Puncta 06.09.20 / Minggu Biasa XXIII / Matius 18:15-20

 

“Pastor Diturunkan oleh Koster”

SUATU hari para ibu sedang asyik bersih-bersih di gereja. Ada yang menyapu dan mengepel lantai. Ada yang bersih-bersih bangku, kaca jendela dan alat-alat misa. Mereka asyik mengerjakan tugas.

Tiba-tiba koster di gereja itu naik ke mimbar. Ia pegang mike dan berteriak dengan suara lantang, “Pengumuman-pengumuman, ibu-ibu dan bapak-bapak. Mulai hari ini Romo X (dia menyebut nama salah satu romo yang bertugas di paroki itu), saya turunkan menjadi frater. Dia tidak pantas menjadi romo lagi. Sekian pengumuman, terimakasih.”

Sontak semua ibu berhenti melakukan aktivitasnya, terbelalak dan melongo. Mereka terkejut dengan polah koster, anak yang polos, pendiam dan lugu itu, tiba-tiba berani tampil di mimbar dan membuat pengumuman penuh tanda tanya. “Ada apa bro?”

Tanya seorang ibu. “Kamu kok berani-beraninya menurunkan seorang romo? Kalau ada apa-apa kamu berbicara dulu bapak-bapak pengurus dewan, baru ke bapak uskup, jangan langsung diumumkan sendiri seperti ini.”

Rupanya dia sudah tidak tahan melihat perilaku seorang pastor yang tidak sesuai dengan janji tahbisannya. Ia tinggal di pastoran dan tahu segala hal yang dilakukan pastor itu. Tahun 2008 pastor itu akhirnya mundur. Pasti bukan karena pengumuman koster itu, melainkan karena keputusan bapak uskup yang bijaksana.

Dalam Injil, Yesus mengajarkan bagaimana kita menasehati sesama saudara. Pertama, dibicarakan “empat mata”. Kedua memanggil satu dua orang saksi, bukan untuk memojokkan tetapi untuk meyakinkan bahwa orang itu salah. Baru kalau dia tidak mau mendengarkan, hal-nya bisa dibawa kepada jemaat. Dibicarakan bersama demi kebaikan semua orang.

Mungkin koster itu takut menegur pastornya. Seorang pastor kalau sudah berdiri di mimbar berkuasa penuh. Tidak ada yang berani menginterupsi.

Sayangnya, kadang mimbar dijadikan tempat untuk mengadili orang. Ada pastor yang marah-marah menggunakan mimbar. Maka si koster ikut-ikutan pastornya. Ia langsung menurunkan pastornya dari mimbar.

Yesus mengajarkan kita menegur atau menasehati orang berdasarkan kasih persaudaraan. Tidak untuk mempermalukan atau menjatuhkan, tetapi demi perkembangan pribadi yang bersangkutan. Kalau tidak mau dinasehati ya biar umat menilai sendiri. “Becik ketitik, ala ketara.”

Pagi-pagi makan dua telur mata sapi.
Biar sehat dan kuat jasmani dan rohani.
Nasehati sesamamu dengan rendah hati.
Dengan harapan ada pertobatan dan perubahan diri.

Cawas, tidak boleh libur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 05.09.20 / Lukas 6:1-5

 

“Noli Me Tangere”
(Jangan Menyentuh Aku)

NOVEL Jose Rizal ini sangat inspiratif bagi para pejuang keadilan. Karakter antagonis dimainkan oleh Pastor Damaso Verdolagas. Ia bermusuhan dengan Don Rafael, ayah Don Chrisostomo Ibarra. Damaso seperti orang Farisi yang membebani orang dengan aturan-aturan agama yang berat. Ia berkuasa mengkafirkan orang. Ia bertindak di atas segala hukum. Ia mempersulit orang dengan aturan-aturan yang dibuatnya sendiri. Ia menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya.

Pastor Damaso mempersulit Ibarra mendirikan sekolah. Ia menuduh Ibarra memberontak melawan pemerintah dan gereja. Pastor Damaso bertindak dengan angkuh, kejam dan menindas. Ia tidak berusaha melayani umat tetapi lebih menindas dan menguasai. Ia beripikir bahwa umat itu bodoh, dungu dan miskin. Dengan kuasa “kunci surga”, ia bisa menentukan orang masuk neraka, menjadi kafir dan dipersalahkan.

Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang mempersalahkan murid-murid Yesus. mereka memetik gandum dan memakannya pada hari sabat. Orang Farisi gusar karena murid-murid tidak menghormati hukum Sabat. Aturan harus dijalankan sampai sedetail-detailnya. Mereka merasa bersalah kalau melanggar adat istiadat nenek moyang. Mereka menuntut orang lain bertindak mengikuti cara hidup mereka. Kalau tidak, mereka dianggap kafir dan masuk neraka.

Seperti Pastor Damaso, kita sering merasa paling pinter dan sok kuasa. Umat dianggap tidak tahu apa-apa. Umat harus “manut’ atau nurut pada romonya. “Kalau mau ya begini, kalau gak mau ya terserah, sana cari romo sendiri saja.” Sering menghindari tugas dengan mengatakan, “maaf saya sibuk banyak acara, tolong hubungi romo vikaris.”

Ketemu dengan romo vikaris dijawab, “masalah ini wewenangnya pastor kepala, minta ijin dulu ke romo kepala. Kalau diijinkan baru saya urusnya.” Birokrasinya lebih rumit dan sulit dibanding kantor pemerintahan, apalagi kalau didasari rasa like and dislike. Padahal umat melihat romonya asyik dengan hobbynya, nonton film, makan-makan di resto yang mewah dengan ibu-ibu.

Kalau para pastor berpedoman pada sabda Yesus, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat,” tentu tidak akan mempersulit diri dengan berbagai aturan yang membelenggu. Aturan itu bukan untuk berkuasa atau mempersulit, tetapi memudahkan orang menemukan solusi. Yesus mencarikan jalan bagi orang-orang Farisi itu, “Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar?” Daud melanggar aturan demi para prajuritnya hidup. Jadi, Jangan merasa “sok suci.”

Kalau ada umat datang, jangan langsung ditembak dengan kalimat, “kamu datang hanya bawa masalah kan?” Tetapi seperti operator telepon itu, “Selamat pagi, apa yang bisa saya bantu?” Dengan berlaku demikian, setengah masalah sudah bisa diatasi.

Membeli topi untuk menutup kepala.
Topi olahraga gambarnya pemain bola Pele.
Tanpa jubah kalian hanya manusia biasa.
Jangan berlagak “kaya kere munggal bale”

Cawas, yakult…saya minum dua.
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.09.20 / Lukas 5:33-39 / Beda Generasi

 

KALAU romo tua dicampur dengan romo muda di satu komunitas, isinya keluhan tidak cocok atau litani “tembok ratapan.” Romo tua mengeluhkan romo-romo muda. Begitu pula nanti sebaliknya.

Romo muda menilai yang senior itu kolot, ketinggalan zaman, “mandeg” atau stagnan, seneng kemapanan, kurang kreatif-inovatif. Romo tua menilai yang muda ini “pating pethakil” gak punya tatakrama, sopan santun.

Mereka ini penggemar teknologi, materialistis, gadjetnya gonta-ganti, mementingkan diri sendiri, seneng mejeng cari popularitas, malas dan arogan.

Di sisi lain, generasi tua punya kelebihan, dinilai sebagai generasi yang sopan, pekerja keras, berdedikasi tinggi, sangat peduli pada lingkungannya, sangat menghargai dan beretika.

Romo tua sering mengulangi frase “zaman saya dulu…” atau menilai romo-romo yunior dengan kalimat, “romo muda sekarang ini kurang….” Kalau zaman kami dulu gak ada romo muda seperti sekarang ini.”

Zaman kami dulu kalau bertemu Bapak Uskup harus memberi hormat, memberi salam dan mencium cincin beliau dengan takzim. Zaman sekarang ketemu Bapak Uskup malah melambaikan tangan dari jauh sambil teriak, “Halo Boss…”

Lingkaran penilaian seperti itu akan terus berputar tiada henti. Kalau romo-romo muda nanti menjadi senior juga akan menilai juniornya seperti itu. Tidak akan bisa ketemu. Baju tua tidak cocok ditambalkan ke baju baru. Begitu pula anggur baru tidak cocok dimasukkan ke kantong kulit yang sudah tua.

Segala sesuatu ada waktunya. Nasehat orangtua, “Kamu nanti juga akan mengalami menjadi tua seperti aku ini.” Orang harus mengalami lebih dahulu, baru nanti akan dapat menilainya. Ketika kita masih muda menilai orangtua kita lamban, malas. Nanti ketika kita menjadi tua, generasi berikutnya akan menilai kita juga lamban dan malas.

Maka tidak mungkin orang minum anggur tua atau lama ingin merasakan anggur yang baru. Anggur tua lebih enak daripada anggur baru. Tuak yang disimpan lama rasanya lebih nikmat daripada tuak yang baru jadi. Semua akan ada waktunya sendiri-sendiri. Setiap zaman atau generasi punya nilainya sendiri-sendiri.

Jika pastur tua digabungkan dengan pastur muda maksudnya biar saling belajar memahami satu sama lain. Yang muda belajar dari yang senior. Yang tua belajar mendengarkan dengan rendah hati kepada yang yunior. Tidak usah “mbondhan tanpa ratu atau mbeguguk ngutha waton” artinya hidup itu jangan semaunya sendiri.

Tak kan lupa pada telur gosong.
Baunya menyengat sampai sudut hati.
Kita tidak boleh merasa sombong.
Selalu ada plus minus di setiap generasi.

Cawas, telor mata sapi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.09.20 / PW. St. Gregorius Agung, Uskup & Pujangga Gereja / Lukas 5:1-11

 

“Semar dan Togog”

SEMAR Bodronoyo sesungguhnya adalah dewa. Ia bernama Batara Ismaya. Togog Tejamantri adalah kakak Semar. Ia juga dewa yang bernama Batara Tejamaya. Semar dan Togog turun ke bumi dan menjadi abdi bagi para ksatria.

Semar mendampingi ksatria yang berwatak baik. Sedang Togog mengabdi ksatria yang berwatak buruk. Walaupun mereka itu orang kecil, tetapi sering memberi nasehat, kritik, saran, masukan yang baik kepada tuannya.

Semar danTogog adalah gambaran orang kecil, miskin, sederhana tetapi bijaksana. Mereka adalah wujud rakyat jelata. Jika para ksatria mengikuti nasehat rakyat kecil, hidup mereka akan berhasil, bahagia, selamat. Tetapi jika tidak mau mendengarkan, mereka menuju kehancuran dan kegagalan.

Suara Semar sering didengarkan oleh tuannya. Mereka berhasil mencapai cita-citanya. Sebaliknya nasehat Togog sering tidak digubris oleh tuannya yang sombong dan sok pinter.

Mereka kalah, tidak berhasil dan gagal hidupnya. Mereka yang tidak mau mendengar nasehat orang kecil itu merasa paling pinter, lebih kuasa, sok hebat, sombong, tidak terbuka.

Dalam Injil Yesus naik ke perahu Simon. Ia memerintahkan Simon untuk mencari ikan. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Kalau dipikir-pikir, Simon dan teman-temannya adalah nelayan. Mata pencaharian mereka setiap hari adalah menangkap ikan. Mereka pasti sangat ahli dan mengenal medan.

Sebaliknya Yesus adalah seorang guru, pengajar yang tidak tahu menahu tentang kehidupan nelayan. Anak tukang kayu. Bahkan mungkin membuat jala saja Yesus tidak bisa.

Tetapi Ia menyuruh Simon bertolak ke tempat dalam dan menebarkan jala. Simon yang ahli mencari ikan itu mengungkapkan pengalamannya, “Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.”

Dia yang berpengalaman saja tidak berhasil. Tetapi dia terbuka terhadap perintah orang baru. “Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga.”

Ketika mereka terbuka terhadap hal baru, nilai baru, mau mendengarkan orang lain, hasilnya sangat luar biasa. Mereka menangkap banyak ikan, jala mereka hampir koyak.

Ketika orang berani ambil resiko ke tempat yang dalam, hasilnya sungguh mengagumkan. Mari kita terbuka pada saran orang lain dan berani masuk ke tempat yang lebih dalam.

Merinding oleh hembusang angin.
Seluruh tubuh rasanya gemetar.
Dengarkanlah nasehat orang lain.
Jangan sombong merasa paling benar.

Cawas, gemericik air kolam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.09.20 / Lukas 4:38-44 / Untuk Itulah Aku Diutus

 

PERPISAHAN itu selalu mengharukan, setidaknya bagi saya. Apalagi jika punya kedekatan emosional dan pengalaman jatuh bangun bersama. Ibaratnya “lara lapa dilakoni bareng”, suka duka dialami bersama. Sebelum kembali ke Jawa, saya diundang misa di Nanga Tayap. Pak Herman, ketua umat bilang, “Kalau boleh Romo itu tidak usah balik ke Jawa, tinggal di sini saja?” Berat rasanya meninggalkan Tayap. Banyak pengalaman jatuh bangun yang menguatkan.

Lebih dari tujuh tahun menjadi bagian hidup mereka dalam suka duka. Pagi-pagi saya singgah ke rumah Pak Herman, menyerahkan kunci motor KLX. Motor itu hadiah teman-teman angkatan alumni Mertoyudan. Dia menemani saya kemana pun juga turne ke stasi-stasi. Saya tinggalkan motor itu untuk Tayap dan aku naik Honda GL kuning yang harus dikembalikan ke keuskupan. Waktu saya pamitan, Pak Herman memeluk saya di warungnya dan berkata, ”Jangan lupa dengan keluarga kami ya romo. Romo sudah jadi keluarga kami di sini.” Kaki ini seperti diikat batu yang besar, berat sekali mau melangkah.

Mata kami berkaca-kaca tak kuasa menahan gejolak. Ada rasa yang hilang. “Kenapa romo harus pindah?” Mama Felix gak berani mendekat, hanya berkata lirih, “Jangan lupa ya romo, sekali-kali tengoklah kami disini” Saya menjawab pelan, “Saya hanya taat melaksanakan perintah. Disuruh ke sana ya berangkat, pindah ke sini ya pindah, mung sendika dhawuh.” (Aku hanya ikuti perintah saja). Motor kutarik dengan laju, tak kuasa lama-lama, air mata ini mau membanjir dengan deras. Di tengah jalan suara tangis itu tenggelam oleh raungan sepeda motor.

Yesus berkarya dan mengajar di Kapernaum. Banyak mukjijat dilakukan di sana. Ia menyembuhkan ibu mertua Petrus dan banyak orang sakit lainnya. Orang-orang ingin supaya Yesus tidak meninggalkan Kapernaum. Mereka sangat sayang pada Yesus. Mereka ingin menahan Yesus untuk tetap tinggal di kota mereka.

“Ketika menemukan-Nya, mereka berusaha menahan Dia, supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus.”

Yesus diutus Bapa untuk mewartakan Kabar Gembira, bukan hanya untuk orang Kapernaum, Bangsa Israel, tetapi untuk semua orang, semua bangsa. Maka Ia pergi dari desa ke desa, kota ke kota. Ia tidak hanya menetap di suatu tempat.

Sebagai imam, saya hanya taat kepada pimpinan, yakni Uskup. Sabda Yesus itu meneguhkan hati, ”Untuk itulah Aku diutus.” Sedih memang harus berpisah meninggalkan tempat tugas, tetapi perutusan harus diutamakan. Kehendak Bapa ada diatas segalanya. Demikian Yesus mengajari kita semua.

Bunga mawar di atas batu permata.
Di beli di plaza Catalunia.
Mari setia pada perutusan kita.
Menjalani hidup dengan gembira.

Cawas, satu jam 2 putaran…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr