriah, yang kelihatan. Seremonial dan upacara yang kasat mata demi menyenangkan pimpinan. Apa yang nampak di luar, biar kelihatan baik dan dipuji orang. kita sering mengabaikan inti yang terdalam, aspek batiniah yang jauh lebih mendasar.

Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang hanya mementingkan sisi luarnya, atau chasingnya saja. “Hai orang-orang Farisi, kalian membersihkan cawan dan pinggan bagian luar, tetapi bagian dalam dirimu penuh rampasan dan kejahatan.”

Mari kita belajar memberi perhatian bagian inti dalam yang lebih utama supaya apa yang indah dari dalam akan memancar menjadi kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita.

Malam-malam mengupas buah.
Dimakan sambil nonton sandiwara.
Jangan terjebak oleh yang lahiriah.
Karena hal itu bisa mengelabui kita.

Cawas, bunga warna merah…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.10.20 / Lukas 11:29-32 / Menyesal Kemudian Tiada Guna

 

SUATU kali saya pernah diminta untuk memberi sakramen minyak suci di Stasi Sukamaju. Waktu itu jalan belum diaspal halus. Masih jalan berlumpur. Apalagi antara Tayap dan Engkadin jalannya sangat buruk. Saya minta agak mundur karena masih padat acara. Dengan melewati jalan buruk waktu tempuh menjadi lama. Ketika saya sudah sampai di tempat, saya disambut dengan tangisan meraung-raung. Mereka bilang anak itu sudah meninggal. Hati saya serasa dihantam batu, “mak tratap….”

Ibu anak itu berteriak-teriak, “Mana Tuhan… mana Tuhan… Tuhan tidak adil mengapa anak saya mati?” Orang-orang berusaha menenangkan. Tetapi dia makin berteriak, “Tidaaaakkk…” sambil memeluk anaknya.

Aku mengajak mereka berdoa bersama dan ibu itu kemudian tenang. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku menyesal mengapa aku menunda-nunda untuk datang memberi minyak suci. Seandainya aku datang lebih awal, sebelum anak ini meninggal, mungkin akan lain. Penyesalan biasa datang setelah kejadian. Menyesal di kemudian hari tiada berguna.

Yesus diminta untuk membuat tanda, bahwa Ia adalah Anak Allah. Yesus berkata, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda. Tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.”

Kadang kita juga ingin bukti nyata bahwa Tuhan bertindak. Kita minta mukjijat-mukjijat yang menampakkan Tuhan hadir dan ada atas kesulitan kita. Bahkan tidak segan-segan kita menantang Tuhan. “Tuhan tunjukkan kuasa-Mu, buatlah mukjijat atas diriku.”

Orang-orang Ninive percaya kepada Yunus. Mereka semua bertobat. Mulai dari raja sampai rakyat dan binatang-binatang ternaknya. Bangsa Ninive diselamatkan karena percaya kepada Yunus. Tetapi orang-orang ini justru tidak percaya kepada Yesus. Padahal Dia lebih berkuasa daripada Yunus. Dia adalah Putera Allah.

Jangan pernah menunda untuk percaya kepada Yesus Putera Allah. Nanti kita akan menyesal di kemudian hari. Yesus adalah tanda keselamatan bagi dunia ini. Mari kita bertobat dan mengimani-Nya. Jangan sampai kita disalahkan dan dihakimi oleh orang-orag Ninive, “Kami percaya kepada Yunus dan kami selamat. Mengapa kamu tidak percaya kepada Yesus, yang lebih berkuasa daripada Yunus, dan kamu sekarang baru menyesal karenanya.” Marilah jangan menunda.

Pagi-pagi muncul ide senam sehat.
Akhirnya diganti bersepeda gembira.
Kalau kita mau selamat dunia akherat.
Percaya pada Yesus jaminannya.

Cawas, sekolah minggu mundur…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 11.10.20 / Minggu Biasa XXVIII / Matius 22:1-14

 

“Pengantin Sudah Siap, Pesta Dibubarkan”

SEKARANG ini orang enggan diundang ke hajatan pesta. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan di ladang. Bukan karena banyak usaha yang harus dijalankan. Tetapi karena takut menimbulkan penyebaran covid19. Pemerintah sudah menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menyelenggarakan hajatan besar-besaran, karena bisa menimbulkan cluster baru penyebaran virus.

Tetapi tetap saja ada orang yang nekat mengelabui aparat. Di Jember pada akhir Maret lalu, polisi membubarkan acara hajatan yang tidak mengindahkan protokol kesehatan. Pengantin sudah naik ke pelaminan disaksikan ratusan warga yang hadir. Ada yang tidak jaga jarak. Ada yang tidak memakai masker. Aparat meminta supaya tamu-tamu bubar dan tenda dibongkar.

Pada waktu yang bersamaan, di Pangandaran lima resepsi pernikahan dibubarkan polisi karena menimbulkan kerumunan. Tiga acara digelar di Kecamatan Pangandaran. Satu acara di Kecamatan Kalipucang dan satu lagi di Kecamatan Padaherang. Lima resepsi tersebut kemudian dibubarkan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengutarakan sebuah perumpamaan. “Hal Kerajaan surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya.”

Semua orang diundang. Pesta disiapkan. Hidangan tersedia. Lembu-lembu sudah disembelih untuk jamuan. Tetapi para undangan tidak mengindahkan dengan berbagai alasan. Ada yang ke ladang. Ada yang sibuk dengan usahanya. Para hamba memaksa para undangan untuk datang. Bukan karena takut covid, tetapi mereka tak mau peduli. Orang yang dianggap pantas ke pesta perjamuan tetapi malah tidak mau datang.

Maka raja itu mengundang siapa pun, orang-orang di pinggir jalan, orang jahat, orang baik, orang berdosa, orang benar. Semua dipersilahkan datang. Tetapi karena ini acara pesta, maka tetap harus berpakaian pesta. Ada ketentuannya.

Apakah kita punya karakter sebagai orang yang pantas diundang? Apakah kita peduli dengan undangan Tuhan? Atau dengan berbagai alasan menolaknya? Apakah kita masuk dengan pakaian pesta yang sesuai? Kalau kita tidak mau dipermalukan di dalam pesta, maka kita mengikuti ketentuan yang dibuat oleh empunya pesta, tuan rumah yang mengundang kita.

Bunga melati bunga cempaka.
Dipetik untuk hiasan meja.
Kalau kita ingin masuk surga.
Ikuti peraturan yang empunya surga.

Cawas, sekolah minggu…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr