Puncta 21.09.20 / Pesta St. Matius Rasul, Pengarang Injil / Matius 9:9-13

 

“Awas Ada Setan”

WARUNG hik yang ada di depan Gereja Pugeran itu selalu ramai didatangi orang. Teh yang disajikan sungguh nikmat. “Ginasthel”, legi (manis), panas, “kenthel” (pekat).

Suatu kali saya pernah ikut bergabung nongkrong dan minum di situ. Dari arah utara saya lihat ada rombongan anak-anak TK berbaris lewat trotoar. Mereka pakai seragam baju yang rapi, tertutup, berwarna hijau.

Sambil berbaris mereka menyanyikan lagu-lagu religius. Mendekati pintu gerbang gereja, ibu guru yang menuntun anak-anak ini memerintahkan supaya mereka menjauh dan masuk ke badan jalan.

Ia berkata, “awas anak-anak jangan melihat ke dalam, ada setan.” Anak-anak kecil itu malah penasaran menengok ke dalam halaman gereja. Di sana ada patung Yesus yang sedang memberkati ke arah jalan Suryaden.

Kami yang sedang ngobrol di warung itu terhenyak mendengar kata-kata bu guru. “Zaman kami sekolah dulu tidak pernah diajari seperti itu.” Celetuk seorang bapak.

Yesus memanggil Matius, “Ikutlah Aku.” Matius meninggalkan meja cukai dan mengikuti Yesus. Ia mengundang Yesus makan di rumahnya bersama koleganya para pemungut cukai. Orang-orang Farisi melihat hal itu. Mereka berkata, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Kaum Farisi menganggap diri paling benar. Mereka mengecap para pemungut cukai itu golongan orang berdosa yang tidak pantas didekati. Dekat dengan mereka dianggap najis dan tertular dosanya. Mereka mengambil jarak dan menjauhi orang-orang seperti Matius dan kelompoknya.

Yesus menjawab mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Yesus lalu mengutip firman dalam Kitab Suci, “Yang Kukehendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Yesus menegaskan kepada siapa Dia datang. Ia lebih mengasihi orang berdosa daripada orang yang menganggap dirinya benar. Yang diutamakan adalah belaskasihan, bukan persembahan.

Kadang kita lebih menekankan upacara keagamaan, baju-baju liturgis, penampilan saleh kelihatan suci, tetapi melupakan belaskasihan. Kemana-mana bawa Kitab suci, banyak mengutip ayat-ayat, menyebut nama Tuhan, tetapi perilakunya jauh dari cintakasih.

Ajaran Yesus itu adalah cambuk untuk kita agar lebih mengutamakan kasih daripada sibuk menghakimi orang dan menganggap diri paling benar. Jangan mudah menilai orang lain jahat kalau kita sendiri belum sempurna. Kesombongan seringkali menjatuhkan diri kita.

Lebih baik banyak minum supaya tidak dehidrasi.
Lebih baik banyak minta ampun daripada sombong diri.

Cawas, jeruk yang sungguh beruntung….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.09.20 / Minggu Biasa XXV / Matius 20:1-16

 

“Askida Egmek”

ARTI harafiah kata askida egmek adalah roti yang ditaruh di keranjang yang tergantung. Namun di balik roti yang tergantung itu ada pelajaran berharga yang pantas kita teladani.

Ada kebiasaan bagus yang terjadi berabad-abad di Turki. Orang biasa membeli roti di toko. Ia membeli 4 buah roti, tetapi ia membayar untuk 8 buah roti. Si penjual mau mengembalikan uang sisanya, “Tuan anda membayar lebih, ini uang kembaliannya.”

Sang pembeli mengatakan, “ taruh saja roti sisanya di keranjang, nanti kalau ada orang yang memerlukan.” Si penjual mengatakan, “Semoga Tuhan memberkati amalmu, tuan.” Ia menaruh 4 roti di keranjang gantung.

Ada orang miskin yang datang ke toko. Ia ingin makan roti tetapi tidak punya uang. Si penjual memberinya 4 buah roti di kantongnya. Orang miskin itu berkata, “Bapak saya cukup makan dua roti saja. Biarlah yang dua untuk orang yang lebih membutuhkan.”

Begitulah askida egmek itu terjadi terus menerus menjadi kebiasaan untuk berbelarasa dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Kasih itu tidak pandang bulu, tanpa membeda-bedakan.

Siapa pun yang datang ke toko roti selalu menyisihkan untuk menolong sesamanya. Suatu kali mereka akan mengenang kebaikan itu dan berusaha untuk membalasnya dengan kemurahan hati yang sama.

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan tentang belaskasih Allah yang tidak pandang bulu dan membeda-bedakan. Yesus memberi perumpamaan tentang seorang raja dan pekerja. Mereka sepakat dengan upah sedinar sehari. Ada pekerja yang bekerja dari pagi. Tetapi ada yang baru mulai bekerja sore hari. Mereka mendapat upah yang sama.

Maka bersungut-sungutlah mereka yang bekerja sejak pagi. Mereka menilai raja itu tidak adil. Tetapi kesepakatannya adalah sedinar sehari. Raja itu menjawab,”Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Allah itu murah hati. Allah itu adalah kasih. Ia mempunyai hati berlebih untuk manusia, khususnya yang lemah, miskin dan menderita. Kalau kita mau meniru Allah yang murah hati, kita harus memiliki hati yang berlebih. Menolong tidak harus menunggu kita kaya. Asal kita memiliki hati berlebih, kita bisa membantu sesama.

Orang kaya kalau tidak punya hati berlebih, ia tidak akan ikhlas memberi sesamanya. Orang miskin kalau punya hati berlebih, ia dengan sukacita berbagi dengan sesamanya. Mari kita bermurah hati sebagaimana Allah murah hati kepada kita.

Jalan-jalan ditutup untuk pergi ke kota.
Agar virus berkurang di masa pandemi.
Mari kita bermurah hati pada sesama.
Karena Allah lebih dulu bermurah hati.

Cawas, kopi hitam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.09.20 / Lukas 8:4-15 / Humus

 

BAPAK selalu menasehati supaya sampah-sampah dedaunan tidak dibakar, tetapi dikumpulkan dalam sebuah lubang. Tujuannya supaya membusuk dan bisa menjadi humus, yakni bunga tanah yang akan menjadi bahan makanan bagi tanaman. Kalau tanah itu banyak humusnya dia akan subur dan bisa ditanami berbagai jenis tanaman, karena di situ ada banyak makanan bagi tumbuh-tumbuhan.

Bahan-bahan organik, terutama daun-daun yang membusuk bercampur dengan tanah banyak mengandung unsur hara yang akan menyuburkan tanaman. Di kebun banyak pohon-pohon yang berguguran. Daun-daunnya dikumpulkan di “jogangan” Di tempat-tempat seperti itu biasanya tanahnya subur.

Yesus mengungkapkan suatu perumpamaan, ”Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di semak-semak berduri sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat.”

Penjelasan selanjutnya adalah, bahwa benih itu adalah sabda Allah. Yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah iblis, lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang menerima sabda, tetapi tidak berakar. Mereka hanya percaya sebentar saja dan dalam pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh di dalam semuk duri adalah orang yang menerima sabda itu, lalu mereka dihimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan dunia, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah yang banyak.

Tanah macam apakah kita ini bagi sabda Allah? Apakah kita menghasilkan buah-buah yang baik sehingga banyak orang merasakan hidup lebih baik karena ada di sekitar kita? Apakah kita menjadi tanah yang banyak humusnya?

Tanah yang baik menyuburkan tanaman.
Hidup yang baik menyuburkan persaudaraan.

Cawas, kalung emas….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.09.20 / Lukas 8:1-3 / Swarga Nunut Naraka Katut

 

“KALAU aku disuruh ikut ke neraka ya sorry lah, perempuan zaman sekarang independen, mandiri dan bisa menentukan kehidupan,” kata Anisa.

“Aku ingin punya suami yang bisa membawa kepada kebahagiaan lah, masak milih suami yang gak punya kerja, cuma main judi, mabuk-mabuk, pengangguran,” sahut Angel. “Laki-laki macam gitu mah cuman ngajak ke neraka, sorry ya.”

“Adagium atau pepatah Jawa itu merugikan perempuan. Itu bagian dari penjajahan laki-laki (suami) terhadap wanita (istri). Surga (kebahagiaan) ditentukan oleh suami dan istri, bukan monopoli sang suami. Istri juga bisa menentukan surganya sendiri. Itu pepatah kuno yang harus ditinggalkan. Suami istri punya hak yang sama untuk menentukan nasibnya,” protes si Martha.

Perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai “kanca wingking” atau orang yang di belakang. Zaman dulu perempuan dianggap tidak punya suara, tidak berhak memutuskan sesuatu. Ia harus ikut keputusan laki-laki atau suami.

Perempuan zaman sekarang independen, merdeka, mandiri. Ia punya hak yang sama dengan laki-laki. Ia berhak menentukan nasibnya sendiri.

Perempuan sekarang adalah mitra, partner, teman sekerja dan senasib dengan laki-laki atau suami. Kebahagiaan dicapai dan diusahakan bersama. Laki-laki dan perempuan saling membantu dan melengkapi.

Dalam karya-Nya, Yesus melibatkan para murid dan beberapa wanita. Selain keduabelas rasul yang adalah lai-laki, ada beberapa wanita ikut menyerta-Nya, yakni; Maria yang disebut Magdalena, Yohana istri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang lain. Mereka melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka.

Para wanita itu ikut terlibat dalam karya Yesus. Bahkan Yesus menampakkan diri setelah bangkit justru kepada para wanita. Pewarta pertama tentang kebangkitan adalah wanita.

Jadi para wanita itu adalah penentu, pewarta, bukan “kanca wingking” atau hanya “nunut atau ngatut” saja. Jangan sekali-kali menganggap rendah, remeh para wanita. Kalau mereka dilibatkan, dahsyat jadinya……

Siang-siang memanjat pohon kelapa.
Kelapa muda sungguh segar airnya.
Jika kita mau menghormati para wanita.
Beri mereka hak untuk menentukan hidupnya.

Cawas, diberi handuk bergambar anggrek…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.09.20 / Fantine, Gadis Pujaan Sang Walikota / Lukas 7:36-50

MENURUT Victor Hugo, Pengarang Les Miserables, gadis cantik ini lahir di Montreuil-sur-Mer tahun 1796. Ia berpacaran dengan seorang mahasiswa kaya, Felix Tholomyes. Namun sayang, Fantine ditinggal sendirian ketika dia hamil. Ia menitipkan anaknya, Cossete kepada keluarga Thenardier agar dapat bekerja untuk membesarkannya. Thernardier ini jahat. Ia memeras Fantine untuk selalu mengirim uang. Ia bekerja di pabrik milik Sang Walikota. Tetapi oleh mandornya, dia diketahui punya anak di luar nikah. Maka Fantine dipecat. Kesulitan hidup semakin menjeratnya. Ia menjual rambutnya yang indah dan giginya yang putih kemilau. Namun semua itu tak mampu memenuhi kebutuhannya. Akhirnya ia melacurkan diri di jalan.

Ia ditangkap polisi dan dijatuhi denda. Sang walikota, Jean Valjean tahu tentang kasusnya. Ia membebaskan Fantine dan merawatnya di rumah sakit amal. Ditumpahkannya semua nasib dan penderitaan kepada Jean Valjean. Mulai saat itu sang walikota jatuh belaskasihan kepadanya.

“Aku ingin hidup bersama putriku. Dialah satu-satunya harta milikku. Tolong jagalah dia” kata Fantine kepada Valjean ketika mereka duduk makan bersama di taman rumah sakit. “Aku akan menjemput Cossete dan membawanya kepadamu” kata Valjean. Namun hal itu tidak terjadi karena Fantine meninggal oleh sakit TBC yang parah. Valjean membawa Cossete ke Paris dan membesarkannya di sekolah asrama susteran. Cossete tumbuh menjadi gadis cantik. Ia menyebut Valjean sebagai papanya.

Yesus datang ke pesta di rumah orang Farisi. Seorang wanita yang terkenal sebagai pendosa datang membawa minyak wangi. Ia mencium dan meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Di depan Yesus, ia menangis menyesali dosa-dosanya. Yesus berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni,sedikit pula ia berbuat kasih.”

Perbuatan kasih akan membawa berkah. Semakin banyak berbuat kasih, semakin berkahnya melimpah. “Dosamu sudah diampuni” kata Yesus. Wanita berdosa itu menunjukkan kasihnya yang tulus kepada Yesus. Ia seperti orang yang berhutang banyak dan dibebaskan oleh Tuhan. Maka balasan kasihnya juga lebih besar.

Kita adalah orang yang berhutang kepada Tuhan. Semakin besar hutang kita semakin besar pula balasan kita kepada-Nya, karena semua hutang dihapuskan Tuhan.

Satu jam menikmati bakso dua.
Masih ditambah telur puyuh tiga.
Kasih Tuhan melebihi dosa kita.
Mari kita membalas belaskasih-Nya.

Cawas, satu jam saja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr