by editor | Sep 10, 2020 | Renungan
POLISI ini bertugas di Paris. Kemudian dipindahkan ke kota Vigou. Kota itu tumbuh berkembang berkat sang walikota yakni Jean Valjean. Ia dulu bekas narapidana yang dipenjara karena mencuri roti di sebuah toko. Hidupnya berubah total karena perjumpaannya dengan seorang uskup. Ia kini mengabdikan hidupnya bagi masyarakat Vigou.
Kolonel Javert ingat kembali ketika Valjean di penjara. Ia berpendapat bahwa seorang manusia tidak bisa berubah. Sekali jahat, selamanya dia akan tetap jahat. Maka dia selalu mencari kesalahan Valjean. Ia dipersalahkan karena melindungi seorang pelacur yang punya anak di luar nikah. Kesalahan sedikit saja bisa dipakai oleh Kolonel Javert untuk menjerat Valjean. Ia memaksa sebuah pengadilan digelar untuk membuktikan kejahatan Valjean di masa lalu.
Sang polisi ini mengejar kemana pun Valjean berada. Sekali orang itu jahat, dimana pun akan berbuat jahat. Kebaikan itu baginya hanya kamuflase. Sementara Valjean adalah pribadi yang penuh kasih, suka mengampuni, suka menolong sesamanya. Bagi Javert, kebaikan itu tak pernah dilihat. Ia hanya memandang keburukan Valjean di masa lalu. Di akhir cerita, kebaikan pasti menang melawan kejahatan. Kasih dan pengampunan Valjean menang melawan dendam dan kebencian Kolonel Javert. Begitulah alur kisah dalam Film Les Miserables karya Viktor Hugo.
Yesus menyampaikan perumpamaan kepada murid-Nya, Mengapa engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui? Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu, ‘Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu’, padahal balok dalam matamu tidak kaulihat?”
Kejelekan atau kesalahan orang lain itu mudah kita lihat. Tetapi kekurangan sendiri sering tidak mampu kita ketahui. Pepatah mengatakan, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.” Menyalahkan orang lain itu mudah, tetapi mengakui kesalahan diri sendiri itu sulit.
Marilah kita koreksi diri lebih dahulu, sebelum kita mengoreksi atau mengkritik orang lain. Mulai perbaiki diri sendiri, sebelum kita memperbaiki orang lain.
Pergi ke Pasar Klewer membeli kain.
Ketemu mbak-mbak penjual baju yang cantik.
Sebelum “mencacat” keburukan orang lain.
Introspeksi diri sendiri itu akan lebih baik.
Cawas, selalu ada jalan…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 9, 2020 | Renungan
MANTAN Presiden Amerika ke 16, Abraham Lincoln adalah salah satu presiden terbesar sepanjang sejarah Amerika. Ia memperjuangkan persatuan Amerika dari perpecahan, perang saudara yang paling brutal, menghapus perbudakan yang merajalela, menjamin kebebasan warga.
Ketika Amerika dilanda perang saudara Abraham berpidato dalam sebuah resepsi, “Mereka-mereka (lawan-lawan dari selatan) adalah orang yang sedang membuat kesalahan. Mereka bukanlah musuh yang harus dibasmi”.
Kalimat itu, membuat beberapa orang tidak senang. Bahkan, saat itu ada seorang ibu yang dengan keras menegurnya. “Anda harusnya malu. Mereka telah bermusuhan dengan kita. Seharusnya Anda berpikir bagaimana menghancurkan para musuh itu!”.
Lantas, dengan tenang Abraham Lincoln berkata, “Nyonya. Bukankan kita sudah menghancurkan musuh kita dengan menjadikannya sebagai sahabat kita?”
Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya, Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kamu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”
Pikiran kita selalu dihantui dengan orang-orang yang membenci kita. Kita merasa senang kalau mereka yang membenci kita mengalami kesengsaraan. Kita ingin melihat orang-orang itu menderita. Dengan demikian, pikiran kita selalu dihinggapi perasaan negatif. Energi dan potensi kita terkuras hanya memikirkan hal-hal negatif bagi orang-orang yang membenci kita.
Daripada waktu-waktu hidup kita habis hanya memerangi musuh, lebih baik bekerjasama dan membangun persahabatan. Kendati itu sulit. Tetapi akan lebih sulit jika hidup selalu dibayangi ketakutan dan kebencian.
Yesus memberi jalan dengan kata-katanya, “Sebagaimana kamu kehendaki orang berbuat kepada kamu, demikian pula hendaknya kamu berbuat kepada mereka.”
Kualitas hidup kita terbukti jika kita berani melakukan sesuatu yang berbeda dengan arus atau pandangan umum. “Kalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.”
Makan pisang ditemani secangkir kopi.
kopi hitam kiriman dari Jakarta.
Marilah kita berusaha untuk mengasihi.
Mengubah musuh menjadi saudara.
Cawas, celupke neng kopi….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 8, 2020 | Renungan
BELAJAR dari kisah film Slumdog Mllionaire adalah memahami bahwa hidup itu berputar seperti roda, “cakra manggilingan.” Jamal Malik tumbuh di lingkungan kumuh di Mumbai, India.
Ia lolos dalam kontestasi acara “Who Want To Be Millionaire” versi India. Dari anak yatim piatu, miskin, tinggal di perkampungan kumuh sebagai anak kriminal jalanan, Ia memenangkan kuis dengan hadiah 20 juta rupee. Ia berubah menjadi milyuner muda terhormat.
Aty Kodong adalah penyanyi dangdut jeblosan ajang pencarian bakat, Dangdut Academy. Ia berasal dari keluarga miskin dan tinggal di gubuk reyot bersama orangtuanya.
Nasibnya berubah drastis ketika ia berhasil menjadi runner up dangdut academy. Kini ia tinggal di rumah sangat mewah di Jakarta dengan fasilitas “toilet ratu.”
Adolf Merckle orang terkaya di dunia urutan ke 94 menurut Majalah Forbes dan urutan ke 5 di Jerman mengalami depresi karena bangkrut.
Tragisnya, ia mati bunuh diri dengan memasang dirinya di rel kereta api. Ada banyak kisah kaum tajir yang jatuh miskin dan depresi. Akhir hidupnya sangat mengenaskan dan menyedihkan.
Kita diingatkan bahwa hidup itu seperti roda. Kadang di atas, kadang ada di bawah. Yesus menghibur mereka yang miskin, kelaparan, dikucilkan, dibenci, dicela dan ditolak.
Berbahagialah kalian yang miskin, berbahagialah kalian yang kini menangis, kelaparan, yang dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak. Jangan putus asa dan sedih ketika sedang berada di bawah. Don’t give up…..
Tetapi hati-hatilah mereka yang kaya, yang kini kenyang, yang kini tertawa, yang dimabuk oleh puji-pujian, karena akan tiba saatnya kalian akan mengalami duka cita dan menangis. Jangan takabur dan sombong….
Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua untuk selalu waspada, berhati-hati, jangan sampai lupa daratan. Ketika kita sedang di atas angin, kita mudah terlena. Semakin kita berada di ketinggian, angin badai akan mudah menerjang. Jatuh dari ketinggian akan lebih menyakitkan.
Saat kita berada di bawah, sedang jatuh, gagal, menderita, dibenci, dicaci, tidak dipercaya, pasti kita bersedih dan menangis. Jangan putus asa dan menyerah. Selalu ada jalan dari setiap permasalahan. Terus berusaha dan tetap punya pengharapan. Orang bikin gembok pasti ada kuncinya.
Beli baju batik halus bermotifkan perada.
Dirawat hati-hati jangan direndam di mesin cuci.
Hendaklah kita selalu sadar dan waspada.
Nasib manusia tidak ada yang serba pasti.
Cawas, bulan purnama dalam gelap…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 7, 2020 | Renungan
Sukipan Fans Club
DI ATAS panggung duo sinden asal Klaten ini bikin heboh. Namanya Kusumaning Ayu Mimin Saputri Ratu Onggo Inggi Pringganingtyas Arigustanti Agni Pratista Arkadewi Kuswardono. Panggilannya Mimin alias Sukimin.
Pasangannya, Princes Aprilia Sucipto Suzuki. Princes artinya bidadari. Apriliia berarti perempuan yang cantik sekali lahirnya bulan april. Sucipto, bukan anaknya Pak Cipto, tapi mengandung arti “susune lancip merga ganjelan bata”, Suzuki artinya “jarene susu jebul kaos kaki.” Panggilan kerennya Apri alias Panut.
Mereka adalah sinden heboh dengan penampilan super cantik dan suaranya tinggi seperti wanita. Padahal mereka adalah laki-laki tulen. Banyak orang terpana, terkesiap oleh kecantikan dan suara mereka. Mereka menyulap diri mereka dengan dandanan wanita sempurna. Padahal mereka adalah lelaki asli yang juga disunat.
Dulu mereka dipandang sebelah mata sebagai banci atau waria. Tetapi simaklah isi kata-katanya Mimin, “mentes, penuh optimisme, kebaikan dan religius. Suara Apri sangat berkualitas dan profesional.
Saking tergila-gila oleh popularitas mereka, ada sekelompok orang membuat grup “Sukipan Fans Club” yang diambil dari nama asli mereka, Sukimin dan Panut.
Mimin selalu memberi nasehat, “Jangan terkecoh oleh penampilan luar. Banyak lelaki tertipu oleh dandanan luar. Jangan menilai orang hanya dengan melihat tata lahiriahnya saja.
Jangan memandang perempuan hanya dari “chasingnya.” Yang lebih utama dan penting adalah batinnya yang baik, mutu hidup, kualitas pribadi, itu yang menentukan nilai seseorang.”
Dalam silsilah Yesus yang dikutip oleh Matius, sebagian besar nama adalah kaum laki-laki. Ada empat nama perempuan; Tamar, Rut, Istri Uria (Bersyeba) dan Maria. Nama-nama itu kalau dilihat secara lahiriah manusiawi punya “cacat.” Mereka dipandang sebelah mata.
Tamar melacurkan diri dengan Yehuda, mertuanya sendiri. Rut adalah orang dari luar Israel, bukan bangsa terpilih. Bersyeba diambil Daud dengan intrik yang licik, jahat dan kejam. Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum bersuamikan Yusuf.
Jangan memandang rendah atau meremehkan wanita-wanita di atas. Mereka dipakai Allah menyelamatkan bangsa manusia.
Allah itu menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Ia mau menyelamatkan manusia dengan berbagai cara. Bahkan yang dilihat tidak baik menurut kaca mata manusia, bisa dipakai Allah sebagai jalan kepada keselamatan.
Kaca mata Allah berbeda dengan kacamata manusia. Keselamatan Allah bersifat universal. Allah ingin menyelamatkan manusia melalui Yesus dengan cara apa pun dan untuk siapa pun.
Jalan berdua di tengah taman kota.
Menikmati temaran dan indahnya panorama.
Jangan menilai orang hanya dari segi luarnya.
Lihatlah kualitas dan mutu pribadinya.
Cawas, punya jurus B3…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 6, 2020 | Renungan
DILEMA dapat dimaknai sebagai situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan; situasi yang sulit dan membingungkan.
Dilema dapat terjadi dalam semua aspek kehidupan manusia, misalnya asmara, keluarga, persahabatan, minat, pekerjaan, jodoh dan lain-lainnya yang semuanya menyebabkan seseorang sulit mengambil keputusan.
Kumbokarno menghadapi dilema atau pilihan yang sulit. Sebagai adik, dia harus membela kakaknya, Rahwana. Tapi Rahwana jahat menculik Sinta, istri Rama. Ia membenarkan tindakan Rama kendati ia berada di pihak musuh. Karena dilema yang sulit itu, ia tidak mau ikut campur urusan dan melakukan tapa tidur.
Sedangkan Wibisana, adiknya yang bungsu, dengan tegas menyalahkan Rahwana dan keluar dari Alengka untuk membela Rama. Gunawan yakin Rama berada di pihak yang benar. Rahwana berada di pihak yang salah karena merebut istri orang lain.
Yesus juga dihadapkan pada situasi yang dilematis. Orang-orang Farisi tahu kondisi itu. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Yesus melakukan pilihan yang keliru sehingga mereka dapat menyalahkan-Nya. Di rumah ibadat itu ada orang yang mati tangan kanannya. Tetapi hari itu adalah hari Sabat. Menurut aturan Yahudi, orang tidak boleh melakukan pekerjaan pada hari Sabat.
Yesus dihadapkan pada masalah. Menyembuhkan orang tetapi melanggar aturan Sabat atau mengikuti aturan tetapi membiarkan orang itu tetap sakit. Pikiran orang Farisi sudah jahat; ingin menjatuhkan Yesus dan mempersalahkan-Nya.
Yesus mengajak audiens untuk berpikir, menimbang-nimbang, membuat discerment. Dia bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?”
Kita hanya tahu reaksi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka sangat marah. Mereka memilih taat aturan dan membiarkan orang itu tidak selamat.
Sedangkan Yesus memilih menyelamatkan orang kendati harus melanggar hukum Sabat. Bagi Yesus keselamatan manusia lebih penting daripada hukum buatan manusia.
Manakah prinsip-prinsip yang kita pilih jika kita menghadapi suatu dilema? Beranikah kita mengambil prinsip kebenaran kendati arus umum menentangnya? Ataukah kita suka cari aman, mengikuti arus umum kendati melawan kebenaran? Pilihan anda menunjukkan kualitas pribadi anda.
Ada kisah manis di buah markisa
Baunya harum semerbak akasia
Jika kita menghadapi suatu dilema
Kepekaan suara hati akan menuntun kita
Cawas, tas pinggang kecil isinya besar…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr