by editor | Sep 15, 2020 | Renungan
Abunawas dan Keledai
SUATU kali Abunawas dan anaknya pergi ke pasar mau menjual keledainya. Mereka berjalan bersama menggiring keledai. Ada orang berkomentar, “Mengapa keledai itu tidak ditunggangi?”
Abunawas menyuruh anaknya naik ke punggung keledai. Ibu-ibu menegur si anak, “Anak tidak sopan, orangtua disuruh berjalan, dia sendiri enak-enak naik keledai.” Si anak kemudian turun dan menyuruh bapaknya naik keledai.
Masih juga ada yang berkomentar, “Bapak tidak kasihan sama anak. Dia duduk enak,sedangkan anaknya harus berjalan menuntun keledai.” Abunawas bingung. Ia minta anaknya ikut naik ke punggung keledai.
Keledai itu berjalan tertatih-tatih. Para “blantik” (penjual hewan) geleng-geleng kepala. “Bagaimana keledai akan laku dijual kalau tidak sehat karena kelelahan?” Akhirnya Abunawas dan anaknya memikul keledainya menuju ke pasar hewan.
Yesus juga kebingungan menghadapi orang-orang sezaman-Nya. “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.”
Kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai nabi, yang tidak makan, tidak minum anggur dianggap kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum. Orang-orang menyebut-Nya sebagai pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.
Yesus menyebut mereka itu seperti anak-anak yang duduk di pasar. Anak-anak itu pikirannya masih plin-plan. Mudah diombang-ambingkan oleh pendapat orang lain. Anak-anak belum bisa menentukan keyakinannya sendiri. Anak-anak lebih tertarik pada apa yang sedang tenar, bukan apa yang benar. Kalau senang diikuti, tetapi kalau tidak senang ditinggalkan. Hanya ikut maunya sendiri.
Yohanes Pembaptis datang membawa kebenaran. Cara hidupnya penuh askese dan matiraga. Ia ditolak. Yesus datang membawa keselamatan. Tetapi mereka tidak mempercayai-Nya.
Mereka lebih senang dengan nabi-nabi palsu yang menina-bobokan kepercayaan mereka. Nabi-nabi yang sukanya memecah belah dan memfitnah. Nabi seperti Yohanes Pembaptis atau Yesus tidak laku bagi mereka.
Sungguh nikmat makan buah rambutan.
Dapat buah ace malah disimpan-simpan.
Tidak mudah jadi pewarta kebenaran.
Akan ditolak dan ditentang habis-habisan.
Cawas, makan buah ace….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 14, 2020 | Renungan
“Ibu”
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ‘ku membalas. Ibu….
Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa ‘ku membalas. Ibu…..
LIRIK lagu Iwan Fals ini mau menggambarkan kasih seorang ibu yang penuh derita dan pengorbanan. Ibarat pepatah, “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah,” kasih seorang ibu tak akan terbalas oleh apa pun. Kasihnya seperti udara yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya.
“Jangan pernah meremehkan kasih dan pengorbanan wanita atau seorang ibu” kata Mimin dengan wajah serius. “Kasih dan pengorbanan seorang ibu itu mulai dari terbitnya matahari sampai terpejamnya mata suami. Coba bayangkan, pagi-pagi buta sudah masak, memandikan anak, siapkan baju, mengantar sekolah, bekerja seharian di rumah, malam-malam sudah capek, suami minta jatah. Ya, harus mau, tidak boleh wegah, wong itu sudah tugasnya istri solehah…..” katanya disambut gelak tawa penonton.
“Begitu saja masih ada suami yang suka jajan. Goleki awake dewe ya Lik…” kata Apri menimpali. Penonton yang kebanyakan laki-laki bersorak gemuruh seolah mengiyakan kata-kata mereka.
Dalam Injil yang kita dengarkan untuk menghormati Maria yang berdukacita, kita melihat sosok Maria yang ikut menderita bersama Puteranya di kayu salib.
Maria kehilangan segala-galanya. Anak tunggal satu-satunya mati di pangkuannya. Seperti yang diramalkan oleh Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” menjadi nyata ketika Maria mengikuti penderitaan Yesus sampai di Golgota.
Seorang ibu pasti tidak menginginkan buah hatinya menderita. Bahkan tergores luka sedikit pun jangan. Seorang ibu hanya ingin melihat kebahagiaan anaknya. Suara tangisnya tak terdengar, tetapi hatinya pilu melihat penderitaan anaknya.
Tetapi Maria menjadi teladan teguhnya iman dan kokohnya pendirian. Sekali mengatakan iya, ia tidak mundur selangkah pun. “Aku ini hamba Tuhan.” Jawaban itu menjadi awal dimulainya pengorbanan dan dukacita Maria. Ia menjadi teladan iman bagi semua ibu.
Ketika kita sedang berduka oleh beratnya hidup, kita punya seorang ibu, yakni Maria. Ia tidak akan tega kita, anak-anaknya menderita. Datang dan berdoalah kepada Bunda Maria. Pasti kita ditolongnya.
Sekolah mundur karena corona.
Pelajaran daring bikin pusing orangtua.
Maria Bunda yang berdukacita.
Tolonglah kami yang masih berjuang di dunia.
Cawas, pelajaran tertunda….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 13, 2020 | Renungan
“Borobudur dan Pengosongan Diri”
MENIKMATI Borobudur bukan hanya melihat batu, patung, ukiran, candi atau stupa. Mengagumi Borobudur berarti melihat nilai kehidupan, ajaran, prinsip-prinsip, wejangan atau nasehat bagi hidup manusia.
Melihat Borobudur seperti membaca sebuah kitab tentang tahap-tahap hidup manusia sampai mengalami “manunggaling kawula Gusti.” Tahap pencerahan karena manusia bersatu dengan yang ilahi.
Ada tiga tataran kehidupan yang terpahat di dinding candi Borobudur. Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Kamadhatu berada di tataran paling bawah meliputi hawa nafsu manusia.
Rupadhatu adalah akal budi manusia yang mencari kebahagiaan. Arupadhatu berada di tataran paling tinggi, yang digambarkan dengan stupa yang di dalamnya hampa, kosong, tak berwujud.
Manusia yang sudah menemukan pencerahan hidup, ia mengosongkan dirinya. “Manunggaling kawula Gusti” tercapai jika manusia berhasil menanggalkan segala amarah, ambisi, hawa nafsu dan akal pikirannya. Mirip dengan pandangan Freud tentang ego, superego dan Id.
Makna Borobudur tidak hanya tentang karya adiluhung, ukiran batunya yang indah, candinya yang megah, bagian dari keajaiban dunia. Tetapi nilainya terletak di dalam ajaran, filosofi, prinsip-prinsip, pedoman hidup menuju kesempurnaan.
Melihat atau membicarakan Borobudur semestinya orang mampu bercermin tentang peziarahan hidup menuju kesempurnaan. Orang diajak sampai ke taraf Arupadhatu dengan mengosongkan dirinya agar bisa menemukan keselamatan.
Pembicaraan Yesus dengan Nikodemus adalah pembicaraan tingkat tinggi dan mendalam. Yesus mengajak Nikodemus untuk menemukan keselamatan dan kesempurnaan hidup.
Kesempurnaan hidup itu diperoleh dengan percaya kepada Anak Manusia yang ditinggikan. Seperti Musa meninggikan ular, begitu pula Yesus ditinggikan di kayu salib.
Salib adalah tempat pengosongan, pengorbanan. Berkorban itu meninggalkan taraf Rupadhatu (Wujud) menuju Arupadhatu (tak berwujud).
Manusia ingin naik ke atas. Allah mengosongkan Diri dengan turun ke bawah menjadi manusia. Supaya manusia bisa naik ke atas, maka Allah turun menjadi manusia.
Di dalam salib, manusia Yesus dinaikkan (ditinggikan) dan Putera Allah diturunkan. Di dalam salib bertemulah “manunggaling kawula Gusti.”
Keselamatan ada didalam salib Yesus. Salib tanda pengosongan diri. Allah mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia. Salib adalah keselamatan kita.
Bersepedaria menuju waduk Wonogiri.
Panas menyengat diterpa matahari.
Marilah kita mengosongkan diri.
Agar mampu menuju kepada Yang Ilahi.
Cawas, mancing ide…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 12, 2020 | Renungan
“Berapa Kali Mengampuni?”
MONSIEGNEUR Bienvenu Myriel berkata kepada Jean Valjean, “Jangan lupa, jangan pernah lupa. Kau semalam bilang akan menjadi manusia baru. Valjean menjawab, “Aku berjanji. Tapi kenapa bapa lakukan ini padaku?”
Uskup berkata, “Jean Valjean, saudaraku. Kau bukan lagi milik kejahatan. Dengan perabotan perak ini aku telah membeli jiwamu. Aku telah menebusmu dari ketakutan dan kebencian. Kini aku mengembalikanmu kepada Tuhan.”
Jean Valjean adalah narapidana yang dibebaskan setelah 9 tahun menjalani kerja paksa. Ia dihukum karena mencuri sebongkah roti. Dalam perjalanan ke Dijon, ia diterima bermalam di rumah uskup. Ia dijamu dengan makan malam yang lezat. Ia terbangun oleh mimpi buruk penyiksaan demi penyiksaan selama di penjara.
Malam itu ia mencuri sendok garpu perak yang mahal milik uskup. Paginya ia ditangkap polisi lagi dan dibawa kembali ke rumah uskup itu. Tetapi para polisi terkejut karena bapak uskup menyatakan perak itu sebagai buah tangannya. Dan masih ada kandelar seharga 2000 franc yang belum sempat dibawanya.
Ia diampuni sekaligus diberi hadiah perabotan perak yang mahal. “Dengan perabotan perak ini aku telah membeli jiwamu. Aku menebusmu dari ketakutan dan kebencian. Kini aku mengembalikanmu kepada Tuhan.”
Kata-kata ini mengubah seluruh hidup Jean Valjean. Kendati hidupnya dikejar-kejar oleh dendam dan kebencian, namun ia selalu mengampuni dan berbuat baik kepada siapa pun. Bahkan kepada Kolonel Javert yang membenci dan memusuhinya sekalipun. Ia tidak membalas dendam tetapi mengampuni.
Yesus ditanya oleh Petrus, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan!! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
“Wong sabar iku ana watese” kata orang. Orang sabar itu ada batasnya. Tetapi bagi Yesus kesabaran itu tiada batas. Sebagaimana mengampuni tidak dibatasi hanya tujuh kali. Tujuh puluh kali tujuh itu artinya banyak sekali, tak terhitung, tiada pernah berhenti. Demikianlah hati Tuhan, mengampuni tiada henti.
Pengalaman diampuni dan dikasihi sedemikian besar, membuat Jean Valjean berani mengasihi musuh-musuhnya. Daripada hidup menderita selamanya karena menyimpan dendam lebih baik mengampuni sekali, dan hidup damai untuk selamanya.
Mengambil kue dicelupkan ke kopi.
Diaduk sebentar terasa nikmatnya.
Betapa berat harus mengampuni.
Lebih berat memikul dendam selamanya.
Cawas, belum numpuk tugas….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Sep 11, 2020 | Renungan
PENDIRI Kompas Gramedia ini wafat pada tanggal sembilan bulan sembilan tahun duapuluh duapuluh. Jakob Oetama meninggalkan warisan jurnalisme fakta, jurnalisme makna.
Pemikirannya ini menjadi idealisme yang terus dihidupi dan dikembangkan sampai akhir hayatnya. Dia menjadi tokoh pers legendaris di negeri ini. Koran Kompas menjadi bukti perjuangan jurnalistiknya yang mampu mengarungi zaman di Indonesia. Kompas Gramedia berhasil mengembangkan unit-unit bisnis dengan 22.000 karyawan.
Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, humanis, penuh integritas, jujur dan rendah hati. Kalau pergi ke gereja dia selalu duduk di bangku belakang. “Merasa tidak pantas” katanya. Ia pernah mengenyam pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan dan sebentar di Seminari Tinggi.
Ia kemudian ingin menjadi guru seperti ayahnya. Tetapi pertemuan dengan Pastor Oudejans mengubah jalan hidupnya. “Guru sudah banyak, wartawan tidak” kata Pastor itu. Sejak itu dunia wartawan digelutinya sampai akhir.
Hari ini Tuhan Yesus berkata, “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan tidak ada pula pohon tidak baik yang menghasilkan buah baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik.”
Dari sosok seorang Jakob Oetama kita bisa melihat buah-buah yang baik yang dihasilkan dari teladan kehidupannya. Ia mengajari sebuah etos kerja bahwa “laborare est Orare.” Bekerja adalah berdoa atau beribadah. Manusia menampakkan martabatnya di dalam kerja.
Kepeduliannya pada manusia dan kemanusiaan sungguh dihayati. Para karyawan Kompas Gramedia merasa “diuwongke” oleh Pak Jakob. Seorang pensiunan percetakan Gramedia, Pak Suwadji mengatakan, “Pak Jakob itu seperti Semar. Dia itu sebenarnya Dewa Ismaya, tetapi mau turun ke dunia menjadi Semar untuk “ngemong” jadi pamong bagi manusia.”
Keluarga dan sekolah ibarat lahan tempat akar bertumbuh menjadi pohon. Kalau akarnya kuat, pohon juga akan bertumbuh dengan baik. Begitu pun dia akan menghasilkan buah yang baik juga.
Mari kita bangun keluarga yang baik. Dari keteladanan keluarga, kita bisa menghasilkan buah-buah baik bagi sesama.
Ada ibu mengintip dari luar kamar.
Ternyata mimpi dikejar-kejar teman.
Pribadi yang baik laksana mercu suar.
Menjadi pedoman dalam kegelapan.
Cawas, sebentar pun bisa…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr